alexametrics
Sabtu, 18 Sep 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Komunitas Dolan Nggunung asal Rembang

Bina dan Beri Panggung Anak Tampil di Tempat Wisata

02 September 2021, 14: 54: 48 WIB | editor : Ali Mustofa

TAMPILKAN KEAHLIAN: Anak-anak komunitas Dolan Nggunung tampil di salah satu lokasi di Rembang belum lama ini.

TAMPILKAN KEAHLIAN: Anak-anak komunitas Dolan Nggunung tampil di salah satu lokasi di Rembang belum lama ini. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Komunitas Dolan Nggunung, Rembang, ingin menyatukan para pegiat wisata desa-desa di Kota Santri itu. Komunitas yang dihuni para pemuda ini juga membina anak-anak yang memiliki minat di bidang seni. Mereka sudah tampil di beberapa tempat wisata di Rembang.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Radar Kudus

WADUK Panohan, Gunem, Rembang, merasakan gebyar kemerdekaan 17 Agustus lalu. Anak-anak begitu luwes berlenggok membawakan tarian tradisional. Memakai kebaya. Berkalungkam selendang. Ada yang warna merah. Ada yang putih.

Baca juga: Persiku Kudus Menang 3-0 Atas Klub Mitsubishi dalam Laga Uji Coba

Jumari, Koordinator Komunitas Dolan Nggunung

Jumari, Koordinator Komunitas Dolan Nggunung (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Kearifan ini digunakan komunitas Dolan Nggunung untuk mengangkat potensi wisata desa. Pertunjukan seni tari dipadukan teknik pengambilan video sedemikian rupa sembari menunjukkan kemolekan berbagai destinasi.

Ada Waduk Panohan, Sendang Kaputren, hingga air terjun Pasucen. Wisata-wisata yang ada dalam frame itu ada di beberapa desa di Kota Santri, Rembang. Sebagaimana tujuan awal komunitas Dolan Nggunung dibentuk. Yaitu untuk menyatukan para pegiat wisata desa.

Tak hanya bervisi misi mengembangkan wisata desa. Kumpulan para pemuda ini juga membina anak-anak yang memiliki minat pada bidang seni. Seperti pertunjukan tari tradisional yang disajikan dalam video yang dibuat dalam rangka HUT Republik Indonesia beberapa waktu lalu itu.

”Komunitas ini hasil ide temen-temen wisata. Dari Kajar, Pasucen, Tegaldowo, Suntri, Gowak, Trembes, dan Panohan,” kata Jumari, koordinator komunitas.

Tujuan awalnya sebatas kerja sama antar pengelola. Namun niat itu dirasa masih ada yang kurang. Sehingga perlu ada inovasi. Di antaranya mengembangkan minat bakat anak terhadap seni. Seperti tari, ketoprak, dan karawitan. ”Ya ayok kami bikinkan tempat,” kata pengelola wisata Sendang Kaputren, Suntri itu.

Saat ini sudah ada sekitar 20 anak. Setelah pentas tari virtual yang diambil dari tempat wisata, antusiasme anak-anak pun mulai tumbuh. Sejumlah anak antre untuk ikut bergabung.

Tak hanya menampilkan dalam pentas, komunitas ini juga memberikan pembinaan. Jumari dan kawan-kawan menggandeng seniman karawisatan dan tari yang sudah memiliki sanggar. Sehingga apabila ada anak yang ingin mendaftar tinggal diarahkan sesuai dengan minat kesenian.

”Kami tidak memandang usia. Kami bebas. Sekarang (anak-anak yang sudah terdaftar, Red) usianya kisaran 13-17 tahun,” katanya.

Selain dibina di sanggar, anak-anak itu akan diwadahi pentas pada panggung-panggung even di tempat wisata.

Seperti saat even kemerdekaan yang diikuti anak dari berbagai desa kemarin. Masing-masing desa yang tergabung dalam komunitas mengirim beberapa nama. Kemudian dilatih bersama.

”Mereka biasanya sudah punya basic. Sudah suka. Di bidang seni anak-anak antusias banget,” katanya.

Anak-anak tetap rutin latihan sepekan sekali meskipun tak ada pentas. Ke depan, rencana akan ada pentas wayang orang anak yang rencananya dipentaskan di tempat wisata pegunungan. Menurutnya di Rembang belum pernah ada pertunjukan semacam ini. ”Baru kami rembuk bareng-bareng,” kata pria berusia 34 tahun itu. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP