alexametrics
Jumat, 22 Oct 2021
radarkudus
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Atasi Ketergantungan Gadget: Jangan HP Terus, Bersosialisasi Juga Dong

05 September 2021, 10: 15: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

REBAHAN: Gadget udah seperti “teman” hiduo bagi manusia. Ke manapun dan di manapun selalu memantau layar HP.

REBAHAN: Gadget udah seperti “teman” hiduo bagi manusia. Ke manapun dan di manapun selalu memantau layar HP. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

GADGET sudah jadi “teman” hidup manusia. Namun penggunannya tak boleh los dol. Harus dikontrol. Baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Mereka harus tetap bersosialisaso dengan ling kungan.

Hampir semua orang di dunia ini kini tak bisa lepas dari gadget atau gawai. Perangkat elektronik yang serbaguna itu telah banyak mengubah hidup manusia dan kebudayaannya. Sebagaimana semua hal, gawai memiliki hal positif dan negatif bagi diri kita.

Titik Wahyuningsih, dokter dari RSUD dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi mengatakan, untuk orang dewasa kuncinya hanya kesadaran diri. Yakni harus mengetahui kapan waktu untuk bermain gadget dan kapan harus berhenti.

Baca juga: Beri Edukasi ke Pelanggan dan Pengunjung Galeri

(SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

”Kalau kita mengontrol orang dewasa sulit juga. Paling tidak itu tahu waktu. Harus bisa mengontrol diri. Bermain gadget oke, tapi kita harus sosialisasi juga,” kata dia.

Tips berikutnya agar bisa lebih mengontrol diri yaitu jangan menganto ngi gadget ke manapun pergi. Tinggalkan gadget saat ke kamar mandi. Sehingga bisa mencegah ketergantungan terhadap gadget.

”Saat ada pertemuan, ada rapat, makan bersama, kita harus menghargai lingkungan itu. Harus bijak,” tu turnya.

Bagi sebagian orang, gawai memang segala-galanya. Bahkan seperti tak bisa hidup tanpa gadget. Namun penggunaan tetap harus dibatasi. Yang paling penting, kata dia, orangtua harus memberi contoh kepada yang lebih muda. Sebab, hal yang baik bisa diakses gadget memang banyak. Tetapi hal buruknya juga tidak kalah banyak.

”Imannya harus kuat untuk mengontrol. Kalau kita sejak awal dikenalkan agama sejak kecil, saya rasa tidak akan ke arah sana. Pendidikan agama sejak dini di dalam keluarga itu nomor satu,” terangnya.

Sementara itu, bagi anakanak, Titik yang juga menjabat Wakil Direktur Bidang Pelayanan itu menyatakan, kuncinya pendampingan orangtua. Orangtua harus mengetahui durasi yang aman bagi anak-anak dalam menggunakan gawai sesuai dengan tingkat usia.

”Untuk anak usia 0-6 tahun, gawai sebenarnya bisa merangsang motorik dan sensorik. Tapi harus didampingi,” tuturnya.

Untuk usia sekolah, 7-12 tahun, orangtua tetap harus mendampingi secara bijak. Anak harus diberikan komitmen sebelum diberikan gawai. Misalnya, paling lama penggunaannya berapa jam dan sebagainya. Titik mengingatkan orangtua mesti waspada. Sebab, sekarang ini ditemui kasus predator anak, kasus bullying, yang berawal dari gawai.

Lalu pada usia 13-18 tahun, orangtua juga tetap harus mengecek apa yang dilakukan anak pada gadgetnya. Sehingga, apa yang dilakukan tetaplah hal-hal yang positif.

”Kalau seharian di kamar terus itu ngapain aja. Apakah benar belajar daring?” kata dia.

Titik mengingatkan, paparan gawai bisa menimbulkan resiko autis dan ADHD (Attention Defi cit Hyperaktivity, Disosder). Yaitu gangguan mental yang menyebabkan anak sulit memusatkan pikirannya. Serta memiliki perilaku yang impulsif dan hiperaktif mempengaruhi prestasi di sekolah. 

(ks/ful/lid/top/JPR)

 TOP