alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Belajar sampai Akhir Hayat

12 Oktober 2021, 12: 24: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

Liana Ariani,S.Pd.SD.; SDN 1 Kadengan, Blora

Liana Ariani,S.Pd.SD.; SDN 1 Kadengan, Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

BELAJAR adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perilaku.

Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimuls adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar (siswa). Sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan guru.

Proses yang terjadi antara stimulus dan respons tidak penting untuk tidak diperhatikan, karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respons. Untuk itu, apa yang diberikan guru (stimulus) dan apa yang diterima pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur. Sebagai pelajar harus belajar yang efektif dan efisien. Cara agar belajar efektif dan efisien yaitu, buat suasana menyenangkan, belajar dengan praktik, dan belajar rutin tapi jangan lama.

Baca juga: Kubah Makam Habib Ja’far Al Kaff Diresmikan, Ini Harapan Bupati Kudus

Belajar bagi para siswa hingga mahasiswa adalah sebuah kewajiban sebagaimana predikatnya sebagai pelajar. Pelajar yang baik tentunya harus belajar yang baik. Belajar yang baik adalah belajar yang menghasilkan peningkatan pengetahuan, sikap, dan atau keterampilan.

Kita harus belajar untuk meningkatkan kualitas diri dari segi pengetahuan, sikap dan tingkah laku, serta kecakapan dalam hidup. Sangat malang orang yang sudah bersekolah tinggi, tetapi tak mau belajar lagi karena merasa ilmunya sudah tinggi. Sebaliknya, sangat beruntunglah orang yang bersekolah namun selalu kehausan akan ilmu pengetahuan. Mereka mau terus belajar untuk melepas dahaga akan ilmu pengetahuan.

Belajar tidak hanya di lembaga formal. Tetapi juga nonformal. Tidak hanya di sekolah dan perguruan tinggi. Di lingkungan kita sendiri juga bisa belajar. Banyak media dan sumber belajar yang berserakan di lingkungan kita. Sumber belajar yang popular adalah buku. Buku bisa dibaca di mana dan kapan saja. Buku adalah jendela ilmu. Untuk membuka dunia ilmu pengetahuan dan wawasan, bukalah jendela itu dengan membaca buku. Yang penting ada minat dan keinginan unuk membaca. Selain buku belajar juga bisa melalui internet.

Tak kalah dengan buku. Melalui mobile celluler juga bisa. Facebook, Twitter, dan sejumlah jejaring sosial lain, sesungguhnya media yang dapat dimanfaatkan untuk belajar. Begitu pula website, untuk belajar dan sekaligus ”mengajar”. Jika ada dampak negatif dari media internet tersebut, tentu orang peroranglah yang akan mengolahnya menjadi dampak positif.

Belajar tidak tergantung waktu dan tempat. Belajar itu di mana dan kapan saja. Belajar itu tak pandang usia. Juga tidak tergantung waktu dan tempat. Kapan saja bisa belajar. Belajar itu sepanjang hayat.

Hidup adalah proses belajar. Dari lahir hingga akhir hayat kita tak pernah berhenti menuntut ilmu. Belajar atau yang lazim disebut dengan menuntut ilmu merupakan perkara wajib bagi setiap umat yang beragama. Bahkan kewajiban menuntut ilmu ini sejak lahir hingga mati. Mulai hal kecil hingga tua. Kita berguru pada siapapun, di manapun, dan kapanpun, sehingga bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi nusa bangsa.

Kewajiban menuntut ilmu itu sepanjang hidup kita. Dimulai dari kita dilahirkan sampai akhir hayat kita. Kewajiban ini akan terus ada dan tidak akan terlepas hingga akhir hayat kita. Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai tujuan hidup insyaallah akan tercapai. Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap manusia di lingkungan masyarakat di sekitar kita. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya