alexametrics
Sabtu, 18 Sep 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Dindikpora Rembang Klaim Tak Semua Sekolah Beli CD Pembelajaran

12 September 2021, 08: 34: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Mardi, Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang

Mardi, Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang mengklaim pengadaan paket CD (Compact Disk) plus buku untuk panduan guru tematik jenjang SD tahun 2020-2021 tak dilakukan di semua SD.  Tak hanya itu dinas menegaskan jika tiap sekolah tak dipaksakan untuk membeli paket pembelajaran tersebut.

Hal ini disampaikan Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang Mardi setelah melakukan penelusuran dan evaluasi setelah pelaksanaan program tersebut menuai sorotan publik. Menurutnya paket pembelajaran tergantung kebutuhan sekolah. Jadi jika butuh, penting, perlu dibeli sekolah tidak ada masalah. Namun begitu, di petunjuk teknis Biaya Operasional Sekolah (BOS) diperbolehkan.

”Itu pun  juga tidak ada istilahnya kok suara di luar katanya pengkondisian. Dikondisikan apa? Yang beli juga tidak semuanya,” tegas Mardi saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.

Baca juga: Dinsos PPKB Rembang Berikan Tali Asih kepada 2.750 Anak Yatim

Menurutnya kalau sekolah mampu, karena uangnya cukup beli, tidak apa-apa. Begitupun sebaliknya. Jadi tidak ada yang diindikasikan. Karena selama ini kaitannya ada pengkondisian-pengkondisian selama ini tidak pernah.

”Seperti buku digital atau cetak. Itu sebenarnya bukan untuk murid, tapi untuk guru. Pedoman guru. Terus ada rumor tidak sekolah kok beli buku. Padahal itu buku pedoman untuk guru. Ada yang berwujud digital dan manual cetak,” ujarnya.

Mardi menambahkan namanya guru mengajar dalam bentuk daring ataupun tatap muka butuh sumber belajar atau referensi. Meskipun disampaikan jarak jauh atau daring. Atau disampaikan tatap muka. “Karena namanya guru butuh referensi. Butuh buku bacaan banyak untuk menambah keilmuan,” ujarnya.

Disinggung soal berapa sekolah yang telah memesan paket CD tersebut, hingga kemarin dinas belum mendapatkan angkanya secara pasti. Mardi berharap kepada masyarakat, dari unsur dan elemen apapun. Jangan memberikan statement sepihak. Namun bisa klarifikasi dahulu sekolah, dinas. Sehingga info yang diterima berkembang ternyata tidak pas dan sebagainya.

”Klarifikasi bisa datangi sekolah. Beli atau tidak misalnya. Pentingnya buat apa? Kalau sebaliknya kenapa alasannya?” imbuhnya.

Sebelumnya pengadaan CD plus buku pedoman pembelajaran guru tersebut menuai sorotan dewan. Mereka menganggap pengadaan CD tersebut kurang efektif untuk bagi guru dan siswa, di tengah teknologi digital saat ini. Dewan juga menyoroti soal mahalnya CD paket pembelajaran tersebut, dengan rata-rata per sekolah mengeluarkan anggaran sekitar Rp 4 jutaan. 

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP