Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pentingnya Saling Berwasiat tentang Kebenaran dalam Surat Al Ashr

Ali Mustofa • Minggu, 14 April 2024 | 23:15 WIB
MENGAJAR: Pengurus Yayasan Darurrohman Jepara, Kiai Abdul Jalil mengajar murid yang juga santri.
MENGAJAR: Pengurus Yayasan Darurrohman Jepara, Kiai Abdul Jalil mengajar murid yang juga santri.

KUDUS - Ada beberapa penyebutan istilah manusia dalam Al-Quran, yaitu Basyar (manusia sebagai makhluk biologis), An-Nas (manusia sebagai makhluk sosial), Al-Insan (manusia sebagai khalifah atau pemikul amanah), dan Bani Adam (manusia adalah keturunan Nabi Adam).

Sebagai An-Nas (makhluk sosial), manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Manusia harus mengutamakan kepentingan bersama dan menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat.

Karena itu, manusia hidup saling berdampingan dan saling membutuhkan.

Di samping itu manusia juga memiliki tugas untuk membangun suatu peradaban yang bercirikan kemanusiaan dan kesetaraan.

Dalam menjaga hubungan sosial yang baik, tercipta aturan serta anjuran untuk saling menasihati antarsesama terutama dalam hal kebaikan.

Saling menasihati termasuk dalam perkara habluminannass, sehingga persoalan ini berkaitan erat dengan hubungan sosial.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata nasihat memiliki arti ajaran atau pelajaran baik.

Nasihat juga berupa anjuran seperti petunjuk, peringatan, teguran yang baik.

Nasihat adalah menghendaki suatu kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain dengan cara ikhlas baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Dalam Islam, nasihat boleh diberikan dengan tujuan untuk memberi masukan yang baik.

Sementara itu hakikat nasihat adalah mengajak, menunjukkan, mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan aturan Allah SWT.

Allah SWT telah memberikan petunjuk supaya manusia dalam hidupnya beruntung atau tidak mengalami kerugian.

Dalam Surat Al Ashr 1-3, Allah SWT berfirman: “Demi masa, sungguh manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati (tawashau) untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Saling menasihati diartikan sebagai menyuruh secara baik. Sehingga isi nasihat atau wasiat hendaknya dilakukan secara terus-menerus kepada yang dinasihati.

Dikarenakan manusia memiliki beragam kekurangan dan kesalahan.

Pertanyaannya, mengapa kita dianjurkan untuk saling menasehati antar sesama? Tidak lain dan tidak bukan agar kita tidak berada dalam kerugian.

Dengan adanya nasihat, hidup kita juga akan lebih terkontrol dan dapat terhindar dari perbuatan maksiat, keburukan dan dosa.

Itulah sebabnya supaya manusia tidak merugi perlu perbuatan ikhlas untuk memberi dan menerima sebuah nasihat yang benar sesuai tuntunan agama.

Manusia hidup di muka bumi ini tidak cukup hanya beriman dan beramal saleh, namun harus saling menasihati untuk memperjuangkan kebenaran.

Dengan kata lain, setelah manusia beriman atau paham kebenaran, lalu diamalkan, dan mendakwahkan kebenaran. Kita pun ingin orang lain bisa berbuat kebaikan pula.

Dakwah tidak harus lewat berbicara, ada banyak cara dalam berdakwah.

Misalkan dakwah dengan memberikan keteladanan, bisa juga dengan tidak mempersulit serta tidak menyusahkan orang lain.

Perbuatan saling menasihati antarsesama manusia juga merupakan anjuran baik yang termasuk dalam ibadah.

Dakwah dengan nasihat itu dimaksudkan semata-mata karena rasa peduli dan dilandasi dengan niat karena Allah SWT.

Dakwah adalah tugas dari para Rasul dan jalan bagi orang-orang yang mengikuti jejak Rasul dengan baik.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Yusuf ayat 108.

“Katakanlah bahwa, “inilah jalan (agama) ku, aku serta orang-orang yang mengikuti diriku mengajak kamu pada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah serta aku tidak ada termasuk orang-orang musyrik.”

Pada hakikatnya, orang-orang yang lalai akan kewajibannya dalam berdakwah akan berada dalam kerugian, meskipun ia adalah orang yang memiliki ilmu serta mengamalkan ilmunya.

Sedangkan nasihat hendaknya lebih dilihat dari substansinya, bukan dari siapa yang menyampaikannya.

Islam tidak membedakan dari mana asal datangnya nasihat itu menjadi pertimbangan suatu nasihat diterima atau ditolak.

Nasihat itu pada hakikatnya adalah berbuat baik kepada orang yang kita nasehati dengan menampilkan gambaran kasih sayang dan kelemah-lembutan kepadanya.

Sedangkan tujuan dari pemberi nasihat hanyalah karena (pahala dari) Allah, ridla-Nya, dan bersikap baik kepada ciptaan-Nya.

Oleh karena itu, dalam menyampaikan nasihat hendaknya harus memenuhi adab.

Tanpa adab niscaya tidak akan ada orang yang mau mendengarkan nasihat. Apalagi jika cara penyampaiannya tidak masuk ke dalam hati.

Itu sebabnya, menasihati orang lain harus ada seninya dan harus dapat disesuaikan kepada siapa nasihat tersebut ditujukan dan melihat konteksnya.

Dalam menyampaikan nasihat tidak boleh sembarangan.

Ada beberapa adab menasehati, yaitu: adanya niat ikhlas, bernasihat dengan ilmu, menasehati diri sendiri terlebih dahulu sebelum orang lain, serta gunakan kata-kata yang baik.

Dalam praktiknya mengkomunikasikan nasehat bukanlah tindakan sederhana.

Komunikasi membutuhkan kecakapan, mensyaratkan pemahaman setiap orang terhadap elemen-elemen yang melingkupinya.

Yaitu partisipan komunikasi yang terlibat, teks, konteks, saluran komunikasi yang digunakan dan kemungkinan dampak yang muncul dari komunikasi yang berlangsung.

Dengan komunikasi itu akan memungkinkan untuk dapat menginterpretasikan suatu peristiwa dengan cara yang lebih luwes dan bermanfaat.

Sebagaimana Allah SWT perintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ketika akan memberi nasehat kepada Fir’aun, yang jelas-jelas kekafirannya dan kezalimannya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Thaha ayat 44. Artinya: “Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah”.

Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi manusia memberikan nasehat kepada saudaranya yang belum beriman atau paham kebenaran, serta belum mengamalkan kebenaran.

Karena hidayah Allah SWT bisa datang kapan saja kepada siapa yang Dia kehendaki. Bisa jadi, dengan nasehat itulah Allah SWT mendatangkan hidayah-Nya.

Sebab upaya manusia kepada saudaranya hanyalah sebatas mengajak atau saling menasihati dengan mengenalkan kebenaran.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al Qashash: 56). (top)

Editor : Ali Mustofa
#nasihat #kebenaran #adab #surat al ashr #manusia