alexametrics
Sabtu, 18 Sep 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Erna Santoso, Desainer Batik dari Grobogan

Beri Edukasi ke Pelanggan dan Pengunjung Galeri

05 September 2021, 10: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BERANEKA RAGAM: Erna Santoso pemilik San Batik di galerinya Jalan Untung Suropati Purwodadi, Grobogan, belum lama ini.

BERANEKA RAGAM: Erna Santoso pemilik San Batik di galerinya Jalan Untung Suropati Purwodadi, Grobogan, belum lama ini. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Share this      

Erna Santoso mengawali karirnya sebagai desainer pakaian. Lambat laun dia suka batik. Beragam batik khas kabupaten di Jateng ia koleksi. Begitu banyak koleksinya ia kemudian mendirikan galeri batik. Di dalamnya pengunjung dan pembeli diberi edukasi tentang batik.

SIROJUL MUNIR, Radar Kudus

PULUHAN kain batik beragam motif dari berbagai daerah tertata rapi di toko Erna Santoso. Mulai dari motif tumbuhan, hewan, keris, tokoh pewayang, ciri khas bangunan daerah, dan lainnya. Warna juga beragam. Warnanya macam-macam, ada dominan merah, coklat, putih, hitam, kuning, hijau, biru, dan campuran. Ada batik Grobogan, Solo, Surakarta, Pekalongan, Magelang, Semarang, Tegal, Jepara, Kudus, Pati, Lasem, dan koleksi batik lainya.

Baca juga: Harmusa Oktaviani Kenalkan QRIS ke Pelaku Koperasi di Blora

Semua tersaji lengkap. Ada batik tulis dan cap. Semua kain batik tersebut ia kumpulkan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Semua dipajang di galeri San Batik Jalan Untung Suropati Purwodadi, Grobogan.

Di dalam bangunan joglo tersebut tidak hanya menyediakan batik saja namun juga ada kain tenun dan pakain batik jadi. Warga yang datang tersebut tinggal memilih batik mana yang disukai.

”Galeri batik ini tidak hanya menjual batik tetapi kami juga memberikan edukasi tentang warisan budaya batik Nusantara. Pembeli bisa mengetahui batik tulis dan cap. Kemudian proses pembuatanya,” kata Erna Santoso.

Selain menyediakan batik, dirinya juga memberikan pengertian tentang batik kepada pengunjung. Mulai dari proses pembuatan sampai jadi. Bahkan, di tempat tersebut juga disediakan tempat praktik membatik. Proses itu, diberikan sebagai kepedulian dan sekaligus untuk merawat budaya pakaian khas Indonesia. Yaitu batik.

Setiap daerah mempunyai ciri khas batik masing-masing. Sehingga warna keindahan dan kemajemukan muncul di corak masing-masing daerah. ”Kondisi batik sekarang dan beberapa tahun lagi ke depan menurut saya tetap elegan. Maka saya menekuni batik karena itu,” ujarnya.

Menekuni batik dan desainer pakaian, diawali Erna sejak 2003. Ketika itu, dirinya menjahit pakaian. Kemudian menjahit pakaian batik sutra. Setelah jadi, pakaian tersebut dijual kembali untuk usaha.

Merasa ilmu desainer baju kurang, alumni SMAN Magelang ini kemudian sekolah desainer pakaian di lembaga pelatihan Susan Budiharjo Jakarta di Cabang Semaranga. Dia lulus 2012. Setelah lulus dirinya belajar mendalami tentang batik di Indonesia terutama di Jawa Tengah. Apalagi suaminya suka dengan pakaian batik.

Dia pernah beberapa kali menang dalam mendesain baju kantoran tingkat kabupaten. Juga desainer baju di Jawa Tengah dan Jogyakarta. ”Batik sampai kapanpun. Motif apapun tetap tinggalkan tren. Batik yang klasik sampai kontenporer. Istilahnya tak lekang oleh waktu,” tandasnya.

Galeri batik yang ditempatnya tersebut menjadi rujukan untuk berbagai batik daerah. Terutama batik Grobogan dan pakaian khas daerah Grobogan.

Dirinya sering menjadi perwakilan daerah untuk mengikuti pameran di berbagai daerah. Seperti Semarang Night Carnival, Yogyakarta, Malang dan menjadi pemenang desain pakaian batik tidak ada perca. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya