alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarkudus
Home > Inspirasi
icon featured
Inspirasi

Jadi Ahli Gizi Harus Tahu Kebiasaan Makan Pasien Anak

22 Agustus 2021, 22: 38: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Budiarti

Budiarti (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

Share this      

MENJADI ahli gizi di rumah sakit (RS) harus punya banyak inovasi. Soalnya, harus tahu kebutuhan gizi setiap pasien. Bahkan untuk pasien anak, harus tahu kebiasaan makan kalau di rumah.

Budiarti salah satu ahli gizi di RS Pati. Baginya penyajian makanan di RS dan tempat lain itu beda. Di RS harus menyajikan makanan berkualitas sesuai kebutuhan pasien.

Ahli gizi itu mengasuh pasien rawat inap maupun rawat jalan. Mereka mendapat hasil skrining (pemeriksaan, Red) oleh perawat. Selain itu, adapula pengecekan di laboratorium. Itu untuk lebih rinci apa kebutuhannya.

Baca juga: Istri Diembat Sahabat Sendiri

”Nanti akan dipilah. Mana pasien yang membutuhkan perlakuan khusus. Misalnya, diet rendah garam, rendah kalori, rendah karbohidrat,” kata perempuan asal Winong itu.

Tak hanya itu, ahli gizi juga harus bisa berinovasi. Misalnya, ada kasus pasien yang tidak suka makan sayur-mayur. Adapula pasien perawatan khusus yang mengalami gangguan saluran pencernaan.

”Caranya bisa memotong sayur kecil-kecil kemudian diselipkan ke lauk atau nasi. Kemudian jika ada pasien dengan gangguan saluran pencernaan bisa diatur konsistensi makanan. Itu bisa dilembutkan seperti bubur dan bahan gilingan,” tambah perempuan usia lulusan Politeknik Negeri Semarang itu.

Menurutnya, menjadi ahli gizi juga perlu pendekatan ke pasien. Soalnya, tiap pasien itu kasusnya berbeda-beda. Misalnya, pada kasus anak. Kata dia, kebanyakan anak itu rewel. Harus tahu kebiasaan makan di rumahnya. ”Nanti ditanya ibunya.

Misalnya sukanya telur. Nanti sayurnya dipotong-potong diselipkan di telur atau nasinya,” jelas ahli gizi di RS Keluarga Sehat (KSH) Pati itu.

Edukasi juga diperlukan pada tiap pasien. ”Di kasih tahu kalau makanan disini ini berbeda. Bumbunya dipisah. Bukan disamakan dengan pasien lain. Kandungan nutrisinya juga dijelaskan. Biasa nya setelah diedukasi mereka paham dan mau makan,” paparnya. (adr)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya