alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Menembus Batas Kreativitas Siswa melalui Ansambel Virtual

16 September 2021, 14: 33: 19 WIB | editor : Ali Mustofa

Eka Prasetiawan; Guru Seni Budaya SMP 2 Jekulo, Kudus

Eka Prasetiawan; Guru Seni Budaya SMP 2 Jekulo, Kudus (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

MEMBERIKAN pengalaman estetis kepada siswa adalah bagian tugas penting dari seorang pendidik di bidang seni. Selain memberikan pengetahuan berolah rasa, memberikan wadah aktualisasi bagi siswa merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Tetapi, pada masa pandemi seperti ini, seolah aktualisasi berkarya seni menjadi kendala untuk dilakukan secara berkelompok dengan bertatap muka. Aturan pembatasan sosial menjadi kendala untuk berkelompok. Kondisi yang seperti ini menjadikan kreativitas dan kepekaan rasa siswa menjadi berkurang.

Dalam teori hirarki piramida kebutuhan individu oleh Abraham Maslow, kebutuhan aktualisasi diri dan kebutuhan untuk dihargai adalah ujung dari piramida tersebut. Kreativitas menurut Clark Moustakis (1967), adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. Hal ini menandakan bahwa guru harus kreatif dalam mengajarkan praktik di masa pandemi untuk bisa memberi wadah aktualisasi untuk siswa.

Beruntungnya, zaman sekarang teknologi sudah semakin canggih. Banyak media yang dapat digunakan untuk belajar, bereksplorasi, dan bersosial. Dengan motivasi dan kreativitas, siswa mampu membunuh kegelisahan belajar dalam kesendiriannya di rumah.

Baca juga: 57 Pegawai Dipecat KPK Per 30 September, Ini Daftarnya

Memberikan wadah untuk siswa menyalurkan ide kreatif dan aktualisasinya merupakan kewajiban guru. Media sosial dan perangkat android cukup untuk menjadikan solusi. Beberapa aplikasi android yang dapat digunakan untuk aktualisasi berkarya adalah dengan Instagram dan Kine Master.

Instagram adalah media sosial yang digandrungi remaja untuk aktualisasi dan bersosialisasi. Sedangkan Kine Master adalah aplikasi android yang mampu mengedit video dan audio. Dua aplikasi ini, cukup untuk mengolah sebuah karya dan mengaktualisasikan diri di publik.

Berkolaborasi merupakan hal yang menyenangkan dalam belajar musik mengaktualisasikan diri. Di masa yang seperti ini, kolaborasi bisa kita lakukan dengan bantuan media sosial. Kita dapat berproses secara individu, kemudian hasilnya kita kolaborasikan bersama.

Dalam materi pembelajaran di SMP, ansambel merupakan materi yang diajarkan untuk aktualisasi diri. Memadukan permainan alat musik sejenis maupun campuran dengan komposisi suara yang bermacam-macam membuat siswa menjadi percaya diri akan kemampuannya.

Tahapannya, dapat dimulai dari mengajarkan teknik bermain dahulu. Kemudian dengan memainkan bagian lagu yang telah di aransemen. Ketika sudah mumpuni memainkan materi lagunya, langkah berikutnya merekam audio dan video secara individu. Kemudian dengan bantuan aplikasi Kine Master, kita dapat menggabungkan hasil individu untuk diolah menjadi karya ansambel yang tentunya dengan tampilan yang lebih baik dan menarik.

Dalam melaksanakan kegiatan ansambel virtual perlu dibagi tugas untuk menatanya menjadi sebuah karya. Di antaranya ada yang bertugas sebagai talent, ada yang menjadi editor, dan ada sebagai konseptor. Yang kurang bisa dalam memainkan alat, dapat mengambil alih bagian yang lain sesuai kompetensinya. Menjadi sebuah karya yang kompleks dan dapat dinikmati menjadi kepuasan tersendiri siswa dalam beraktuakisasi. Karena aktualisasi adalah proses kreatif untuk bisa mewujudkannya.

Setelah proses pembuatan karya, selanjutnya siswa mempublikasikannya sebagai wujud aktualisasi diri. Siswa dapat mengunggah karyanya di Instagram. Kemudian mengirimkan link karyanya kepada guru.

Pengalaman seperti inilah yang membuat siswa mempunyai tantangan tersendiri dalam prosesnya. Mereka mendapatkan ilmu, pengalaman, apresiasi karyanya, berupa komen, atensi suka atau tidak suka dari orang lain, dan bersosial di media sosial digital.

Kegiatan ansambel musik virtual tersebut, menjadikan motivasi siswa untuk berkarya dan menembus batas kreativitas. Bermula tidak bisa apa-apa kemudian berproses. Bahkan hasilnya menjadi luar biasa, karena dorongan karya yang akan dipublikasikan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya