alexametrics
Selasa, 26 Oct 2021
radarkudus
Home > Blora
icon featured
Blora

Air Bengawan Solo mulai Normal, PDAM Blora Kembali Salurkan Air Bersih

16 September 2021, 10: 14: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

SEMPAT JERNIH: Warga melihat ikan yang mati akibat limbah ciu Bengawan Solo, beberapa waktu lalu.

SEMPAT JERNIH: Warga melihat ikan yang mati akibat limbah ciu Bengawan Solo, beberapa waktu lalu. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA –  Belasan ribu pelanggan PDAM di Kabupaten Blora akhirnya bisa tersenyum lebar. Sebab, air dari perusahaan air minum plat merah itu, sudah kembali mengalir. Mereka tidak perlu lagi membeli air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Direktur PDAM Blora Yan Riyan Pramono mengaku, PDAM Blora sempat memutus untuk off produksi. Sebab, kondisi air dari bengawan Solo tidak dapat diolah, karena ada pencemaran ciu. Total ada 12 ribu sambungan yang terganggu. Mulai dari Kecamatan Blora Kota, Sambong, Jiken, Jepon, hingga Cepu.

Dia mengaku, saat ini air baku dari bengawan Solo sudah membaik. Dengan begitu, PDAM sudah kembali berproduksi. Bahkan, sudah didistribusikan ke pelanggan di lima kecamatan tersebut.

Baca juga: DPRD Pati: Bansos Belum Disalurkan Keteledoran BRI dan Dinsos

Terpisah, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jateng Widi Artanto mengaku, kondisi air bengawan Solo saat ini sudah baik. Harapannya, tidak ada lagi pembuangan limbah ke bengawan Solo.

Pihaknya mencatat, ada puluhan industri baik skala besar maupun menengah yang membuang limbah ke sungai terbesar di Jawa Tengah ini. Mulai dari dari Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Boyolali, dan Solo. ”Dampaknya sampai Blora,” jelasnya.

Widi memastikan, sudah melakukan upaya pengawasan sejak pertengahan 2020 lalu. Totalnya mencapai 63 perusahaan. ”Yang melanggar kami beri sanksi. Mulai teguran hingga tertulis. Mereka siap memperbaiki pengolahan limbahnya,” ujarnya.

Selain itu, ada empat perusahaan besar yang diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk diberikan pembinaan. Sebab, melakukan pelanggaran berat, karena tidak kunjung memperbaiki kesalahan tentang pencemaran. ”Empat perusahaan ini termasuk bandel. Kalau mau memperbaiki kita bina. Namun kalau tidak, apa boleh buat,” jelasnya.

Menurutnya, sepanjang 2021, ini yang terparah. Meski kondisi air sudah membaik, namun pihaknya tetap melakukan patroli dan pemantuan. Dengan begitu, kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

Dia juga mengaku, tidak bisa memberikan jaminan, bahwa pencemaran limbah tidak kembali terjadi. Sebab, namanya limbah bisa kapan saja terjadi. ”Namanya pencemaran lingkungan bisa fluktuatif. Namun, paling tidak bisa dikurangi,” tambahnya.

(ks/sub/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya