alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Secercah Harapan Simulasi PTM untuk Siswaku

16 September 2021, 16: 52: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Retno Kuntarti, S.Pd.SD.; Guru Kelas SD Negeri 3 Jatiharjo, Pulokulon, Grobogan

Retno Kuntarti, S.Pd.SD.; Guru Kelas SD Negeri 3 Jatiharjo, Pulokulon, Grobogan (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PANDEMI Covid-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020 sampai sekarang. Segala bidang kehidupan terkena dampaknya. Dunia pendidikan kita ikut terdampak, yaitu pembelajaran yang seharusnya berlangsung tatap muka terpaksa dilaksanakan secara daring atau online.

Peran guru yang semula sebagai pendidik, pengajar, dan pengasuh samar-samar mulai meredup eksistensinya. Peran guru mulai tergantikan dengan media dan aplikasi yang banyak bermunculan dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat.

Benarkah para guru senang dengan keadaan pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai ini? Saya rasa tidak. Sebagai guru saya ingin pandemi ini segera berakhir, agar dapat melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.

Baca juga: Demokrat: Bukti yang diberikan Moeldoko di Pengadilan Tidak Nyambung!

Namun dengan kondisi setiap daerah yang berbeda-beda, ada yang bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan protokol kesehatan (prokes) ketat. Namun ada pula yang tidak dapat menyelenggarakan. Jika daerah masih pada level III bahkan IV, dipastikan tidak direkomendasikan dilaksanakan PTM. Penyelenggaraan PTM hanya direkomendasikan bagi daerah yang masuk kategori II dan I. Itu pun dengan berbagai persyaratan prokes yang harus dipenuhi.

Bagaimanakah syarat yang harus dipenuhi sebuah satuan pendidikan, agar dapat menyelenggarakan PTM? Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu 3T dan 5M. Apa itu 3T? 3T yaitu testing, tracing, dan treatment. Testing yaitu mengecek dan mengetes setiap peserta didik dan orang luar yang mau masuk ke area sekolah. Tracing adalah tindakan aktif untuk melacak dan mencari jika ada siswa yang menunjukkan gejala sakit yang merupakan ciri-ciri umum terkena Covid-19. Treatment merupakan tindakan untuk segera memberhentikan kegiatan PTM jika ada siswa yang terkena Covid-19.

Untuk 5M meliputi, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun (CTPS), menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas. Dengan 5M diharapkan, selain membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga mencegah penularan Covid-19. Jika persyaratan yang disebutkan terpenuhi, sekolah dapat melaksanakan PTM. Walau demikian, yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah.

Kabupaten Grobogan saat ini berada pada pada level II. Dengan kondisi ini, dapat menyelenggarakan PTM secara terbatas. Sebagian besar sekolah direkomendasikan untuk melakukan simulasi PTM dengan syarat semua tenaga pendidik (guru) dan tenaga kependidikan sudah mendapatkan vaksinasi.

Untuk pengaturan PTM dengan sistem siswa yang masuk pada setiap kelas maksimal 18 orang. Apabila siswa dalam satu kelas berjumlah 35 orang, yang masuk pertama 18 orang dan masuk kedua 17 orang. PTM diatur sedemikian rupa, sehingga dapat berjalan sesuai prokes yang berlaku.

Dengan adanya PTM walaupun baru tahap simulasi, secercah harapan untuk mengadakan PTM dapat berlangsung. Semoga pandemi segera berakhir dan bangsa kita bebas dari pandemi. Peran guru dapat optimal dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga upaya mendidik, mengajar, dan mengasuh siswa dapat terjadi secara optimal. Tindakan langsung seperti tepukan pundak, gestur, ungkapan, dan memotivasi siswa dengan memegang tangannya serta memegang dengan lembut kepala siswa dengan kasih sayang hanya terjadi melalui PTM. Hal-hal demikian yang sulit digantikan peran teknologi. Mudah-mudahan tidak hanya simulasi, kegiatan PTM dapat berlangsung seterusnya sampai kondisi normal. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya