alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Cakupan Vaksinasi Rendah, Grobogan Kembali Naik Lagi ke Level 3

06 Oktober 2021, 19: 19: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

STOK VAKSIN: Petugas saat menunjukkan vaksin jenis Sinovac di gudang Dinkes Grobogan kemarin.

STOK VAKSIN: Petugas saat menunjukkan vaksin jenis Sinovac di gudang Dinkes Grobogan kemarin. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN – Grobogan kembali ke level 3 lagi karena rendahnya cakupan vaksinasi. Untuk itu, pemkab kembali memperpanjang PPKM selama dua pekan hingga 18 Oktober 2021.

Sekda Grobogan Moch Sumarsono mengatakan, menurut instruksi Imendagri Nomor 47 Tahun 2021 Kabupaten Grobogan menduduki Level 3 lagi. Lantaran capaian vaksinasi kurang dari 40 persen.

“Banyak indikator kenapa PPKM naik kembali. Salah satunya karena capaian vaksinasi di Kabupaten Grobogan baru 31,19 persen atau 361.412 dosis. Kendalanya pada dropping vaksin dari Kemenkes yang tersendat. Kalau vaksin tersedia akan langsung didistribusikan ke masyarakat,” katanya.

Baca juga: PPKM di Pati Naik Lagi ke Level III, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya

Stok vaksin per kemarin hanya tersisa 550 vial jenis Sinovac. Sedangkan capaian vaksinasi di Grobogan saat ini untuk lansia sudah melebihi target yakni 44 persen atau 65.565 dosis. Kemudian pelayanan kesehatan mencapai 132 persen dari total target 6.580 jiwa. Tenaga pendidik sudah 100 persen. Sedangkan masyarakat umum dan rentan 175.918 dosis. Remaja 12-17 tahun baru 38.120 dosis.

Meski naik level, positivity rate menurun. “Bahkan beberapa hari nihil kasus positif. Naik level bukan karena penularan, sehingga aktivitas masih seperti Level 2 kemarin. Masyarakat diharapkan untuk tetap waspada dan tetap prokes,” tegasnya.

Sedangkan Kasi Survailen, Imunisasi dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinkes Grobogan Pujiyono menambahkan, ada pembeda level dari hasil Imendagri dan CoronaJateng. “Di Imendagri kami di Level 3, tapi menurut CoronaJateng per Senin (4/10) kami masih di zona hijau atau Level 2,” jelasnya.

Adanya pembeda indikator menyebabkan hasil level yang berbeda. Penentuan level menurut CoronaJateng disesuaikan dengan epidemiologi, mencakup 14 kriteria antaranya penurunan jumlah kasus positif pada pekan terakhir, jumlah kasus aktif pada hari terakhir, penurunan kasus meninggal positif, penurunan meninggal suspek, penurunan kasus positif yang dirawat di rumah sakit.

Kemudian penurunan kasus suspek yang dirawat di RS, persentase komulatif kasus sembuh, insiden kumulatif positif per 100 ribu penduduk, kecepatan laju insidensi, angka kematian per 100 ribu penduduk, jumlah pemeriksaan sampel, positivity rate rendah, jumlah tempat tidur isolasi dan jumlah tempat tidur di RS rujukan. “Sedangkan menurut Imendagri ada capaian vaksinasi tersebut,” tegasanya. 

(ks/int/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya