alexametrics
25.9 C
Kudus
Wednesday, May 25, 2022

Kemenag Canangkan Desa Soditan Jadi Desa Sadar Kerukunan

REMBANG  Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencanangkan Desa Soditan, Lasem, sebagai desa sadar kerukunan. Diharapkan menjadi model untuk desa-desa lain.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Musta’in menyampaikan, dipilihnya Desa Soditan karena kekayaan budaya.  Ada beragam etnis di desa itu. Mereka bisa hidup rukun. Bangunan-bangunan tempat ibadah berdiri kokoh dan berdekatan. Ada masjid, kelenteng, dan gereja. Masyarakatnya juga membaur.

Di desa ini memiliki beberapa tempat ikonik. Di antaranya ada gapura Al Fatihah yang dibangun sekitar 2019 lalu. Bangunan ini memiliki desain bernuansa alkulturasi. Tempat yang dipakai untuk poskamling ini, ada kaligrafi di bagian atasnya. Namun, font tulisan didesain sebagaimana aksara Tiongkok. Warna bangunan didominasi merah dan kuning, khas pecinan.


Pada 2019, gapura ini menjadi juara umum dalam lomba Gapura Cinta Negeri. Kreatornya diundang presiden.

Selain itu, di Desa Soditan juga punya Kelenteng Cu An Kiong. Saat Jawa Pos Radar Kudus meliput kegiatan kelenteng beberapa waktu lalu, warga sekitar tampak membaur.

Baca Juga :  Seniman Rembang Menyerah Hadapi Perpanjangan PPKM Pandemi Covid-19

Kebersamaan ini, bisa menjadi motivasi dalam membangun kerukunan. ”Di tempat ini (Desa Soditan, Red) kaya akan nilai-nilai adiluhung budaya yang tinggi. Dari berbagai etnis, agama, dan budaya yang bisa hidup guyub dan rukun,” jelas Musta’in.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir secara virtual saat pencanangan kemarin. Dia menyampaikan, Desa Soditan dipilih mengingat keberagaman kebudyaan, etnis, dan agama. ”Ini top. Kalau bicara Rembang, tokoh agama dan kiainya besar-besar. Semua berkumpul. Apalagi kalau saya datang ke Lasem. Peninggalannya hebat,” ujarnya.

Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ menuturkan, pencanangan desa sadar kerukunan mempunyai tujuan strategis untuk membina kerukunan antarumat beragama. Ia berharap, kegiatan ini tak sekadar seremonial. Harapannya, bisa menular ke desa-desa lain. Seperti di Desa Sumberjo. Yang menurutnya juga ada banyak warga Tionghoa dan terdapat kelenteng.

”Jadi, harapan kami ini hanya role model desa kerukunan yang kali pertama dipilih. Agar nantiny bisa diadopsi desa lain,” katanya. (lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

REMBANG  Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencanangkan Desa Soditan, Lasem, sebagai desa sadar kerukunan. Diharapkan menjadi model untuk desa-desa lain.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Musta’in menyampaikan, dipilihnya Desa Soditan karena kekayaan budaya.  Ada beragam etnis di desa itu. Mereka bisa hidup rukun. Bangunan-bangunan tempat ibadah berdiri kokoh dan berdekatan. Ada masjid, kelenteng, dan gereja. Masyarakatnya juga membaur.

Di desa ini memiliki beberapa tempat ikonik. Di antaranya ada gapura Al Fatihah yang dibangun sekitar 2019 lalu. Bangunan ini memiliki desain bernuansa alkulturasi. Tempat yang dipakai untuk poskamling ini, ada kaligrafi di bagian atasnya. Namun, font tulisan didesain sebagaimana aksara Tiongkok. Warna bangunan didominasi merah dan kuning, khas pecinan.

Pada 2019, gapura ini menjadi juara umum dalam lomba Gapura Cinta Negeri. Kreatornya diundang presiden.

Selain itu, di Desa Soditan juga punya Kelenteng Cu An Kiong. Saat Jawa Pos Radar Kudus meliput kegiatan kelenteng beberapa waktu lalu, warga sekitar tampak membaur.

Baca Juga :  Warga Luar Daerah Kena Tilang di Rembang, BIsa Urus Pakai Smartphone

Kebersamaan ini, bisa menjadi motivasi dalam membangun kerukunan. ”Di tempat ini (Desa Soditan, Red) kaya akan nilai-nilai adiluhung budaya yang tinggi. Dari berbagai etnis, agama, dan budaya yang bisa hidup guyub dan rukun,” jelas Musta’in.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir secara virtual saat pencanangan kemarin. Dia menyampaikan, Desa Soditan dipilih mengingat keberagaman kebudyaan, etnis, dan agama. ”Ini top. Kalau bicara Rembang, tokoh agama dan kiainya besar-besar. Semua berkumpul. Apalagi kalau saya datang ke Lasem. Peninggalannya hebat,” ujarnya.

Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ menuturkan, pencanangan desa sadar kerukunan mempunyai tujuan strategis untuk membina kerukunan antarumat beragama. Ia berharap, kegiatan ini tak sekadar seremonial. Harapannya, bisa menular ke desa-desa lain. Seperti di Desa Sumberjo. Yang menurutnya juga ada banyak warga Tionghoa dan terdapat kelenteng.

”Jadi, harapan kami ini hanya role model desa kerukunan yang kali pertama dipilih. Agar nantiny bisa diadopsi desa lain,” katanya. (lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/