alexametrics
Jumat, 22 Oct 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Pandemi Covid-19 Tingkatkan Kreativitas Pendidik dalam Mengajar

04 Agustus 2021, 13: 38: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

Titik Aniyati, S.Pd.; Guru IPS SMPN 2 Nalumsari, Jepara

Titik Aniyati, S.Pd.; Guru IPS SMPN 2 Nalumsari, Jepara (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

DI era pandemi Covid-19 ini, merupakan sebuah dilema bagi banyak pihak. Khususnya pihak sekolah atau dunia pendidikan. Kasus pandemi di Indonesia sejak 1 Mei 2020 yang terkonfirmasi positif Covid-19 sudah mencapai 10.551 jiwa (Kartikaningrum, 2020). Peningkatan jumlah pasien yang terpapar positif Covid-19 terus meningkat.

Untuk itu, pemerintah memberikan kebijakan yang tertuang pada Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang ditandatangani Mendikbud pada 24 Maret 2020. Yaitu tentang proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara daring dan bekerja dari rumah.

Saat ini pembelajaran masih terbilang belum mencapai hasil maksimal. Untuk itu, pendidik atau guru berusaha semaksimal mungkin dengan menggunakan berbagai cara, agar sasaran materi dalam pembelajaran dapat tercapai. Di SMPN 2 Nalumsari, Jepara, para guru dengan sigap dan penuh percaya diri melangkah mencari solusi untuk meningkatkan kemampuan pendidik dalam mengatasi situasi pandemi.

Baca juga: Jambret Berjimat di Blora Melempem lawan Emak-Emak

Berbagai model pembelajaran model E-learning dilakukan. Baik menggunakan Zoom, Google Form, Whattsapp, Video, dan lain sebagainya. Tetapi apalah daya kami hanya hanya dapat berkomunikasi di dunia maya. Tentunya banyak kendala atau masalah-masalah. Terutama pada daerah atau wilayah yang jangkauan sinyalnya jelek.

Dalam hal ini, pendidik sulit untuk berkomunikasi. E-learning adalah suatu proses belajar yang difasilitasi dan didukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) (Martin Jeniks, 2003). Dalam hal ini perlu dipahami ulang yang dimaksud e-learning.

E-Learning adalah suatu pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang memanfaatkan teknologi komputer, internet seperti email, forum diskusi elektronik, dan lainnya menggunakan aplikasi Whattsapp, Google Meet, Google Classroom, dan lain sebagainya.

Ini tentunya begitu banyak masalah bermunculan. Pendidik sering dapatkan ketika pedididk memberikan tugas pada peserta didik. Ada yang HP-nya rusak, sinyal jelek, tidak punya pulsa, dan masih banyak kendala lain yang menjadi alasan peserta untuk tidak mengerjakan tugas. Dengan keadaan yang demikian, tidaklah mungkin capaian maksimal pembelajaran dapat tercapai.

Namun demikian, pada masa pandemi banyak pendidik yang kemampuan dan kreativitasnya dalam beraktivitas menggunakan IT naik drastis. Terbukti dari rasa tanggung jawabnya sebagai pendidik yang tidak bisa lepas dari lubuk hati paling dalam untuk mencerdaskan peserta didik. Sehingga sesulit apapun kondisinya, pendidik selalu berusaha memaksimalkan capaian materi pembelajaran.

Untuk itu, pendidik harus kreatif dalam mencari model-model pembelajaran. Untuk itu, sejak awal pandemi Covid-19 diadakan in house treaning (IHT). Tujuannya, agar pendidik dapat memahami dan dapat menyampaikan materi menggunakan berbagai metode. Juga membuat perangkat rencana pembelajaran secara daring.

Dalam IHT diajarkan cara pembuatan perangkat pembelajaran menggunakan aplikasi e-learning. Tetapi, pendidik yang belum terbiasa menggunakan internet menjadi hal yang sangat sulit. Namun sesulit apapun, karena adanya kemauan dan kebutuhan, akhirya hampir semua pendidik di SMPN 2 Nalumsari dapat mengaplikasikan materi IHT.

Belajar merupakan proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan untuk mendapatkan sesuatu seseorang harus melakukan usaha, agar apa yang diinginkan tercapai. Usaha tersebut dapat berupa kerja mandiri maupun kelompok dalam interaksi (Slameto, 2003:13).

Dari penjelasan itu, dapat disimpulkan, dalam peristiwa pasti ada hikmah atau segi positif. Seperti halnya kondisi pandemi ini. Pembelajaran tatap muka tidak dapat dilakukan, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka seorang pendidik harus kreatif dalam model pembelajaran, sehingga materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik.

Dalam pembelajaran daring memberikan dampak pada beberapa pihak. Pertama, orang tua, dengan adanya pembelajaran daring tentunya memerlukan tambahan biaya untuk pembelian kuota internet yang akan menambah beban pengeluaran orang tua. Kedua, guru, karena tidak semua guru mahir menggunkan teknologi atau media sosila sebagai sarana pembelajaran. Untuk itu, kesiapan semua pihak akan menjadi penentu keberhasilan daring. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP