alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features

Tetap Setia Jadi Peserta BPJS Kesehatan meski Harus Turun Kelas

31 Agustus 2021, 22: 20: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

SETIA: Sri Sunarti menunjukkan kartu JKN-KIS miliknya.

SETIA: Sri Sunarti menunjukkan kartu JKN-KIS miliknya. (KHOLID KHAZMI/RADAR KUDUS)

Share this      

KHOLID KHAZMI, Radar Kudus

TELEPON Sri Sunarti berdering. Saudaranya mengabarkan kalau sudah tiba di lobi RS Aisyiyah Kudus membawa tabung oksigen untuk Jamasri. Saat itu stok oksigen rumah sakit habis. Sehingga Sunarti meminjam tabung oksigen milik saudaranya. Lalu meminta tolong mengisikannya.

Tabung oksigen itu segera dia bawa ke ruang isolasi, tempat Jamasri, suami Sunarti dirawat karena terpapar Covid-19. Sri Sunarti berusaha membangunkan suaminya yang tertidur. Namun suaminya tak merespon. Dia menggerakkan tubuh suami, namun lagi-lagi tak ada respon.

Baca juga: APBD 2021 Pati Di-Refocusing Rp 105 Miliar, untuk Keperluan Apa?

Warga Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu mulai panik. Dia panggil perawat untuk mengecek kondisi suaminya. Nahas, nyawa pria 73 tahun itu tak tertolong. Jamasri meninggal pada 4 Juli 2021 setelah dirawat di RS Aisyiyah Kudus sejak 25 Juni 2021.

Sepeninggal Jamasri, Sunarti mulai beradaptasi tanpa didampingi suami. Kini, dia hidup berdua dengan Indah, sang putri. Sunarti pun jadi tulang punggung keluarga.

Hari-hari Sunarti dihabiskan di rumah sambil bekerja sebagai buruh pelipat kain kassa. Pekerjaan itu sudah ia tekuni empat tahun. Meski penghasilannya tak seberapa, hanya Rp 15 ribu sampai Rp 18 ribu per hari, Sunarti tetap setia mengerjakannya. Sebab, uang itulah yang bisa memenuhi kebutuhan hidup Sunarti dan Indah. Itupun hanya cukup untuk makan, membayar listrik, dan biaya sekolah.

Perempuan kelahiran 25 Februari 1978 itu juga harus membayar iuran BPJS Kesehatan yang sudah diikutinya sejak 2015. Sunarti, Jamasri, dan Indah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan kelas II kategori Pekerja Penerima Upah Badan Usaha (PPU BU).

Sayang, sepeninggal Jamasri, Sunarti merasa berat jika harus membayar iuran. Namun dia masih ingin menjadi peserta BPJS Kesehatan. Bahkan dia rela turun kelas, dari kelas II PPU BU ke kelas III Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Kepindahan itu kini masih dalam proses verifikasi di Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Berkas itu nantinya diverifikasi lagi oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kudus. Kemudian diverifikasi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes).

”Saya tetap ingin jadi peserta BPJS Kesehatan. Turun kelas III tidak masalah. Yang penting kalau ada apa-apa, saya bisa dapat fasilitas dari BPJS Kesehatan. Apalagi kantor BPJS Kesehatan dekat dengan rumah saya. Jadi tidak repot kalau mau ngurus,” jelasnya.

Semasa hidup, Jamasri punya riwayat penyakit paru-paru. Suami Sunarti itu sering memanfaatkan layanan BPJS Kesehatan di tempat praktik dr. Pujianto.

”Kalau sakit, biasanya bapak berobat ke dokter Puji. Pernah lama nggak berobat, pas berobat ditanya dokter Puji kok nggak pernah kelihatan. Bapak itu punya sakit paru-paru,” kenang Sunarti.

Manfaat lain yang didapat Sunarti sebagai peserta BPJS Kesehatan juga dirasakan setelah Jamasri meninggal karena Covid-19. Dia mendapat santunan dari BPJS Kesehatan Cabang Kudus pada 25 Agustus 2021.

Meski hanya berupa sembako, Sunarti sangat senang menerimanya. Sebab selama suaminya positif Covid-19, tak ada bantuan yang dia terima. Satu-satunya bantuan hanya dari BPJS Kesehatan.

”Isinya ada beras, gula, susu, minyak goren, dan bahan makanan lainnya. Saya kaget tiba-tiba diundang ke kantor kelurahan, ternyata dapat bantuan dari BPJS Kesehatan,” kata Sunarti.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kudus Maya Susanti mengungkapkan, jika peserta BPJS mandiri tak mampu membayar iuran, boleh mengajukan pindah kelas ke PBI. Alurnya, peserta mengajukan ke keluarahan, lalu diverifikasi Dinsos P3AP2KB dan Dinkes. Setelah dinyatakan memenuhi syarat sebagai peserta PBI, data itu diserahkan kepada BPJS Kesehatan. ”Kalau memang keberatan membayar iuran, boleh mengajukan turun kelas,” ungkapnya.

Status kepesertaan kelas III PBI bisa aktif dalam waktu satu bulan. Sedangkan untuk kelas III mandiri bisa aktif dalam 14 hari. Ada dua jenis kepesertaan PBI. Yakni yang dibiayai oleh APBD dan APBN. Sampai saat ini sudah ada 57.500 peserta PBI di Kota Kretek yang dibiayai menggunakan APBD Kudus.

Maya menegaskan tak ada perbedaan layanan bagi peserta PBI. Jenis penyakit yang tercover PBI juga sama dengan kelas III mandiri. Namun, peserta PBI tak bisa naik kelas perawatan seperti halnya peserta kelas III mandiri. ”Yang membedakan hanya fasilitas perawatan,” imbuh Maya.

(ks/lid/top/JPR)

 TOP