alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Serunya Liburan di KJB Rembang: Menyusuri KJB dengan ATV hingga Swafoto di Perahu Hias

SEMILIR angin dan deru ombak di Karang Jahe Beach (KJB), Punjulharjo, Rembang menemani wisatawan. Mulai anak-anak, remaja hingga orang tua. Ada yang sekadar makan di bawah cemara. Juga yang ramai-ramai sewa ATV hingga kereta.

Semua tampak riang. Beberapa berlarian. Tidak jarang mainan pasir laut. Hingga beberapa orang sibuk swafoto.  Saat mata memandang ke arah timur, hamparan gunung Lasem tampak jelas. Apalagi cuaca terik.

Dari kejauhan marcusuar hingga cerobong PLTU juga tampak. Inilah yang melatarbelakangi Linda beserta keluarga liburan ke KJB. ”Lautnya bersih. Semakin ke utara tidak dalam, justru landai,” kata salah satu pengunjung rombongan dari Kasreman, Ngawi itu.


Mereka sengaja berangkat pagi. Motoran. Berangkat pukul 07.00. Perjalanan memakan waktu 3,5 jam.  Iuran beli bensin Rp 50 ribu. Ke KJB berawal searching. Sesampainya di lokasi, foto-foto lalu ke wahana ATV. Mereka puas sembari menyusuri pantai.

Bagi yang tidak bisa berenang KJB tepat untuk gebyuran. Kalau yang masih was-was bisa sewa pelampung. Baik dari ban maupun karet. Untuk berenang aman.

Wartawan koran ini sempat mengamati beberapa pengunjung. Setelah asik foto-foto, makan dan jeburan mereka dimanjakan aneka wahana. Tidak ada perubahan signifikan. Masih sama hanya ATV, odong-odong, perahu karet, dan wisata.

Serta tambahan spot baru perahu hias. Posisi spot itu di sebelah timur. Perahu merupakan milik warga setempat. Kebetulan rusak. Diabadikan. Kemudian dicat. Jadi menarik. Setelah itu ditempatkan di pinggiran pantai. Menambah wahana spot swafoto.

FOTO BERSAMA: Rombongan wisataan saat berfoto bersama di landmark KJB Rembang kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Tidak salah destinasi pantai tersebut masih favorit jadi jujukan.  Bahkan urutan teratas dengan kunjungan 56.176 wisatawan.

Donasinya senilai Rp 150 juta. Donasi diperoleh dari tiket masuk saat Lebaran. Diberlakukan biaya tambahan. Sudah disalurkan. Untuk masjid Nurul Istiqomah, Dukuh Kiringan, Punjulharjo senilai Rp 70 juta dan Masjid Dukuh Nggodo, Punjulharjo Rp 80 juta.

Tak hanya wisatawan yang senang. Pengelola KJB ketiban rejeki. Cukup masuk akal sehari tidak kurang 3.000 wisatawan datang. Peningkatanya tiga kali lipat dibandingkan saat pandemi.

Baca Juga :  Penanganan Stunting, Pemkab Rembang Gelontorkan Dana Rp 15 Miliar

Oleh pengelola hasil capaian penjualan tiket kala itu sebagian untuk donasi pembangunan dua masjid.

Ketua BUMDes Abimantrana, Aang Koirudin mengaku kunjungan wisatawan sedikit ramai. Dibandingkan hari-hari biasa. Hampir menyerupai hari Sabtu. Katakanlah Minggu bisa full, akhir pekan bisa tembus diangka 70 persen kapasitas.

”Pengunjung sekira 3000 wisatawan. Sebelum libaran rata-rata 1000 wisatawan,” pengakuan kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Ulil salah satu pedagang mengaku senang ekonomi mulai pulih. Omzet naik. Dari usaha yang dijalankan jualan balon, toilet dan kios baju. Utamanya hari Sabtu dan Minggu, omzet naik dua kali lipat.

”Saat pandemi hampir gulung tikar. Alhamdulillah sudah mulai normal kembali,” pengakuanya.

Selama ini KJB masih didominasi pengunjung lokal Karisidenan Pati dan Grobogan. Mulai tampak ramai pukul 09.00 pagi. Puncaknya pukul 15.00. ada yang membawa sepeda motor, mobil, elf hingga bus.

Untuk tiket masuk sepeda motor Rp 5 ribu, mobil Rp 15 ribu. Dalam sehari rata-rata pendapatan pengelola Rp 3-5 juta. Untuk memberikan kenyamanan pengunjung beberapa tambahan kantong parkir disiapkan.

”Penataan belum ada. Kita ada tambahan lokasi parkir sepeda motor. Daya tampung sepeda motor saat ini bisa 5000 unit sepeda motor. Mobil didalam masih bisa, kalau sudah penuh otomatis diarahkan diluar oleh petugas sebelum pintu masuk,” imbuhnya.

Saat ini KJB baru booming pengunjung dari Jawa Timur. Dari Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Ngawi, dan Ngajuk. Ini tidak lepas dari kabar getok tular. Mulanya satu elf atau bus merasa nyaman akkhirnya bertambah.

”Menunya banyak. Naik odong-odong, ATV, trail. Bisa mandi, naik perahu karet. Otomatis menarik tetangga sendiri dan kampung,” kata unit manajer KJB, Abdul Rokim.

Selain itu pengelola juga memberikan apresiasi dari tamu-tamu khusus. Pemberian voucher belanja dengan nominal sepantasnya. Untuk minum kopi. Atas dedikasinya berkaitan pengelolaan wisata. (noe/war)






Reporter: Wisnu Aji

SEMILIR angin dan deru ombak di Karang Jahe Beach (KJB), Punjulharjo, Rembang menemani wisatawan. Mulai anak-anak, remaja hingga orang tua. Ada yang sekadar makan di bawah cemara. Juga yang ramai-ramai sewa ATV hingga kereta.

Semua tampak riang. Beberapa berlarian. Tidak jarang mainan pasir laut. Hingga beberapa orang sibuk swafoto.  Saat mata memandang ke arah timur, hamparan gunung Lasem tampak jelas. Apalagi cuaca terik.

Dari kejauhan marcusuar hingga cerobong PLTU juga tampak. Inilah yang melatarbelakangi Linda beserta keluarga liburan ke KJB. ”Lautnya bersih. Semakin ke utara tidak dalam, justru landai,” kata salah satu pengunjung rombongan dari Kasreman, Ngawi itu.

Mereka sengaja berangkat pagi. Motoran. Berangkat pukul 07.00. Perjalanan memakan waktu 3,5 jam.  Iuran beli bensin Rp 50 ribu. Ke KJB berawal searching. Sesampainya di lokasi, foto-foto lalu ke wahana ATV. Mereka puas sembari menyusuri pantai.

Bagi yang tidak bisa berenang KJB tepat untuk gebyuran. Kalau yang masih was-was bisa sewa pelampung. Baik dari ban maupun karet. Untuk berenang aman.

Wartawan koran ini sempat mengamati beberapa pengunjung. Setelah asik foto-foto, makan dan jeburan mereka dimanjakan aneka wahana. Tidak ada perubahan signifikan. Masih sama hanya ATV, odong-odong, perahu karet, dan wisata.

Serta tambahan spot baru perahu hias. Posisi spot itu di sebelah timur. Perahu merupakan milik warga setempat. Kebetulan rusak. Diabadikan. Kemudian dicat. Jadi menarik. Setelah itu ditempatkan di pinggiran pantai. Menambah wahana spot swafoto.

FOTO BERSAMA: Rombongan wisataan saat berfoto bersama di landmark KJB Rembang kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Tidak salah destinasi pantai tersebut masih favorit jadi jujukan.  Bahkan urutan teratas dengan kunjungan 56.176 wisatawan.

Donasinya senilai Rp 150 juta. Donasi diperoleh dari tiket masuk saat Lebaran. Diberlakukan biaya tambahan. Sudah disalurkan. Untuk masjid Nurul Istiqomah, Dukuh Kiringan, Punjulharjo senilai Rp 70 juta dan Masjid Dukuh Nggodo, Punjulharjo Rp 80 juta.

Tak hanya wisatawan yang senang. Pengelola KJB ketiban rejeki. Cukup masuk akal sehari tidak kurang 3.000 wisatawan datang. Peningkatanya tiga kali lipat dibandingkan saat pandemi.

Baca Juga :  Dilirik, Investor di Rembang Butuh 50 Ha untuk Industri Padat Karya

Oleh pengelola hasil capaian penjualan tiket kala itu sebagian untuk donasi pembangunan dua masjid.

Ketua BUMDes Abimantrana, Aang Koirudin mengaku kunjungan wisatawan sedikit ramai. Dibandingkan hari-hari biasa. Hampir menyerupai hari Sabtu. Katakanlah Minggu bisa full, akhir pekan bisa tembus diangka 70 persen kapasitas.

”Pengunjung sekira 3000 wisatawan. Sebelum libaran rata-rata 1000 wisatawan,” pengakuan kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Ulil salah satu pedagang mengaku senang ekonomi mulai pulih. Omzet naik. Dari usaha yang dijalankan jualan balon, toilet dan kios baju. Utamanya hari Sabtu dan Minggu, omzet naik dua kali lipat.

”Saat pandemi hampir gulung tikar. Alhamdulillah sudah mulai normal kembali,” pengakuanya.

Selama ini KJB masih didominasi pengunjung lokal Karisidenan Pati dan Grobogan. Mulai tampak ramai pukul 09.00 pagi. Puncaknya pukul 15.00. ada yang membawa sepeda motor, mobil, elf hingga bus.

Untuk tiket masuk sepeda motor Rp 5 ribu, mobil Rp 15 ribu. Dalam sehari rata-rata pendapatan pengelola Rp 3-5 juta. Untuk memberikan kenyamanan pengunjung beberapa tambahan kantong parkir disiapkan.

”Penataan belum ada. Kita ada tambahan lokasi parkir sepeda motor. Daya tampung sepeda motor saat ini bisa 5000 unit sepeda motor. Mobil didalam masih bisa, kalau sudah penuh otomatis diarahkan diluar oleh petugas sebelum pintu masuk,” imbuhnya.

Saat ini KJB baru booming pengunjung dari Jawa Timur. Dari Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Ngawi, dan Ngajuk. Ini tidak lepas dari kabar getok tular. Mulanya satu elf atau bus merasa nyaman akkhirnya bertambah.

”Menunya banyak. Naik odong-odong, ATV, trail. Bisa mandi, naik perahu karet. Otomatis menarik tetangga sendiri dan kampung,” kata unit manajer KJB, Abdul Rokim.

Selain itu pengelola juga memberikan apresiasi dari tamu-tamu khusus. Pemberian voucher belanja dengan nominal sepantasnya. Untuk minum kopi. Atas dedikasinya berkaitan pengelolaan wisata. (noe/war)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/