alexametrics
24.4 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Buntut Perkara Pencurian Kayu, Kades Sampung Divonis Sebulan Kurungan

REMBANG – Perkara pencurian Kayu Jati di Desa Sampung sudah divonis kemarin. Dua terdakwa Kades Sampang Selamet Riadi diganjar kurungan satu bulan. Sementara penadah dikurung dua bulan. Vonis ini lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa sebelumnya, yang menjerat kades dua bulan kurungan.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Rembang Eko Hartoyo menyampaikan, para Korban melaporkan tindakan pencurian. Dan, dua orang yang menjadi tersangka pencurian masih ada hubungan saudara dengan korban. Mereka tercatat dalam nomor perkara 78/Pid.B/2021/PN Rbg

Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, dari kasus ini juga menyeret nama satu orang lagi. Dalam website PN Rembang, nama Miftahul Akhsan terdaftar dalam nomor perkara yang berbeda. Nomor 77/Pid.B/2021/PN Rbg dengan jenis perkara Penadahan, Penerbitan dan Pencetakan.


Lebih lanjut Eko menjelaskan, perkara ini bergulir ke pengadilan sebab pihaknya menilai perkara sudah lengkap dan akan membuktikan terkait pasal pencurian. “Kalau memotong kayu, tersangka harus meminta izin kepada ahli waris karena masih menjadi hak bersama. Artinya masih ada sengketa di sana, karena memang belum diwaris berdasarkan buku tanah yang ada di desa,” katanya.

Terkait kerugian berdasarkan keterangan saksi yang berasal dari pegawai perhutani, kata Eko, dari 19 kayu jati ditaksir Rp 8,1 juta. Dalam hal ini terdakwa Selamet mengambil empat batang sementara Miftahudin mengambil 15 batang.

Baca Juga :  Usai Longsor, Perbaikan Jalan Rembang-Blora Belum Permanen

Selanjutnya jaksa mengajukan tuntutan dua bulan pidana. Tuntutan itu mempertimbangkan fakta dari awal penyidikan sampai persidangan. Diketahui bahwa sebidang tanah tersebut masih belum diwariskan. Sehingga dinilai tanah tersebut masih milik bersama.

Pertimbangan lain dari tuntutan tersebut untuk menjaga keharmonisan di masyarakat. Mengingat para terdakwa dan korban masih saudara sepupu.

Sementara, saat sidang putusan kemarin, ada satu dari tiga hakim yang tidak sependapat dengan jaksa menganggap dalam perkara ini lebih tept dibawa ke ranah perdata. Karena masih ada sengketa kepemilikan.

“Untuk Pak Selamet, tuntutan dua bulan dijatuhi satu bulan. Uang penjualan belum dinikmati hasilnya. Masih bisa dilakukan penyitaan dan dikembalikan kepada keluarga korban. Pak Selametnya itu adalah seorang kepala desa,” jelasnya.

Untuk terdakwa Miftahudin, lanjut Eko, dijatuhi pidana dua bulan. Sebab ia menikmati hasil 15 pohon. “Uangnya sudah habis,” jelasnya.

Sementara, terkait perkara penadahan, Eko menjelaskan, karena salah satu hakim menyatakan bukan pidana pencurian, maka tersangka Miftahul Akhsan dijatuhi pidana satu bulan. “Dalam persidangan tadi, para terdakwa menyatakan menerima. Demikian hanya penuntut umum. Jadi perkara ini sudah inkrah,” imbuhnya. (ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

REMBANG – Perkara pencurian Kayu Jati di Desa Sampung sudah divonis kemarin. Dua terdakwa Kades Sampang Selamet Riadi diganjar kurungan satu bulan. Sementara penadah dikurung dua bulan. Vonis ini lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa sebelumnya, yang menjerat kades dua bulan kurungan.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Rembang Eko Hartoyo menyampaikan, para Korban melaporkan tindakan pencurian. Dan, dua orang yang menjadi tersangka pencurian masih ada hubungan saudara dengan korban. Mereka tercatat dalam nomor perkara 78/Pid.B/2021/PN Rbg

Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, dari kasus ini juga menyeret nama satu orang lagi. Dalam website PN Rembang, nama Miftahul Akhsan terdaftar dalam nomor perkara yang berbeda. Nomor 77/Pid.B/2021/PN Rbg dengan jenis perkara Penadahan, Penerbitan dan Pencetakan.

Lebih lanjut Eko menjelaskan, perkara ini bergulir ke pengadilan sebab pihaknya menilai perkara sudah lengkap dan akan membuktikan terkait pasal pencurian. “Kalau memotong kayu, tersangka harus meminta izin kepada ahli waris karena masih menjadi hak bersama. Artinya masih ada sengketa di sana, karena memang belum diwaris berdasarkan buku tanah yang ada di desa,” katanya.

Terkait kerugian berdasarkan keterangan saksi yang berasal dari pegawai perhutani, kata Eko, dari 19 kayu jati ditaksir Rp 8,1 juta. Dalam hal ini terdakwa Selamet mengambil empat batang sementara Miftahudin mengambil 15 batang.

Baca Juga :  Semen Gresik Luncurkan Kejar K3 untuk Perkuat Keunggulan Operasional

Selanjutnya jaksa mengajukan tuntutan dua bulan pidana. Tuntutan itu mempertimbangkan fakta dari awal penyidikan sampai persidangan. Diketahui bahwa sebidang tanah tersebut masih belum diwariskan. Sehingga dinilai tanah tersebut masih milik bersama.

Pertimbangan lain dari tuntutan tersebut untuk menjaga keharmonisan di masyarakat. Mengingat para terdakwa dan korban masih saudara sepupu.

Sementara, saat sidang putusan kemarin, ada satu dari tiga hakim yang tidak sependapat dengan jaksa menganggap dalam perkara ini lebih tept dibawa ke ranah perdata. Karena masih ada sengketa kepemilikan.

“Untuk Pak Selamet, tuntutan dua bulan dijatuhi satu bulan. Uang penjualan belum dinikmati hasilnya. Masih bisa dilakukan penyitaan dan dikembalikan kepada keluarga korban. Pak Selametnya itu adalah seorang kepala desa,” jelasnya.

Untuk terdakwa Miftahudin, lanjut Eko, dijatuhi pidana dua bulan. Sebab ia menikmati hasil 15 pohon. “Uangnya sudah habis,” jelasnya.

Sementara, terkait perkara penadahan, Eko menjelaskan, karena salah satu hakim menyatakan bukan pidana pencurian, maka tersangka Miftahul Akhsan dijatuhi pidana satu bulan. “Dalam persidangan tadi, para terdakwa menyatakan menerima. Demikian hanya penuntut umum. Jadi perkara ini sudah inkrah,” imbuhnya. (ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/