alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Scramble, Belajar IPA Makin Asyik

14 September 2021, 09: 37: 13 WIB | editor : Ali Mustofa

Silvia Diyah Anggraeni, S.Pd.SD.; Guru SD Negeri 6 Depok, Kec. Toroh, Kabupaten Grobogan

Silvia Diyah Anggraeni, S.Pd.SD.; Guru SD Negeri 6 Depok, Kec. Toroh, Kabupaten Grobogan (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

MODEL pembelajaran merupakan pedoman bagi para pendidik dalam melangsungkan kegiatan belajar mengajar di kelas. Model ini mencakup pendekatan, strategi, hingga metode pembelajaran. Menurut  Joyce dan Weil (Rusman, 2012:133), model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merencanakan bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Dalam pembelajaran IPA di kelas VI Semester 1 SD Negeri 6 Depok tentang ciri makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan masih terdapat hambatan yang berakibat tidak tercapainya tujuan pembelajaran dan rendahnya hasil belajar peserta didik. Pada kenyataanya, peserta didik belum sepenuhya dapat menerima pelajaran dengan baik. Masih ada peserta didik yang salah dalam menjawab soal dari guru. Peserta didik hanya sebagai obyek pembelajaran, mereka tidak terlibat aktif dalam pembelajaran.

Kondisi tersebut, perlu diterapkan model pembelajaran scramble. Menurut Sohimin, (2016:166), model pembelajaran scramble merupakan metode yang berbentuk permainan acak kata, kalimat, atau paragraf. Scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cara membagikan lembar soal atau lembar jawaban yang tersedia. Sedangan Kokom Komalasari (Dalam Fitriana, 2017:15) scramble berasal dari bahasa Inggris yang berarti “perebutan, perjuangan, model pembelajaran scramble mengajak peserta didik mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan secara kreatif dengan cara menyusun lembar jawaban yang disusun secara acak sehingga membentuk suatu jawaban yang tepat dan benar.

Baca juga: PDAM Blora: Sempat Agak Jernih, Air Bengawan Solo Kembali Pekat

Sintaks pembelajaran dalam model pembelajaran scramble menurut Miftahul Huda (2013:304) pertama, guru menyiapkan tujuan pembelajaran yang ada pada indikator, menjelaskan materi sesuai topik. Kedua, guru memberikan kartu soal dan kartu jawaban dengan susunan acak kepada peserta didik dan peserta didik mengerjakan soal dengan cara menyusun jawaban yang cocok dengan kartu jawaban yang sebelumnya sudah diacak susunannya katanya. Ketiga, guru memberikan durasi tertentu kepada peserta didik untuk mengerjakan soal yang telah diberikan. Keempat, peserta didik harus bisa mengerjakan soal dan mencari jawabannya dalam durasi waktu yang sudah ditentukan. Kelima, setelah selesai mengerjakan soal dan durasi waktu yang diberikan telah habis, peserta didik mengumpulkan hasil pekerjaan. Keenam, guru mengoreksi dan memberikan nilai sesuai dengan hasil yang dikerjakan oleh peserta didik yang maju kedepan untuk menjawab soal dengan ketentuan jawaban tepat dan cepat dan paling banyak benar.

Adapun kelebihan model pembelajaran scramble menurut Miftahul Huda (2016: 306) yaitu pertama, melatih peserta didik untuk berpikir cepat dan tepat. Kedua, mendorong peserta didik belajar mengerjakan soal dengan jawaban acak. Ketiga, melatih kedisiplinan peserta didik. Keempat, semua peserta didik dapat terlibat aktif. Sedangkan kekurangan model pembelajaran scramble yaitu pertama, terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Kedua, peserta didik menerima bahan mentah yang hanya perlu diolah dengan baik.

Model pembelajaran scramble yang diterapkan dalam pembelajaran ciri makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan menjadikan tercapainya tujuan pembelajaran. Peserta didik dapat menerima materi pelajaran dengan baik. Secara bertahap, peserta didik dapat menjawab soal dari guru. Peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Antusias peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaranpun juga meningkat. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP