alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features

Salsabila Azahra Noor, Paskibra Provinsi Jateng Asal Blora

Ketemu Orangtua hanya Dua Jam, Itupun Vitual

20 Agustus 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BERSAMA: Salsabila Azahra Noor saat berfoto bersama keluarga

BERSAMA: Salsabila Azahra Noor saat berfoto bersama keluarga (Roni Nuryanto FOR RADAR KUDUS)

Share this      

UNTUK menjadi anggota Paskibra Provinsi Jawa Tengah tidak mudah. Harus melalui seleksi yang ketat dan berat. Setelah terpilih pun harus mengikuti latihan setiap hari selama tiga pekan. Dan selama itu pula, paskibra hanya boleh bertemu orangtua selama dua jam. Itupun secara virtual. “Setelah itu telepon langsung dikumpulkan lagi,” kata Roni Nuryanto, ayah Salsabila Azahra Noor, anggota Paskibra 2021 Provinsi Jawa Tengah asal Blora.

Roni mengaku, tak menyangka putrinya lolos seleksi Paskibra hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sebab dari 20 anak yang diseleksi hanya diambil dua orang. Salah satunya Salsabila.

 “Waktu kegiatan Paskibra dia ikut ekstra di sekolah. Kebetulan ada seleksi. Dia ikut bersama 20 anak lainnya. Terpilih dua orang. Salah satunya anak saya dan lolos. Alhamdulillah,” kata ayah siswa kelas XII IPA 4  SMAN 1 Blora.

Baca juga: Pedagang Luar Pagar Melanggar Aturan

Jadi Paskibra itu berat. Biar Salsabila Azahra Noor saja. Bahkan untuk ketemu orangtua juga sulit. Hanya dua jam. Itupun virtual.

BERTUGAS: Salsabila Azahra Noor setelah bertugas sebagai Paskibra Provinsi Jawa Tengah kemarin (Roni Nuryanto FOR RADAR KUDUS)

Sebetulnya, kata dia, anak pertama dari dua bersaudara ini suka sekali lari. Sebelum ikut ektra, sang anak sudah izin ikut Pramuka, Drumband, dan Paskibra. “Paskibra delalah bisa lolos,” tambahnya.

Dia mengaku, sebagai orangtua jelas bangga dan bahagia dengan pencapaian anaknya. Anak desa dari Ngawen bisa menjadi Pasukan Pengibar bendera Tingkat Provinsi Jawa Tengah. “Anak ini memang semangatnya luar biasa. Biasanya berangkat latihan siang dan pulang habis maghrib tidak lelah. Tidak capek. Kalau pulang menunggu saya dari Rembang,” jelasnya.

Saat di rumah, sang anak biasanya ikut membantu Ibu. Mulai bersih-bersih rumah, menyapu maupun mencuci. “Sebetulnya dia ingin jadi Polwan juga. Sebelum ikut Paskibra. Jadi semenjak Omnya jadi polisi, dia ingin ikut. Tingginya sekarang sekitar 166 cm. Tapi saat di Semarang masih kalah tinggi,” ucapnya sambil tersenyum.

Maklum, saat hendak digembleng di Semarang dia sendiri yang mengantar. Sebab, mau bareng yang lain, ternyata terkena macet. Sehingga diantar langsung. “Ke Semarang 4 Agustus kemarin. Sampai sekarang belum pulang. Sore ini (Kemarin, red) masih penurunan bendera. Paling nanti malam (Kemarin, red) baru bisa menghubungi,” tambahnya.

Roni menegaskan, selama anaknya di Semarang, pihak keluarga hanya bisa berkounikasi sekali saja. Yakni pada Sabtu 7 Agustus. Itupun hanya 2 jam.

“Sempat ngobrol sama Mama dan adiknya selama dua jam. Setelah itu fokus latihan. Dimanfaatkan untuk minta doa sama orang tua,” tambahnya.

Kepala Seksi Olahraga Bidang Pemuda Dan Olahraga Dinporabudpar Ubaydilah Rouf mengaku, peringatan 17 Agustus 2021 tahun ini, Blora tidak melakukan seleksi Paskibraka. Hanya mengambil Paskibraka 2019 seperti tahun 2020 kemarin.

Untuk provinsi, Blora mengirim 2 utusan dan diterima satu untuk tampil di provinsi atas nama Salsabila. Karena di provinsi diadakan detik-detik proklamasi secara normal. Kalau di sini tidak ada.

“Di sana Salsabila sebagai pasukan 17. Dari provinsi ambil satu perwakilan dari kabupaten. Secara akademis, jasmani dan kesehatan lebih dari teman-teman lain.” katanya.  

Dia mengatakan, untuk menjadi anggota Paskibra Provinsi Jawa Tengah, Salsabila diseleksi secara ketat lalu dikarantina selama tiga pekan. “Tidak boleh dijenguk,” paparnya.

Dia mengaku bangga ada perwakilan  Blora di provinsi. “Mudah-mudahan lain waktu bisa tampil di tingkat Nasional,” tambahnya.

(ks/top/top/JPR)

 TOP