alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Dampak Pandemi, Produsen Minuman Rempah di Pati Kebanjiran Order

17 September 2021, 14: 58: 12 WIB | editor : Ali Mustofa

LAKU KERAS: Anggota paguyuban meningkatkan produksi minuman rempah yang kebanjiran orderan di masa pandemi ini.

LAKU KERAS: Anggota paguyuban meningkatkan produksi minuman rempah yang kebanjiran orderan di masa pandemi ini. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI – Banjir order minuman rempah dialami Paguyuban Seger Waras Desa Pohgading Kecamatan Gembong. Produknya laris manis di masa pandemi. Karena tingginya permintaan. Produksinya pun terus digenjot untuk memenuhi permintaan pasar.

Di sebuah rumah sederhana tampak ibu-ibu dan sebagian bapak-bapak sibuk meracik bahan-bahan seperti kunyit, jahe merah, dan kencur. Bahan-bahan itu akan digunakan untuk membuat minuman rempah tradisional.

Produk minuman ini makin laris seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Kementerian Kesehatan sendiri merilis surat edaran mengenai bahan-bahan rempah untuk menjadi minuman tradisional yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Untuk menghadapi masa pandemi, agar tidak mudah jatuh sakit.

Baca juga: TMMD Sengkuyung Diharapkan Mampu Gerakkan Pertanian Warga Pinggiran

Tingginya angka covid 19 di indonesia justru menjadi peluang manis bagi para pelaku usaha produksi jamu tradisonal. seperti yang dialami oleh kelompok paguyuban seger waras Gembong Pati Jawa Tengah yang kebanjiran order, jamu rempah-rempah.karena tingginya permintaan, produksipun terus digenjot, guna memenuhi permintaan pasar.

Paguyuban ini sendiri beranggotakan 20 warga dari Desa Pohgading dan sekitarnya. Ketua paguyuban, Suhartini mengungkapkan, di masa pandemi ini, permintaan pasar semakin tinggi, hingga mencapai 50 persen, sehingga memaksa mereka meningkatkan jumlah produksi.

Jika biasanya dalam sepekan hanya melakukan produksi dua kali, saat ini mereka melakukan produksi hampir setiap hari. Dalam sehari, ia mengaku menghabiskan bahan baku hingga satu kwintal. “Namun, kendala saat ini yakni bahan baku jenis jahe merah sulit didapat hingga ia pun terpaksa mendatangkanya dari luar Jawa,” jelas Suhartini.

Sementara itu, Slamet Kurniawan pembina paguyuban dari Puskesmas Gembong mengungkapkan, paguyuban ini berdiri sejak awal 2019 sebelum pandemi melanda Indonesia, dan merupakan binaan dari Puskesmas Gembong.

“Awal berdiri, paguyuban ini bergerak di bidang sosial dengan menjual produk-produknya dan dana yang terkumpul digunakan untuk bergerak di bidang bantuan kemanuasiaan, namun kini pihaknyapun melakukan pembinaan hingga pengurusan izin produksi dan badan hukum, guna menjaga kualitas produk yang dihasilkan, serta dapat menjadi ladang mencari nafkah bagi para anggota, tidak hanya bergerak di bidang sosial saja,” jelasnya.

Dalam pemasaran, paguyuban ini menjual produk minumannya di sejumlah media sosial. Selain itu, merekapun menjualnya dari warung ke warung. Untuk harganya cukup murah yakni mulai Rp 10 hingga 20 ribu.  

(ks/aua/him/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya