alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

PPKM! Pedagang di Kudus Kibarkan Bendera Putih

Pas Kampanye Heboh, Pas Kami Terpuruk Diam!

28 Juli 2021, 17: 45: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

KIBARKAN BENDERA PUTIH: Selama dua bula ditutup saat ini pelaku wisata di wahana wisata pinus Kajar dawe Kudus mengibarkan bendera putih tanda mereka menyerah untuk berjualan saat PPKM darurat ini.

KIBARKAN BENDERA PUTIH: Selama dua bula ditutup saat ini pelaku wisata di wahana wisata pinus Kajar dawe Kudus mengibarkan bendera putih tanda mereka menyerah untuk berjualan saat PPKM darurat ini. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Sejumlah pelaku wisata di Kudus mengibarkan bendera putih sebagai tanda kekecewaan dan bentuk pasrah atas perpanjangan penerapan PPKM Level 4. Pedagang ingin diperhatikan. Sebab sudah dua bulan tidak jualan karena wisata ditutup. 

“Saat kami terpuruk di mana peran pemerintah untuk melindungi. Jangan pas kampanye aja mencari suara kami. Tetapi saat jadi kami dicampakkan. Padahal kami tak ada pemasukan dua bulan. Jadi mohon beri kelonggaran sedikit saja. Lebih baik ada kelonggaran daripada kami mengandalkan bantuan,” kata pengelola Pijar Park Yusuf. 

Pengibaran itu berlangsung di wisata Pijar Park. Total ada tiga belas pelaku wisata yang terlibat. Jumlahnya dibatasi demi mematuhi prokes. Mereka mengibarkan bendera putih itu di beberapa titik. Di pintu masuk gerbang wisata pijar park hingga areal dalam.

Baca juga: Tim PKM UMK Beri Pelatihan Perajin Pisau untuk Kelola Keuangan

(DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Manajer operasional Pijar Park Maskur menyebut aksi itu sebagai bentuk kekecewaan dan perwujudan jika mereka tengah dalam kondisi sulit. Karena tak ada pemasukan. Sehingga para pelaku wisata terancam colaps.

Terlebih penutupan berbagai tempat wisata di Kudus diakuinya berlangsung lebih dini. Yakni sejak 22 Mei 2021. Sehingga sampai kini sudah dua bulan lebih. “Hanya resto kami yang buka. Itu pun pengunjung tak seberapa. Dan penghasilan dari itu tak mampu menutupi cost operasional,” jelasnya.

Dampaknya selain hanya mempekerjakan separuh karyawannya, banyak pedagang atau food court yang terpaksa tak bisa melapak di areal lokasi wisata tersebut. “Total karyawan ada 15, sebagian kami rumahkan. Di food court ada 23 orang yang tidak bisa melapak di sini. Karyawan kafe 8 orang, masuk separuh. Dan pekerja lainnya 10 orang,” jelasnya.

Yusuf tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah. Sebab sejauh ini juga tak ada solusi atau pun relaksasi yang diterima. Sehingga untuk tetap bisa bertahan harus menjual berbagai aset.

“Aset ini bukan keuntungan usaha. Tetapi milik pribadi. Terpaksa seperti itu agar tetap bisa membayar karyawan. Pelaku wisata lainnya bahkan ada yang memberhentikan semua karyawannya. Dan ada pula yang menunggakkan gaji karyawan karena tak ada pemasukan selama tutup,” terangnya.

Untuk menambal cost operasional berupa perawatan hingga gaji karyawan, Yusuf mengaku telah menjual dua aset. Satu mobil dan satu motor. Totalnya laku hampir Rp 100 juta. Uang itu sebagian sudah hanis, sementara sisanya sebagai ancang-ancang bila penutupan terus berlanjut.

Yusuf secara pribadi bahkan sudah merasa kesulitan secara ekonomi. Jika penutupan terus diperpanjang tanpa ada solusi dari pemerintah, menurutnya mayoritas pelaku wisata akan terpuruk. Untuk itu dia berharap ada kelonggaran bagi pelaku wisata.

“Tolonglah kami keran dibuka sedikit. Maksimal diperbolehkan buka 30 persen tak mengapa. Yang penting bisa buat kebutuhan keseharian. Dan kami siap dengan aturan prokes ketat,” imbuhnya.

Sekertaris Dinas Pariwisata dan Budaya Kudus Mutrikah menyebut pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab kebijakan perpanjangan PPKM Level 4 dan penutupan tempat wisata merupakan kebijakan pusat.

“Kami tidak bisa mengambil kebijakan sendiri. Hanya mengikuti aturan pusat. Tak bisa menolak atau membantah,” jelasnya.

Terkait bantuan bagi pelaku wisata, dia menjelaskan jika pihaknya telah berkoordinasi dengan Disnakerperinkop dan UKM. Bahwa telah diusulkan agar pelaku wisata hingga pedagang kaki lima di Kudus mendapatkan bantuan. “Sudah kami data para pelaku wisata di Colo dan desa-desa wisata lainnya yang ada di Kudus,” terangnya. (tos)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP