alexametrics
24.3 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Inovasi Telponi UPT Puskesmas Sluke Bawa Rembang Masuk Tahap Penilaian II

REMBANG – Inovasi Telponi (Temokno-Laporno-Openi) UPT Puskesmas Sluke membawa Rembang masuk tahap penilaian tahap II penghargaan pembangunan daerah. Di Jateng  yang masuk ada 10 kabupaten/kota. Inovasi bidang kesehatan ini menjadi solusi menurunkan angka kematian ibu dan bayi (AKI dan AKB).

Senin lalu (14/2) verifikasi lapangan penilaian tahap II dilakukan. Tim langsung terjun ke Puskesmas Sluke. Kemudian turun ke desa Pangkalan. Untuk melihat pelaksanaan l di lapangan kegiatan Telponi.

Kepala Dinkes Rembang, dr Ali Syofi’I saat dikonfirmasi tidak menampik kabar positif tersebut. Kabupaten Rembang masuk finalis di tingkat Provinsi. Terkait kabupaten kota yang mengikuti lomba penghargaan pembangunan daerah.


”Bappeda mengajukan inovasi yang di bidang kesehatan. Inovasi Telponi. Kegiatan yang di inisiasi UPT Puskesmas Sluke,” jelasnya.

Senin lalu penilaian tahap II verifikasi lapangan kegiatan inovasi daerah. Sehingga di Rembang diarahkan langsung Puskesmas Sluke. Tim disambut. Kemudian diberikan paparan, ulasan oleh kepala puskesmas dan jajarannya.

Kemudian tanya jawab dengan puskesmas. Kemudian dengan unsur dari Forkompimcam dan kepala desa, kader kesehatan. Lalu dari forum kesehatan desa dihadirkan. Melakukan tanya jawab audiensi, wawancara terkait penilaian.

Baca Juga :  BPBD Rembang: Kerugian Sektor Pertanian Akibat Banjir Tembus Rp 1 Miliar

”Setelah dari puskesmas kunjungan  ke lapangan. Ke desa Pangkalan. Untuk melihat pelaksanaan riil di lapangan kegiatan Telponi,” jelasnya.

Kegiatan Telponi merupakan suatu kegiatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Ini merupakan sistem pemberdayaan kader desa untuk menemukan ibu-ibu hamil yang berisiko tinggi. Bayi yang sakit, bermasalah.

Lalu ada jejaring laporan ke penanggung jawab di desa, puskesmas. Ada pelaporan sistematis. Kemudian ada intervensinya. Openinya dalam rangka intervensi. Itu satu proses kesatuan.

Kemudian hasil kegiatan proaktif dan pendampingan terus menerus ibu hamil dan bayi di Sluke dampaknya terjadi penurunan signifikan. Gambarnya di awal kegiatan kematian bayi di Sluke ada 14 kematian. Lalu turun 10 kematian. 4 kematian. Di tahun 2021 turun tinggal 1 kematian bayi.”Kemudian kematian ibunya 0 di tahun 2021. Itu yang terpotret. Sehingga kemudian dianggap itu capaian positif. Lalu dijadikan inovasi,” imbuhnya. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Inovasi Telponi (Temokno-Laporno-Openi) UPT Puskesmas Sluke membawa Rembang masuk tahap penilaian tahap II penghargaan pembangunan daerah. Di Jateng  yang masuk ada 10 kabupaten/kota. Inovasi bidang kesehatan ini menjadi solusi menurunkan angka kematian ibu dan bayi (AKI dan AKB).

Senin lalu (14/2) verifikasi lapangan penilaian tahap II dilakukan. Tim langsung terjun ke Puskesmas Sluke. Kemudian turun ke desa Pangkalan. Untuk melihat pelaksanaan l di lapangan kegiatan Telponi.

Kepala Dinkes Rembang, dr Ali Syofi’I saat dikonfirmasi tidak menampik kabar positif tersebut. Kabupaten Rembang masuk finalis di tingkat Provinsi. Terkait kabupaten kota yang mengikuti lomba penghargaan pembangunan daerah.

”Bappeda mengajukan inovasi yang di bidang kesehatan. Inovasi Telponi. Kegiatan yang di inisiasi UPT Puskesmas Sluke,” jelasnya.

Senin lalu penilaian tahap II verifikasi lapangan kegiatan inovasi daerah. Sehingga di Rembang diarahkan langsung Puskesmas Sluke. Tim disambut. Kemudian diberikan paparan, ulasan oleh kepala puskesmas dan jajarannya.

Kemudian tanya jawab dengan puskesmas. Kemudian dengan unsur dari Forkompimcam dan kepala desa, kader kesehatan. Lalu dari forum kesehatan desa dihadirkan. Melakukan tanya jawab audiensi, wawancara terkait penilaian.

Baca Juga :  Sekda Rembang Tunggu Hari Baik Tempati Rumah Dinas

”Setelah dari puskesmas kunjungan  ke lapangan. Ke desa Pangkalan. Untuk melihat pelaksanaan riil di lapangan kegiatan Telponi,” jelasnya.

Kegiatan Telponi merupakan suatu kegiatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Ini merupakan sistem pemberdayaan kader desa untuk menemukan ibu-ibu hamil yang berisiko tinggi. Bayi yang sakit, bermasalah.

Lalu ada jejaring laporan ke penanggung jawab di desa, puskesmas. Ada pelaporan sistematis. Kemudian ada intervensinya. Openinya dalam rangka intervensi. Itu satu proses kesatuan.

Kemudian hasil kegiatan proaktif dan pendampingan terus menerus ibu hamil dan bayi di Sluke dampaknya terjadi penurunan signifikan. Gambarnya di awal kegiatan kematian bayi di Sluke ada 14 kematian. Lalu turun 10 kematian. 4 kematian. Di tahun 2021 turun tinggal 1 kematian bayi.”Kemudian kematian ibunya 0 di tahun 2021. Itu yang terpotret. Sehingga kemudian dianggap itu capaian positif. Lalu dijadikan inovasi,” imbuhnya. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/