alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Bertambah, Jumlah Sapi Positif Penyakit Mulut dan Kuku di Rembang Jadi 10 Ekor

REMBANG – Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Kabupaten Rembang menjadi sepuluh ekor per Minggu (15/5). Jumlah tersebut tak menutup kemungkinan bertambah mengingat hingga kini belum ada tempat karantina untuk sapi-sapi dari luar kota.

Untuk temuan terbaru dari lima peternak di Kecamatan Kaliori, Sarang, dan Kragan. Sapi-sapi itu berasal dari pasar Bojonegoro, Tuban, Jatirogo (Jatim), Pamotan dan lokal (lalin polang).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto menyampaikan ternak di Kaliori sudah sembuh. Kini ditemukan lagi ternak dengan gejala sakit sama di Kecamatan Sarang dan Kragan.


”Peternak ketika ada ternaknya ada keluhan tidak mau makan laporan petugas. Petugas lapangan kita tahu. Ada SOP kalau indikasi mengarah PMK laporan dokter hewan. Sudah dilaporkan, langsung dicek ke lapangan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus, Minggu (15/5).

Setelah itu peternak diwawancara. Memang rata-rata pembelian di pasar ada yang beberapa dari Jatirogo dan Tuban. Untuk yang lokal ada pembelian dari polang. Polang Rembang, dibeli lalu beberapa hari sakit. Sehingga setelah diagnose benar mengarah PMK diobati. “Kini dalam pemantauan. Untuk di Kaliori kondisi hewan sudah sehat. Selebihnya di dua kecamatan masih sakit. Data itu terupdate hingga Sabtu (14/5).

Baca Juga :  Miliki Senjata Api Enam Bulan, Pengawal Kades Terancam Hukuman Mati

Menurutnya, PMK yang baru rata-rata dua sampai tiga hari. Diketahui setelah Kaliori sekitar tanggal 7 Mei 2022. Sepekan setelah itu baru ada tambahan kasus. Masa inkubasi virus PMK agak lama, sampai 14 hari kadang dari pasar sehat, baru sepekan setelah itu gejala sakit.

Untuk mengantisipasi penambahan kasus, pihaknya akan mengecek pasar hewan Pamotan. Sebagai bahan pengambilan kebijakan selanjutnya. Sambil sapi yang statusnya masih sakit dilakukan isolasi, tidak boleh keluar masuk diluar kandang.

Begitupun pengunjung atau peternak atau masyarakat di sekililingnya tidak boleh masuk sembarangan. Untuk mengurangi potensi penularan. Karena cukup riskan.

“Karena tidak memiliki kandang karantina kalau dipaksa keluar pun tetapi berpotensi bergesekan ternak sekitarnya. Saat ini perlakuan kita stay atau isolasi tetap di kandang. Lalu disemprot sekeliling. Isolasi dan pengobatan. Yang terjadi di beberapa kasus sebelumnya pemulih cepat. 5 hari pulih,” imbuhnya. (noe/ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Kabupaten Rembang menjadi sepuluh ekor per Minggu (15/5). Jumlah tersebut tak menutup kemungkinan bertambah mengingat hingga kini belum ada tempat karantina untuk sapi-sapi dari luar kota.

Untuk temuan terbaru dari lima peternak di Kecamatan Kaliori, Sarang, dan Kragan. Sapi-sapi itu berasal dari pasar Bojonegoro, Tuban, Jatirogo (Jatim), Pamotan dan lokal (lalin polang).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto menyampaikan ternak di Kaliori sudah sembuh. Kini ditemukan lagi ternak dengan gejala sakit sama di Kecamatan Sarang dan Kragan.

”Peternak ketika ada ternaknya ada keluhan tidak mau makan laporan petugas. Petugas lapangan kita tahu. Ada SOP kalau indikasi mengarah PMK laporan dokter hewan. Sudah dilaporkan, langsung dicek ke lapangan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus, Minggu (15/5).

Setelah itu peternak diwawancara. Memang rata-rata pembelian di pasar ada yang beberapa dari Jatirogo dan Tuban. Untuk yang lokal ada pembelian dari polang. Polang Rembang, dibeli lalu beberapa hari sakit. Sehingga setelah diagnose benar mengarah PMK diobati. “Kini dalam pemantauan. Untuk di Kaliori kondisi hewan sudah sehat. Selebihnya di dua kecamatan masih sakit. Data itu terupdate hingga Sabtu (14/5).

Baca Juga :  Meski Cuaca Tak Bersahabat, Satgas Tetap Kebut Proyek Fisik TMMD

Menurutnya, PMK yang baru rata-rata dua sampai tiga hari. Diketahui setelah Kaliori sekitar tanggal 7 Mei 2022. Sepekan setelah itu baru ada tambahan kasus. Masa inkubasi virus PMK agak lama, sampai 14 hari kadang dari pasar sehat, baru sepekan setelah itu gejala sakit.

Untuk mengantisipasi penambahan kasus, pihaknya akan mengecek pasar hewan Pamotan. Sebagai bahan pengambilan kebijakan selanjutnya. Sambil sapi yang statusnya masih sakit dilakukan isolasi, tidak boleh keluar masuk diluar kandang.

Begitupun pengunjung atau peternak atau masyarakat di sekililingnya tidak boleh masuk sembarangan. Untuk mengurangi potensi penularan. Karena cukup riskan.

“Karena tidak memiliki kandang karantina kalau dipaksa keluar pun tetapi berpotensi bergesekan ternak sekitarnya. Saat ini perlakuan kita stay atau isolasi tetap di kandang. Lalu disemprot sekeliling. Isolasi dan pengobatan. Yang terjadi di beberapa kasus sebelumnya pemulih cepat. 5 hari pulih,” imbuhnya. (noe/ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/