alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Perajin Wayang Golek Limbah Asal Grobogan

Nguri-Nguri Budaya, Produksi Wayang Golek Ramah Lingkungan

17 September 2021, 13: 02: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

KREATIF: Yusnan Iguna, 31, warga Jalan Banyuono, II, Kota Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Grobogan sedang memainkan wayang golek dari limbah.

KREATIF: Yusnan Iguna, 31, warga Jalan Banyuono, II, Kota Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Grobogan sedang memainkan wayang golek dari limbah. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

Setelah di-PHK, Yusnan Iguna terinspirasi membuat wayang dari limbah domestik (rumah tangga). Kini, wayang itu dikembangkan menyerupai karakter tokoh-tokoh tertentu.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan

MULA-MULA, Yusnan berjualan mainan tepat setelah di-PHK. Namun dia menemukan ide untuk membuat wayang golek ramah lingkungan.

Baca juga: PPKom Proyek Temperak Rembang Proses Putus Kontrak Kerja

Melihat terlalu banyak limbah rumah tangga, seperti botol minuman, plastik, bungkus kopi, gagang sapu, pralon, kain, hingga sendal membuat Yusnan ingin menyulapnya menjadi karya bernilai.

Tidak main-main, kreasi limbah domestik yang dihasilkan Yusnan yakni karakter wayang golek dengan wajah Ki Enthus Susmono, Cepot, hingga Si Wulang, ikon baru untuk Kabupaten Grobogan.

Berbekal pemotong, gunting, korek, lem bakar, dan solasi, lelaki yang sebelumnya berprofesi sebagai penyiar radio ini berhasil membuat aneka karakter pewayangan.

Untuk menghasilkan karakter wajah suatu tokoh, dia bentuk menggunakan api. Dengan cara dibakar pada botol plastik.

Hingga kini, dia sudah memperoduksi 100-an wayang golek. Proses pembuatannya pun sekitar tiga hari. Dalam sehari, warga yang tinggal di Jalan Banyuono II, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Grobogan ini bisa membuat beberapa badan dan kepala. Namun untuk menyelesaikan secara sempurna dia membutuhkan waktu tiga hari.

Satu wayang golek yang berukuran sedang atau 60 cm ini dipatok Rp 300 ribu. Harga ini tergantung rumit dan lamanya proses pengerjaan.

“Wayang buatan saya sudah dipajang di beberapa tempat, seperti Candi Joglo. Kemudian edisi pertama pembuatan dibeli Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan,” ujar pria kelahiran 16 Agustus 1990 ini.

Agar karya seninya bisa semakin dikenal dan menjadi ikon baru di Kabupaten Grobogan, dalam waktu dekat, pihaknya ingin mengajak pengiat seni membuat pagelaran wayang golek limbah.

“Jadi setelah pandemi nanti, harapannya bisa membuat sebuah pagelaran khusus wayang golek limbah ini dengan dalang saya sendiri. Selama membuat wayang tersebut, saya jadi belajar menjadi dalang secara otodidak. Karena sebelumnya saya juga penyiar radio, jadi tidak terlalu rumit untuk mempraktikkan karakter wayang yang saya buat ini,” imbuhnya.

Harapannya, karyanya bisa semakin dikenal. Karena ini juga nguri-uri budaya Jawa. Sayangnya, selama ini  karyanya belum pernah dia tampilkan di expo yang diadakan di Pemkab Grobogan.

(ks/int/mal/ful/top/JPR)

 TOP