Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Taubat atas Salat yang Pernah Ditinggalkan, Perlu Qadha atau Tidak?

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:23 WIB
Taubat atas Salat yang Pernah Ditinggalkan: Haruskah Diganti atau Cukup Bertaubat?
Taubat atas Salat yang Pernah Ditinggalkan: Haruskah Diganti atau Cukup Bertaubat?

RADAR KUDUS - Pertanyaan mengenai kewajiban mengganti salat yang pernah ditinggalkan di masa lalu kerap muncul di tengah masyarakat Muslim.

Apakah salat yang pernah ditinggalkan karena kelalaian wajib diganti (qadha), ataukah cukup dengan bertaubat dan berjanji tidak mengulanginya.

Dalam Islam, salat merupakan ibadah pokok sekaligus bukti keimanan seorang hamba kepada Allah SWT.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Thaha ayat 14, bahwa perintah mendirikan salat adalah bentuk utama penghambaan kepada Allah.

"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku."

Oleh karena itu, meninggalkan salat dengan sengaja atau meremehkannya termasuk bentuk maksiat kepada Allah.

Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan.

Maksiat, baik yang berkaitan langsung dengan ibadah kepada Allah maupun yang berkaitan dengan sesama manusia, memiliki satu pintu utama untuk kembali ke jalan yang benar, yakni taubat.

Hakikat Taubat dalam Islam

Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Penerima Taubat. Dalam Surah An-Nisa ayat 17, dijelaskan bahwa taubat yang diterima Allah adalah taubat dari perbuatan buruk yang dilakukan karena dorongan hawa nafsu dan godaan setan.

"Sesungguhnya tobat yang pasti diterima Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Merekalah yang Allah terima tobatnya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

Manusia diciptakan dengan fitrah yang bersih, namun dapat ternoda oleh dosa.

Karena itulah Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya selama hayat masih dikandung badan.

Taubat memiliki tiga unsur utama. Pertama, mengakui kesalahan. Kesadaran bahwa diri telah berbuat dosa merupakan anugerah besar dari Allah, karena tidak semua makhluk diberi kemampuan ini.

Kedua, menyesali perbuatan tersebut dengan penyesalan yang tulus hingga menyentuh hati.

Ketiga, membuktikan kesungguhan taubat dengan perubahan perilaku dan amal saleh.

Taubat yang ideal disebut sebagai taubat nasuha, yakni taubat yang melapangkan hati, menenangkan jiwa, dan mendorong seseorang untuk benar-benar berubah menjadi lebih baik.

Mengganti Salat atau Memperbanyak Amal?

Terkait salat yang pernah ditinggalkan, para ulama memiliki perbedaan pendapat.

Sebagian ulama, seperti dalam mazhab Syafi’i, menganjurkan qadha salat bagi yang pernah meninggalkannya dengan sengaja, sebagai bentuk perbaikan atas kelalaian masa lalu.

Qadha ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya setelah menunaikan salat wajib harian.

Namun, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa jika seseorang telah bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memperbaiki dirinya, maka dosa masa lalu diampuni oleh Allah.

Dalam pandangan ini, fokus utama bukan semata-mata mengganti ibadah yang ditinggalkan, melainkan membuktikan perubahan melalui konsistensi salat tepat waktu dan memperbanyak amal sunnah, seperti salat tahajud, dhuha, dan istighfar.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah mengganti keburukan dengan kebaikan bagi hamba yang bertaubat dan beramal saleh.

Ayat-ayat tersebut bersifat umum, sehingga memberi ruang luas bagi seorang Muslim untuk memilih jalan perbaikan yang paling mampu ia jalani secara konsisten.

Pada akhirnya, esensi taubat bukan semata terletak pada perdebatan teknis antara qadha atau tidak, melainkan pada kesungguhan perubahan diri.

Allah menilai kejujuran hati, penyesalan yang mendalam, serta usaha nyata untuk menjadi pribadi yang lebih taat.

Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Namun Allah mencintai hamba-Nya yang jatuh dalam dosa lalu bangkit kembali dengan taubat.

Selama ada kesadaran, penyesalan, dan upaya memperbaiki diri, pintu ampunan Allah selalu terbuka.

Wallahu a‘lam bish-shawab. (Ghina Nailal Husna)

Editor : Ali Mustofa
#salat #qadha #taubat #islam #Allah SWT