alexametrics
27.2 C
Kudus
Thursday, August 4, 2022

Ada 1.000 Penderita HIV di Rembang, 207 Meninggal Dunia

REMBANG – Para konselor Human Immunodeficiency Virus  (HIV) Kabupaten Rembang turun gunung melakukan deteksi dini dengan memberikan sosialisasi dan edukasi pada warga. Aksi digelar di Karang Jahe Beach, Punjulharjo tersebut, juga memberikan memberi pemahaman agar tidak terjadi stigma negatif pada penderita.

Di Kabupaten Rembang HIV/AIDS masih terus ditemukan. Penyakit mematikan ini kondisinya cukup mengkhawatirkan. Tercatat sejak 2014 hingga sekarang hampir 1.000 penderita dan 207 penderita diantarnya meninggal dunia.

Kepala Dinkes Rembang Ali Syofi’I menyampaikan perhimpunan konselor HIV  akan terus memberikan edukasi. Atau semacam konseling kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan untuk pencegahan HIV/AIDS.


Diantarnya melakukan semacam pemeriksaan deteksi HIV-AIDS. Harapannya sejalan program pemerintah. Pertama eliminasi HIV-AIDS di Indonesia. Sedapat mungkin ditemukan kasus baru.

”Ketika ditemukan sedini mungkin. Untuk kemudian diobati. Dengan demikian angka kesakitan dapat ditekan. Angka kematian pun bisa diturunkan,” ujarnya saat hadiri memperingati hari AIDS sedunia yang dikemas lewat germas (gerakan masyarakat hidup sehat). Ada senam, pemeriksaan sekaligus sosialiasi dan edukasi. Itupun hanya terbatas.

Baca Juga :  Wabup Sesalkan Kasus Sexy Dancer Bermodus Pesta Ultah di Hotel Rembang

Selain mengobati, menurutnya edukasi dan sosialisasi dalam rangka menghilangkan stigma yang ada di masyarakat terkait HIV/AIDS harus terus dilakukan. Hal itu penting agar mereka yang terjangkit tidak merasa dikucilkan. “Jumlah kasus HIV/AIDS hingga tahun 2021 sebanyak 942 kasus. Di mana 650 merupakan kasus AIDS. Kasus HIV sebanyak 292. Dari 942 kasus. 207 telah meninggal dunia. Itu kasus kematian tinggi. Ke depan berupaya agar kasus kematian dapat ditekan serendah mungkin,” tandasnya.

Untuk kasus terbanyak ada tiga kecamatan. Pertama Lasem, Rembang dan Kragan.”Selama ini di Kabupaten Rembang 93 persen merupakan kasus penularan secara  heterosexual. Artinya hubungan seksual dari PSK maupun homo seksual. Penularan transfusi atau jarum suntik sangat rendah,” ujarnya.

Sejauh ini di Kota Garam masih didominasi berbasis rumah tangga. Karena suami atau istri atau pasangan kerja di luar. Melakukan kegiatan berisiko. Sehingga kemudian pulang terkena diri sendiri maupun pasanganya.   (noe/ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Para konselor Human Immunodeficiency Virus  (HIV) Kabupaten Rembang turun gunung melakukan deteksi dini dengan memberikan sosialisasi dan edukasi pada warga. Aksi digelar di Karang Jahe Beach, Punjulharjo tersebut, juga memberikan memberi pemahaman agar tidak terjadi stigma negatif pada penderita.

Di Kabupaten Rembang HIV/AIDS masih terus ditemukan. Penyakit mematikan ini kondisinya cukup mengkhawatirkan. Tercatat sejak 2014 hingga sekarang hampir 1.000 penderita dan 207 penderita diantarnya meninggal dunia.

Kepala Dinkes Rembang Ali Syofi’I menyampaikan perhimpunan konselor HIV  akan terus memberikan edukasi. Atau semacam konseling kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan untuk pencegahan HIV/AIDS.

Diantarnya melakukan semacam pemeriksaan deteksi HIV-AIDS. Harapannya sejalan program pemerintah. Pertama eliminasi HIV-AIDS di Indonesia. Sedapat mungkin ditemukan kasus baru.

”Ketika ditemukan sedini mungkin. Untuk kemudian diobati. Dengan demikian angka kesakitan dapat ditekan. Angka kematian pun bisa diturunkan,” ujarnya saat hadiri memperingati hari AIDS sedunia yang dikemas lewat germas (gerakan masyarakat hidup sehat). Ada senam, pemeriksaan sekaligus sosialiasi dan edukasi. Itupun hanya terbatas.

Baca Juga :  Adu Banteng Yamaha R-15 vs Megapro di Depan SPBU Gajah Mada Rembang, Begini Kronologinya

Selain mengobati, menurutnya edukasi dan sosialisasi dalam rangka menghilangkan stigma yang ada di masyarakat terkait HIV/AIDS harus terus dilakukan. Hal itu penting agar mereka yang terjangkit tidak merasa dikucilkan. “Jumlah kasus HIV/AIDS hingga tahun 2021 sebanyak 942 kasus. Di mana 650 merupakan kasus AIDS. Kasus HIV sebanyak 292. Dari 942 kasus. 207 telah meninggal dunia. Itu kasus kematian tinggi. Ke depan berupaya agar kasus kematian dapat ditekan serendah mungkin,” tandasnya.

Untuk kasus terbanyak ada tiga kecamatan. Pertama Lasem, Rembang dan Kragan.”Selama ini di Kabupaten Rembang 93 persen merupakan kasus penularan secara  heterosexual. Artinya hubungan seksual dari PSK maupun homo seksual. Penularan transfusi atau jarum suntik sangat rendah,” ujarnya.

Sejauh ini di Kota Garam masih didominasi berbasis rumah tangga. Karena suami atau istri atau pasangan kerja di luar. Melakukan kegiatan berisiko. Sehingga kemudian pulang terkena diri sendiri maupun pasanganya.   (noe/ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/