alexametrics
26.6 C
Kudus
Monday, May 16, 2022

Garap Potensi Kopi Lokal, Pemkab Rembang Gandeng Kodim

REMBANG – Potensi kopi di Kabupaten Rembang terus dikembangkan. Ini dilakukan mengingat tingginya pecinta dan tradisi ngopi warga lokal. Agar potensi tergarap optimal. Pemkab berkolaborasi Kodim 0720 Rembang mengganas korporasi dengan diawali pelatihan.

Pesertanya mulai penyuluh lapangan, desa hingga Babinsa. Dari kecamatan Kragan, desa Woro dan Watu Pecah. Kecamatan Sluke, desa Bendo dan Rakitan. Kecamatan Lasem, desa Sendangcoyo dan Gowak. Kecamatan Pancur, desa Johogunung dan Criwik. Kecamatan Sedan, desa Dadapan serta Kecamatan Sale, desa Pakis.

Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Agus Iwan Haswanto menyampaikan Pemkab mendukung kegiatan pelatihan perkebunan. Terutama kopi.


Menurutnya, potensi luar biasa ini perlu terus dikembangkan masyarakat banyak. Khususnya petani kopi agar kesejahteraannya meningkat. “Maka kita gagas korporasi atau kerja sama dengan berbagai pihak,” jelasnya usai membuka acara pelatihan perkebunan tersebut.

Gus Wabup menyebutkan kegiatan yang digagas Dandim 0720 Rembang, Letkol Kav Donan Wahyu Sejati patut ditindaklanjuti dan rumuskan konsepnya bersama Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan).

”Ini untuk awal uji  klinik para petani. Ke depan akan dibangun lagi sistem yang lebih stabil soal budidaya kopi,” tandasnya.

Menurutnya, hingga kini produktivitas kopi lokal sangat kecil. Mestinya banyak lagi membangun kesadaran dari para petani untuk menanam biji kopi.  Seperti di desa Rakitan, Sluke yang sempat ia kunjungi.

Baca Juga :  Peserta CPNS Pemkab Rembang di Luar Negeri Menunggu Jadwal Ujian

”Di sana gairahnya kurang. Memang belum menemukan sistem yang pas. Bagaimana nanti kalau sudah panen, jualannya. Butuh banyak intervensi. Terutama soal lahan. Karena banyak dipakai milik Perhutani. Lahan pribadi hanya beberapa hektare,” bebernya.

Sementara, Dandim 0720 Rembang Letkol Kav Donan Wahyu Sejati menambahkan latar belakangan membangun korporasi atau ekosistem  kopi di Rembang. Karena potensi Rembang luar biasa.

”Dari yang suka kopi atau tradisi ngopi sangat besar. Tetapi penyokongnya tidak ada. Kebun kopi ada tapi tidak terlalu luas atau produksinya sangat sedikit,” katanya.

Dandim menyampaikan pada dasarnya selaku TNI, sesuai tugas pokok adalah bantu pemerintah daerah. Di mana kalau Babinsa akan membantu dari penyuluh lapangan, termasuk desa. Minimal Babinsa ikut selain belajar juga mereka ikut mengawasi.

”Sistem ini tidak bisa dibangun satu orang. Tapi beberapa pihak. Dari teman-teman Dintanpan, penyuluh, petani, Babinsa dan seluruhnya,” kuncinya.

Rinto pemateri sekaligus petani dan ketua kluster kopi Kabupaten Magelang menyampaikan tiap daerah memiliki potensi  untuk kopi. Namun, semua perlu membangun sistem agar terstandarisasi. Sehingga hasilnya itu berkualitas. “Rembang punya potensi penikmat kopi yang tinggi dan terdapat tanaman kopi di daerah selatan. Dari segi produktivitas masih cukup rendah. Tidak mampu suplai kebutuhan Rembang sendiri. Dan tanaman itu belum terawat dan pengolahannya ala kadarnya,” katanya. (noe/khim)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Potensi kopi di Kabupaten Rembang terus dikembangkan. Ini dilakukan mengingat tingginya pecinta dan tradisi ngopi warga lokal. Agar potensi tergarap optimal. Pemkab berkolaborasi Kodim 0720 Rembang mengganas korporasi dengan diawali pelatihan.

Pesertanya mulai penyuluh lapangan, desa hingga Babinsa. Dari kecamatan Kragan, desa Woro dan Watu Pecah. Kecamatan Sluke, desa Bendo dan Rakitan. Kecamatan Lasem, desa Sendangcoyo dan Gowak. Kecamatan Pancur, desa Johogunung dan Criwik. Kecamatan Sedan, desa Dadapan serta Kecamatan Sale, desa Pakis.

Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Agus Iwan Haswanto menyampaikan Pemkab mendukung kegiatan pelatihan perkebunan. Terutama kopi.

Menurutnya, potensi luar biasa ini perlu terus dikembangkan masyarakat banyak. Khususnya petani kopi agar kesejahteraannya meningkat. “Maka kita gagas korporasi atau kerja sama dengan berbagai pihak,” jelasnya usai membuka acara pelatihan perkebunan tersebut.

Gus Wabup menyebutkan kegiatan yang digagas Dandim 0720 Rembang, Letkol Kav Donan Wahyu Sejati patut ditindaklanjuti dan rumuskan konsepnya bersama Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan).

”Ini untuk awal uji  klinik para petani. Ke depan akan dibangun lagi sistem yang lebih stabil soal budidaya kopi,” tandasnya.

Menurutnya, hingga kini produktivitas kopi lokal sangat kecil. Mestinya banyak lagi membangun kesadaran dari para petani untuk menanam biji kopi.  Seperti di desa Rakitan, Sluke yang sempat ia kunjungi.

Baca Juga :  Kelola Dana Desa dengan Baik, Diganjar Penghargaan

”Di sana gairahnya kurang. Memang belum menemukan sistem yang pas. Bagaimana nanti kalau sudah panen, jualannya. Butuh banyak intervensi. Terutama soal lahan. Karena banyak dipakai milik Perhutani. Lahan pribadi hanya beberapa hektare,” bebernya.

Sementara, Dandim 0720 Rembang Letkol Kav Donan Wahyu Sejati menambahkan latar belakangan membangun korporasi atau ekosistem  kopi di Rembang. Karena potensi Rembang luar biasa.

”Dari yang suka kopi atau tradisi ngopi sangat besar. Tetapi penyokongnya tidak ada. Kebun kopi ada tapi tidak terlalu luas atau produksinya sangat sedikit,” katanya.

Dandim menyampaikan pada dasarnya selaku TNI, sesuai tugas pokok adalah bantu pemerintah daerah. Di mana kalau Babinsa akan membantu dari penyuluh lapangan, termasuk desa. Minimal Babinsa ikut selain belajar juga mereka ikut mengawasi.

”Sistem ini tidak bisa dibangun satu orang. Tapi beberapa pihak. Dari teman-teman Dintanpan, penyuluh, petani, Babinsa dan seluruhnya,” kuncinya.

Rinto pemateri sekaligus petani dan ketua kluster kopi Kabupaten Magelang menyampaikan tiap daerah memiliki potensi  untuk kopi. Namun, semua perlu membangun sistem agar terstandarisasi. Sehingga hasilnya itu berkualitas. “Rembang punya potensi penikmat kopi yang tinggi dan terdapat tanaman kopi di daerah selatan. Dari segi produktivitas masih cukup rendah. Tidak mampu suplai kebutuhan Rembang sendiri. Dan tanaman itu belum terawat dan pengolahannya ala kadarnya,” katanya. (noe/khim)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/