alexametrics
29.8 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Empat Sapi di Rembang Positif Penyakit Mulut dan Kuku, Pedagang: Harga Daging Anjlok, Sepi Pembeli

REMBANG – Harga daging sapi di sejumlah pasar di Kabupaten Rembang terpantau anjlok. Penurunan tersebut terjadi sejak temuan pertama empat sapi dinyatakan positif penyakit mulut dan kuku (PMK), Kamis (12/5) lalu. Hal itu menyebabkan permintaan daging dan omzet pedagang pun menurun.

Baca Juga : Waspada! Empat Sapi di Rembang Positif Terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku, Ini Gejalanya

Penurunan itu dibenarkan oleh salah satu penjual daging sapi asal Kecamatan Pamotan, Ulfatun Niam. Ia mengaku setelah munculnya berita PMK, pembeli daging semakin menurun. Bahkan, untuk yang balungan peminatnya tidak ada.


Selain lesunya animo pembeli, harganya juga ikut merosot. Biasanya harganya tembus Rp 140 ribu per kilogram. Saat ini harganya Rp 110-120 ribu.

Niam mengaku, stok daging sapi didapatkan dari pasar. Sehari-hari dia menjual seekor daging sapi. Menjual mulai pukul 07.00 sampai 12.00. Saat ramai biasanya pukul 08.00 sampai 09.00. Dan langsung habis.

Namun sejak Sabtu (14/5), sampai tengah hari stok masih ada. Menurutnya, saat ini konsumen yang membeli hanya pelanggan. Rata-rata penjual bakso dan warung makan. Untuk konsumen biasa jarang. Sesekali pembeli dari orang yang punya gawe seperti nikahan.

Baca Juga :  Pemkab Rembang Naikkan Target PAD 2022 Sektor Perikanan Jadi Rp 15 Miliar

Terpisah, Menik, salah satu pembeli mengatakan, dia sering membeli daging. Untuk kebutuhan warung makan di Kecamatan Sulang. Dalam sehari biasanya membeli 8 kilogram. Kini, hanya membeli 4 kilogram. Menurun separonya.

”Agak sepi (yang beli di warung makan). Jarang pilih yang berbau daging. Biasa saya beli 6-8 kg. Sekarang hanya 4-5 kg. Menyesuaikan kebutuhan,” imbuhnya.

Sementara itu, Widya Setyowati, salah satu pembeli daging sapi di Pasar Kota meminta pemerintah meningkatkan pengawasan, agar daging yang dijual di pasaran berasal dari hewan ternak yang sehat.

Dikabarkan sebelumnya, Pemkab Rembang melalui Dinas Pertanian dan Pangan langsung bentuk tim reaksi cepat atasi PMK. Yakni, dengan membagi empat zonasi kecamatan.

Nantinya, mereka akan melayani masyarakat. Jika ada keluhan atau diagnosa mendekati menyerupai PMK akan dilaporkan dokter hewan bersangkutan. Karena yang perlu diantisipasi saat ini ialah mobilitas ternak dari sejumlah pasar. (noe/lin/khim)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Harga daging sapi di sejumlah pasar di Kabupaten Rembang terpantau anjlok. Penurunan tersebut terjadi sejak temuan pertama empat sapi dinyatakan positif penyakit mulut dan kuku (PMK), Kamis (12/5) lalu. Hal itu menyebabkan permintaan daging dan omzet pedagang pun menurun.

Baca Juga : Waspada! Empat Sapi di Rembang Positif Terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku, Ini Gejalanya

Penurunan itu dibenarkan oleh salah satu penjual daging sapi asal Kecamatan Pamotan, Ulfatun Niam. Ia mengaku setelah munculnya berita PMK, pembeli daging semakin menurun. Bahkan, untuk yang balungan peminatnya tidak ada.

Selain lesunya animo pembeli, harganya juga ikut merosot. Biasanya harganya tembus Rp 140 ribu per kilogram. Saat ini harganya Rp 110-120 ribu.

Niam mengaku, stok daging sapi didapatkan dari pasar. Sehari-hari dia menjual seekor daging sapi. Menjual mulai pukul 07.00 sampai 12.00. Saat ramai biasanya pukul 08.00 sampai 09.00. Dan langsung habis.

Namun sejak Sabtu (14/5), sampai tengah hari stok masih ada. Menurutnya, saat ini konsumen yang membeli hanya pelanggan. Rata-rata penjual bakso dan warung makan. Untuk konsumen biasa jarang. Sesekali pembeli dari orang yang punya gawe seperti nikahan.

Baca Juga :  Geliat Pabrik di Rembang Digenjot, Investor Butuh Ribuan Tenaga Kerja

Terpisah, Menik, salah satu pembeli mengatakan, dia sering membeli daging. Untuk kebutuhan warung makan di Kecamatan Sulang. Dalam sehari biasanya membeli 8 kilogram. Kini, hanya membeli 4 kilogram. Menurun separonya.

”Agak sepi (yang beli di warung makan). Jarang pilih yang berbau daging. Biasa saya beli 6-8 kg. Sekarang hanya 4-5 kg. Menyesuaikan kebutuhan,” imbuhnya.

Sementara itu, Widya Setyowati, salah satu pembeli daging sapi di Pasar Kota meminta pemerintah meningkatkan pengawasan, agar daging yang dijual di pasaran berasal dari hewan ternak yang sehat.

Dikabarkan sebelumnya, Pemkab Rembang melalui Dinas Pertanian dan Pangan langsung bentuk tim reaksi cepat atasi PMK. Yakni, dengan membagi empat zonasi kecamatan.

Nantinya, mereka akan melayani masyarakat. Jika ada keluhan atau diagnosa mendekati menyerupai PMK akan dilaporkan dokter hewan bersangkutan. Karena yang perlu diantisipasi saat ini ialah mobilitas ternak dari sejumlah pasar. (noe/lin/khim)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/