alexametrics
Sabtu, 18 Sep 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features

Kondisi Wisata Desa saat Pandemi: Destinasi Tutup, Warga Fokus Bertani

13 September 2021, 09: 54: 57 WIB | editor : Ali Mustofa

MENARIK: Camping ground di Desa Wisata Bageng, Gembong, Pati, banyak diminati sebelum pandemi.

MENARIK: Camping ground di Desa Wisata Bageng, Gembong, Pati, banyak diminati sebelum pandemi. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

INDUSTRI pariwisata jadi salah satu sektor paling terdampak selama pandemi Covid-19. Baik yang dikelola pemerintah maupun desa. Di antaranya wisata alam Jatipohon di Desa Sumber Jatipohon, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, dan wisata Desa Bageng, Gembong, Pati.

Desa Bageng ditetapkan sebagai desa wisata pada saat pandemi. Tepatnya pada 21 November 2020. Saat sedang gencar promosi untuk menarik kunjungan wisata, pemerintah malah mengeluarkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, yang mengharuskan tempat wisata tutup total.

”Kami mengikuti anjuran dari pemerintah. Untuk kegiatan pariwisata ditutup total. Berhubung desa wisata kami masih mulai merintis. Jadi untuk dampak misalnya dari segi pendapatan belum terlalu kami rasakan untuk saat ini,” jelas Ketua Pengelola Desa Wisata Bageng Khoirun Na’im kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Baca juga: Pembelajaran Teks Eksplanasi dengan Memanfaatkan Ponsel

Dia menuturkan, memang belum banyak masyarakat yang menggantungkan penghasilannya dari kegiatan pariwisata. Rata-rata masyarakt desa ini sebagai petani jeruk pamelo. Selain itu, sebagian merupakan pedagang jeruk.

”Jadi ya mereka fokus pada usahanya masing-masing terlebih dulu. Sambil melihat kondisi lebih baik untuk kembali menggeliatkan wisata di desa ini, sebagai penunjang ekonomi masyarakat,” terangnya.

Untuk kunjungan dan pendapatan dari sektor wisata, memang belum seberapa. Sebab, sebelum benar-benar berkembang, wisata di desa ini mengalami problem berupa penutupan akibat pandemi Covid-19.

Namun, hal ini bisa menambah persiapan matang bagi lokasi wisata. Pengelola tidak hanya fokus menguatkan destinasi wisata. Termasuk menyiapkan suvenir dan oleh-oleh juga digarap dengan baik oleh warga.

Suvenir dan oleh-oleh yang disediakan antara lain, kerajinan kain perca, kerajinan kayu kopi, batik tulis pamelo, getuk talas, dodol pamelo, semprit klerut, kopi bubuk, dan bibit jeruk pamelo.

Sementara di Grobogan, wisata Jatipohon Indah (JPI) sudah hampir dua tahun tutup. Sempat buka sekitar sepekan sebelum pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kemudian tutup lagi dan baru berani buka sepekan ini.

Di wisata itu, ada kolam renang, flying fox, camping ground di Bukit Cinta, jeep adventure, agro wisata, hingga paralayang.

Saat ditutup malah liar, karena tidak ada pintu gerbang. Pengunjung menerobos masuk. ”Kami juga tidak berani menarik restribusi parkir dan masuk,” keluh Kepala Desa (Kades) Sumberjati Pohon, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, Eni Endarwati.

Sebelum pandemi, pendapatan yang didapat wisata Jatipohon Indah sekitar Rp 150 juta. Namun selama pandemi ini nihil pendapatan. Bahkan, biasanya pengunjung yang datang bisa sampai 200-300 orang.

”Paling ramai saat akhir pekan. Pengunjung bisa sampai 300 orang. Saat dibuka lagi dalam sepekan ini juga cukup banyak. Sekitar 200 pengunjung.Tentunya kami juga perketat prokes (protokol kesehatan),” terangnya.

Warga sekitar pun menjerit saat sepinya pengunjung di JPI. Selama ini, ada sekitar 100 warga sekitar yang dilibatkan. Jadi, memang sangat berpengaruh ke perekonomian warga desa.

Masyarakat dilibatkan dalam berdagang makanan di sekitar lokasi wisata, menjual suvenir, parkir, menjadi tour guide, jasa foto dan video, hingga sewa Jeep untuk jeep adventure. Di sana ada delapan Jeep milik warga sekitar.

”Pandemi ini mereka (warga sekitar JPI, Red) mengeluh sepi. Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa,” keluhnya.

Situasi dilematis di tengah pandemi ini, membuat wisata tersebut hanya bisa bertahan tanpa melakukan pengembangan. ”Sebenarnya tahun ini kami ada pengembangan pada spot paralayang. Karena rencananya akan dipakai untuk Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) Jateng. Kami perbaiki lokasi landing yang merogoh anggaran sekitar Rp 350 juta dari APBDes,” ujar ujar kades.

Banyaknya anggaran yang dihabiskan untuk spot paralayang, akhirnya pihaknya tidak berani mengambil risiko mengembangkan wisata pada tahun depan. ”Terpenting mampu bertahan dulu saat ini. Apa yang ada kami optimalkan,” ungkapnya. 

(ks/int/aua/lin/top/JPR)

 TOP