alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Nasional
icon featured
Nasional
Rekonstruksi Taruna PIP Semarang Meninggal

Taruna Asal Jepara Meninggal Dianiaya, Libatkan Senior Asal Grobogan

17 September 2021, 16: 23: 50 WIB | editor : Ali Mustofa

Rekonstruksi penganiayaan taruna junior oleh kelima seniornya yang digelar di Mapolrestabes Semarang.

Rekonstruksi penganiayaan taruna junior oleh kelima seniornya yang digelar di Mapolrestabes Semarang. (RADAR SEMARANG)

Share this      

SEMARANG – Terungkap, salah satu penganiaya taruna salah satu politeknik pelayaran di Semarang merupakan warga Grobogan. Hal itu terungkap dari rekonstruksi yang digelar Penyidik Polrestabes Semarang. Diketahui, penganiaya Zidan Muhammad Faza, 21, yang merupakan warga Jepara ada lima orang. Dia  dianiaya di mess Sumatera Jalan Wonodri, pada Senin (6/9/2021) lalu.

Kelimanya yaitu Caesar Richardo Bintang Samudra Tombolon, 22, warga Mojosongo, Jebres, Surakarta. Kemudian Aris Riyanto, 25, warga Dawung, Sugihan, Toroh, Kabupaten Grobogan; Andre Arsprilla Arief, 25, warga Tembiring, Bintoro, Demak; Albert Jonathan Ompu Sungu, 23,  tinggal di Mess Sumatera, Wonodri, Semarang Selatan, serta Budi Darmawan, 22, warga Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang.

Terlihat rekonstruksi ini dihadiri sebanyak 14 taruna junior, satu angkatan dengan korban. Korban diperankan oleh orang lain. Adegan awal, mereka berkumpul setelah diajak makan malam untuk merayakan kelulusan para tersangka yang diketahui pada Sabtu (11/9/2021) lalu, dan akan mengikuti wisuda.

Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, Pengawasan Wisata Religi di Kudus Diperketat

Mereka berkumpul di mess sekitar pukul 22.00. Saat di dalam mess, 15 taruna junior dikumpulkan, dan di–brifing dengan posisi duduk. Tidak lama kemudian, mereka disuruh berdiri berbaris berpola letter U. Selanjutnya, lima taruna senior ini melakukan pemukulan secara bergantian, yang disebut sebagai tradisi.

Lima belas junior berdiri berbaris. Korban di urutan ke delapan. Para tersangka tak semuanya memukul para juniornya. Ada yang hanya menyentuhnya saja. Pengamatan rekonstruksi, tersangka Budi hanya tiga kali melakukan pemukulan kepada tiga juniornya. Lalu tersangka Aris dan Andre melakukan pemukulan terhadap semua juniornya. Sedangkan tersangka Albert diketahui dalam rekonstruksi hanya menyentuh para korban.

Terakhir, tersangka Caesar mulai melakukan pemukulan dengan tangan mengepal diarahkan ke dada dan perut. Termasuk menendang para taruna junior menggunakan lutut (dengkul) di barisan pertama hingga korban.

Setelah menganiaya Zidan, Caesar melanjutkan pemukulan kepada para juniornya. Namun pada saat penganiayaan urutan ke sepuluh, Zidan tiba-tiba terjatuh ke depan hingga kepalanya membentur tanah. Pelilipisnya mengeluarkan darah, serta tak sadarkan diri. Kemudian, korban ditolong tiga rekannya untuk berdiri, hingga akhirnya direbahkan.

Salah satu rekan korban sempat memberikan nafas bantuan. Namun kondisinya semakin menurun, dan belum sadar. Ketika denyut nadi ditangan dicek, juga semakin melambat. Merasa khawatir terjadi sesuatu, kemudian korban diantar oleh dua rekannya menggunakan sepeda motor menuju Rumah Sakit Roemani untuk mendapatkan perawatan medis.

Nahas, nyawa korban tidak terselamatkan, yang diduga mengalami rusak di bagian organ vital akibat pemukulan dan tendangan. Agus menjelaskan, mess tempat pemukulan merupakan rumah kontrakan yang ditempati para senior dan juniornya. Namun, korban tidak tinggal di mess tersebut.

“Mess yang dipakai rumah kontrakan dari tersangka maupun saksi. Mess itu terdiri atas kurang lebih 45 kamar. Kemudian mereka sama-sama tinggal. Kalau korban tinggal di luar,” imbuhnya.

Pendamping hukum para tersangka dari LBH Ratu Adil turut hadir menyaksikan rekonstruksi. Termasuk dari Kasubsi Kejaksaan Negeri Semarang Niam Firdaus. Awalnya, para saksi taruna junior merasa canggung dalam memperagakan di depan seniornya.

Namun setelah mendapat arahan, kegiatan ini berlangsung lancar, dalam waktu kurang lebih dari 60 menit. Setelah menjalani proses rekonstruksi, para tersangka digiring kembali ke ruang tahanan Mapolrestabes Semarang.

Menurutnya, adanya saksi yang bungkam saat rekonstruksi akan didalami kembali saat penyidikan. Meski satu di antara saksi enggan berbicara, namun kejadian tersebut telah tergambar dalam reka ulang.

“Meski bungkam sebenarnya telah tergambar di rekonstruksi,” tegasnya.

Suseno, pendamping hukum para tersangka mengaku tidak merasa keberatan rekonstruksi tersebut digelar di Polrestabes Semarang. Alasannya, untuk menghindari terjadinya kerumunan di lokasi mess.

“Kita akan mengawal sampai ke persidangan kasus ini. Ya, memang tadi ada temuan fakta baru, terkait penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu tersangka,” katanya. (radarsemarang.jawapos.com)

(ks/ful/jpr/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya