alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Kasatreskrim Ungkap Kasus Pencabulan Jadi Tren Kejahatan di Jepara

17 September 2021, 14: 28: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

PRIHATIN: Kepala Satreskrim Polres Jepara AKP M. Fachrur Rozi memberi materi tentang pentingnya media sosial di Gedung Shima Jepara kemarin.

PRIHATIN: Kepala Satreskrim Polres Jepara AKP M. Fachrur Rozi memberi materi tentang pentingnya media sosial di Gedung Shima Jepara kemarin. (MOH. NUR SYAHRI MUHARROM/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA – Selama pandemi Covid-19 terjadi, tingkat kejahatan meningkat. Di Jepara ada lima tren kejahatan. Salah satunya kasus pencabulan. Selain pencabulan, kasus narkoba di Jepara juga tinggi.

Kepala Satreskrim Polres Jepara AKP M. Fachrur Rozi menyebut sejauh ini pihaknya menangani kasus pencabulan sekitar 76 kasus. Faktornya beragam. Salah satunya kurang pengawasan orang tua. Hal itu ia sampaikan pada pertemuan penggiat media sosial di Gedung Shima Setda Jepara kemarin.

Kasus terbaru melibatkan KS ,64, lansia asal Kecamatan Pakisaji. Pelaku tega mencabuli gadis disabilitas  berinisial IN, 16, yang merupakan tetangganya. Bahkan hingga tiga kali mencabuli penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara itu.

Baca juga: Tambah Aminisi, Jebolan Garuda Select Merapat ke Persijap Jepara

Untuk menutupi kelakuan bejatnya itu, tersangka memberdaya korban dengan ancaman akan dibunuh. Korban juga diiming-imingi uang.

Lebih lanjut ia merinci lima tren kasus kriminalitas yang marak di Jepara. Terbagi dalam dua bentuk kejahatan. Yaitu lewat informasi teknologi (IT) dan kejahatan konvensional. Kejahatan lewat IT yang marak di Jepara yaitu penipuan dan hoaks atau berita bohong. Sementara kejahatan konvensional meliputi pencabulan, narkoba, dan pencurian.

Faktor tindak kejahatan itu menurutnya beragam. ”Bisa karena faktor internal seperti skill dan lainnya juga faktor eksternal. Meliputi lingkungan, ekonomi, pendidikan dan lainnya,” terang AKP M. Fachrur Rozi.

Terkait dengan penipuan online, Rozi menyatakan ada banyak modus. Yakni pinjaman online, arisan online, telepon keluarga bermasalah, minta kode one time password (OTP), bukti transfer palsu, brand bagi-bagi hadiah atau voucher.

Sedangkan, untuk pencabulan, biasanya pelaku bermodus melakukan bujuk rayu, paksaan, pergaulan, atau kurang pengawasan. Terkait dengan pencabulan, Rozi menegaskan tidak akan berdamai dengan pelaku. (rom)

(ks/war/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya