alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Inovasi Baru, Lahan Padi Organik di Rembang Hasilkan 11 Ton Per Hektare

REMBANG – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Rembang mulai melirik lahan pertanian untuk diterapkan teknologi pupuk organik. Ke depan akan ada pemetaan kawasan untuk ini.

Inovasi bercocok tanam dengan pupuk organik sudah ditetapkan oleh Kurdianto, warga Kedungasem, Sumber. Untuk campuran pertumbuhan vegetatif pemacu pertumbuhan, Ia memakai taoge atau buah maja. Sistem untuk generatif campurannya memakai umbi-umbian yang juga bisa mencegah adanya jamur.

“Dari awal sistem kocor (disiram pakai gayung tanahnya) waktu olah tanah, pakai 200 literan. Saat pengolahan tanah mikro bakteri dicampur dengan air perbandingannya 1:2. Setelah itu disemprot lagi pakai pupuk cair photosynthetic bacteria (PSB)  atau jakaba yang kita buat sendiri,” jelasnya.


Ia menanam padi dalam 85 hari dan saat ini sudah dapat dipanen.  Kemarin, Dintanpan Rembang datang langsung ke desa Kedungasem. Untuk memanen padi di ladang Kurdianto yang telah membudayakan tanaman dengan pupuk organik. Kepala Dintanpan Rembang Agus Iwan menilai, hasil padi yang dihasilkan tetap bagus dan bisa bersaing dengan padi-padi yang menggunakan pupuk anorganik.

Baca Juga :  Laka Tambang Ilegal Di Sale Rembang, Polisi Periksa 10 Saksi

“Bisa keluar produktivitas 11,4 ton per hektare,” ujarnya.

Sementara, untuk analisa ekonomi dinilai mampu menghasilkan profit dua kali lipat. Pihaknya berharap inovasi ini bisa diaplikasikan oleh petani lain. Namun dengan pupuk ini memiliki juga dianggap keterbatasan ketersediaan. Tetapi untuk jangka panjang, lanjut dia, akan lebih menguntungkan sebab sifat fisik tanah cenderung lebih bagus bagi pertumbuhan tanaman.

“Kami berharap tidak hanya satu dua petak. Tapi kawasan dengan teknologi pupuk organik,” jelasnya.

Pihaknya ke depan akan memetakan kawasan yang dinilai bisa memungkinkan dalam satu pengelolaan. “Membangun kelembagaannya. Menyamakan persepsi dulu dengan petani. Mungkin kami berikan bantuan awal,” imbuhnya. (vah/ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

REMBANG – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Rembang mulai melirik lahan pertanian untuk diterapkan teknologi pupuk organik. Ke depan akan ada pemetaan kawasan untuk ini.

Inovasi bercocok tanam dengan pupuk organik sudah ditetapkan oleh Kurdianto, warga Kedungasem, Sumber. Untuk campuran pertumbuhan vegetatif pemacu pertumbuhan, Ia memakai taoge atau buah maja. Sistem untuk generatif campurannya memakai umbi-umbian yang juga bisa mencegah adanya jamur.

“Dari awal sistem kocor (disiram pakai gayung tanahnya) waktu olah tanah, pakai 200 literan. Saat pengolahan tanah mikro bakteri dicampur dengan air perbandingannya 1:2. Setelah itu disemprot lagi pakai pupuk cair photosynthetic bacteria (PSB)  atau jakaba yang kita buat sendiri,” jelasnya.

Ia menanam padi dalam 85 hari dan saat ini sudah dapat dipanen.  Kemarin, Dintanpan Rembang datang langsung ke desa Kedungasem. Untuk memanen padi di ladang Kurdianto yang telah membudayakan tanaman dengan pupuk organik. Kepala Dintanpan Rembang Agus Iwan menilai, hasil padi yang dihasilkan tetap bagus dan bisa bersaing dengan padi-padi yang menggunakan pupuk anorganik.

Baca Juga :  Antisipasi Kelangkaan, Petani di Pati Ini Sulap Kotoran Burung Jadi Pupuk

“Bisa keluar produktivitas 11,4 ton per hektare,” ujarnya.

Sementara, untuk analisa ekonomi dinilai mampu menghasilkan profit dua kali lipat. Pihaknya berharap inovasi ini bisa diaplikasikan oleh petani lain. Namun dengan pupuk ini memiliki juga dianggap keterbatasan ketersediaan. Tetapi untuk jangka panjang, lanjut dia, akan lebih menguntungkan sebab sifat fisik tanah cenderung lebih bagus bagi pertumbuhan tanaman.

“Kami berharap tidak hanya satu dua petak. Tapi kawasan dengan teknologi pupuk organik,” jelasnya.

Pihaknya ke depan akan memetakan kawasan yang dinilai bisa memungkinkan dalam satu pengelolaan. “Membangun kelembagaannya. Menyamakan persepsi dulu dengan petani. Mungkin kami berikan bantuan awal,” imbuhnya. (vah/ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/