alexametrics
24.2 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Merasa Jadi ”Anak Tiri” Vaksinasi, Bupati Rembang Protes PPKM Level 3

REMBANG  Bupati Rembang Abdul Hafidz meluapkan perasaannya terhadap minimnya pendistribusian vaksin di wilayahnya. Ia bahkan menyebut Rembang seperti anak tiri dan menjadi ”korban” kenaikan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Sebagaimana diketahui, capaian vaksinasi menjadi indikator leveling PPKM. Untuk kembali ke level II, capaian dosis tahap I harus mencapai 50 persen. Selain itu, sasaran masyarakat usia lanjut (lansia) capaian harus sampai 40 persen.

Perasaannya ini diungkapkan saat menerima kunjungan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam acara pencanangan pelayanan hipertensi kemarin. Hafidz mengatakan, saat ini Rembang naik level PPKM. Sebelumnya berada di level II. Sekarang menjadi level III.


Kenaikan level ini, dinilai orang nomor 1 di Rembang itu sebagai ”kecelakaan”. Harusnya, Rembang masih bertengger di level II. ”Hanya karena vaksin yang tidak terpenuhi. Akibat distribusi yang tidak merata, jadi korban akhirnya,” ungkapnya.

Sebab, jika melihat pelaksanaan vaksinasi di Kota Garam, ketika ketersediaan vaksin mencukupi, tenaga vaksinator bisa melaksankan 10 ribu suntukan per hari. Apabila diberi jumlah vaksin yang cukup, tentu optimistis sebelum akhir Desember sudah bisa mencapai 70 persan dari sasaran vaksinasi.

Baca Juga :  Rembang Butuh Perda untuk Tingkatkan PAD Sektor Pariwisata

”Oktober sudah kami selesaikan. Masyarakat antusias sekali. Dari sisi geografis mungkin Rembang ini jauh dari perkotaan. Jadi, kami (Rembang, Red) jadi anak tiri,” canda bupati.

Ia merasakan distribusi vaksin di Rembang saat ini masih minim. Terkadang menerima sekitar 1.000 sampai 2 ribu. ”Ya kapan selesainya,” ucap pria asal Kecamatan Pamotan itu. Beberapa waktu lalu, pemkab sempat meminta pasokan vaksin kepada pemerintah provinsi dan menerima hampir 70 ribu. ”Habis,” tambahnya.

Dia menegaskan, agar pernyataannya ini bisa disampaikan kepada Kementerian Kesehatan. Bahwa daerah menjadi ”korban” akibat minimnya distribusi vaksin. Sebab secara kesiapan, Pemkab Rembang sudah mengaku siap untuk menggenjot vaksinasi. Begitu pun antusiasme masyarakat yang diklaim sudah tinggi.

”Ini ngudo roso. Mumpung ono wong kementerian. Mumpung ono wong nduwur-nduwur,” ungkapnya. (lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

REMBANG  Bupati Rembang Abdul Hafidz meluapkan perasaannya terhadap minimnya pendistribusian vaksin di wilayahnya. Ia bahkan menyebut Rembang seperti anak tiri dan menjadi ”korban” kenaikan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Sebagaimana diketahui, capaian vaksinasi menjadi indikator leveling PPKM. Untuk kembali ke level II, capaian dosis tahap I harus mencapai 50 persen. Selain itu, sasaran masyarakat usia lanjut (lansia) capaian harus sampai 40 persen.

Perasaannya ini diungkapkan saat menerima kunjungan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam acara pencanangan pelayanan hipertensi kemarin. Hafidz mengatakan, saat ini Rembang naik level PPKM. Sebelumnya berada di level II. Sekarang menjadi level III.

Kenaikan level ini, dinilai orang nomor 1 di Rembang itu sebagai ”kecelakaan”. Harusnya, Rembang masih bertengger di level II. ”Hanya karena vaksin yang tidak terpenuhi. Akibat distribusi yang tidak merata, jadi korban akhirnya,” ungkapnya.

Sebab, jika melihat pelaksanaan vaksinasi di Kota Garam, ketika ketersediaan vaksin mencukupi, tenaga vaksinator bisa melaksankan 10 ribu suntukan per hari. Apabila diberi jumlah vaksin yang cukup, tentu optimistis sebelum akhir Desember sudah bisa mencapai 70 persan dari sasaran vaksinasi.

Baca Juga :  Terpeleset, Remaja di Sumber Rembang Tewas Tenggelam di Embung

”Oktober sudah kami selesaikan. Masyarakat antusias sekali. Dari sisi geografis mungkin Rembang ini jauh dari perkotaan. Jadi, kami (Rembang, Red) jadi anak tiri,” canda bupati.

Ia merasakan distribusi vaksin di Rembang saat ini masih minim. Terkadang menerima sekitar 1.000 sampai 2 ribu. ”Ya kapan selesainya,” ucap pria asal Kecamatan Pamotan itu. Beberapa waktu lalu, pemkab sempat meminta pasokan vaksin kepada pemerintah provinsi dan menerima hampir 70 ribu. ”Habis,” tambahnya.

Dia menegaskan, agar pernyataannya ini bisa disampaikan kepada Kementerian Kesehatan. Bahwa daerah menjadi ”korban” akibat minimnya distribusi vaksin. Sebab secara kesiapan, Pemkab Rembang sudah mengaku siap untuk menggenjot vaksinasi. Begitu pun antusiasme masyarakat yang diklaim sudah tinggi.

”Ini ngudo roso. Mumpung ono wong kementerian. Mumpung ono wong nduwur-nduwur,” ungkapnya. (lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/