alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Kecewa Dilarang Nyopir, Pemuda di Kudus Akhiri Hidup Gantung Diri

12 Oktober 2021, 10: 15: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

JALAN PINTAS: Remaja berinisial MSS,18, warga Dukuh Tersono, Desa Garung Lor, Kaliwungu memilih mengakhiri hidupnya usai cekcok dengan orang tua.

JALAN PINTAS: Remaja berinisial MSS,18, warga Dukuh Tersono, Desa Garung Lor, Kaliwungu memilih mengakhiri hidupnya usai cekcok dengan orang tua. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Entah apa yang merasuki MSS hingga memilih mengakhiri hidupnya pada (11/10). Warga RT 8 RW 3 Dukuh Tersono, Desa Garung Lor, Kaliwungu ini ditemukan gantung diri setelah dilarang ibunya mengendari truk.

Pagi itu, MSS, tak dapat membendung amarahnya ketika dilarang mengendarai truk. Dia marah. Sedangkan ibunya melarang karena MSS sempat kecelakaan. Selain itu ayahnya, seorang sopir truk pernah menabrak orang dan kini di penjara. 

Pada pukul 07.00, MSS sempat keluar rumah dengan meminta uang Rp 1 juta untuk membeli solar dan perawatan kendaraan. Namun karena marah setelah cekcok, MSS naik ke lantai 2. Sementara ibunya takut dan sempat ke rumah tetangga.

Baca juga: Praktik Baik Guru TK Berdedikasi

Selang sekitar lima belas menit, kakak korban Siti Nur Alim mengecek adiknya di lantai 2. Dan kemudian berteriak kencang karena adiknya ditemukan menggantung.

“Mengetahui peristiwa itu, ibu korban memanggil tetangga dan meminta tolong untuk ikut menurunkan korban yang masih tergantung tali kalar di kayu blandar rumah,” kata Kapolsek Kaliwungu AKP Asnawi.

Korban pun segera diturunkan kemudian dibawa ke RSI Kudus. Karena diketahui masih ada denyut nadi. Namun sayang sampai rumah sakit, nyawa korban tak tertolong.

“Sementara dari pemeriksaan tak didapati jika ada tanda-tanda penganiayaan. Sehingga korban dinyatakan meninggal karena murni gantung diri,” katanya.

Ketua RT 8 RW 3 Sumardi menyebut sebelum mengakhiri hidupnya, korban bertengkar dengan ibunya. Korban dilarang ibunya yang hendak menyopir. Sebab semula sempat mengalami kecelakaan. Sehingga ibunya trauma. “Sempat ada kata-kata keras dan kasar. Anaknya gak boleh nyopir lagi,” jelasnya. 

(ks/mal/tos/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya