alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Penguatan Literasi di Masa Pandemi

28 Juli 2021, 11: 23: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

Tanti Dewi, S.Pd.; Guru SDN 2 Jepon, Kec. Jepon, Kab. Blora

Tanti Dewi, S.Pd.; Guru SDN 2 Jepon, Kec. Jepon, Kab. Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

MASA pandemi Covid-19 membuat pola pendidikan berubah. Semula proses belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka. Tetapi kini, proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sekolah tatap muka langsung belum diperbolehkan, karena kita harus turut memutus wabah mata rantai Covid-19.

Bagaimanapun, hambatan pasti akan muncul dalam usaha melakukan perubahan. Di dunia yang mengalami perubahan sangat cepat, di mana kita tidak dapat memperkirakan teknologi apa yang akan bermunculan dimasa yang akan datang. Menjadi penting untuk mengajarkan para siswa bagaimana cara belajar dan mengajar secara mandiri, bukan hanya dari segi pengetahuan tapi juga keterampilan, sikap dan nilai yang mampu menjadikan mereka membentuk citra diri yang siap berkompetisi. Gerakan literasi yang semula dapat dilakukan secara langsung dengan membaca di kelas selama lima menit sebelum pembelajaran dimulai,  sekarang sudah tidak bisa lagi dilaksanakan secara langsung.

Kondisi riil bahwa anak tidak kesekolah, tetapi belajar dari rumah secara daring/online membuat kegiatan membaca siswa menurun. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berbasis daring, berdampak pada imobilitas akibat aktivitas dengan gawai, frekuensinya jauh lebih banyak daripada anak bergerak dan berolahraga. Seharian bisa saja menunduk terus ke ponsel. Anak menjadi asyik dengan dunianya sendiri dan berakibat kurang peka terhadap lingkungannya. Jauh dari kebiasaan membaca dan lebih dekat dengan ponsel, akhirnya budaya membaca terlupakan. Bukannya membuka buku pelajaran sekolah, bukannya mencari literatur online, tetapi yang muncul justru anak kelihatan asyik dengan ponselnya untuk main game online dan asik dengan fitur-fitur yang disajikan.

Baca juga: Awalnya Cuek, Malah Jadi Juara

Aktifitas yang semula membaca buku pelajaran, LKS, buku tematik, akhirnya menjadi hilang dan tergantikan dengan ponsel. Sisi lainnya ada siswa yang karena tempat tinggalnya tidak memadai seperti sinyal susah dan tidak mempunyai ponsel selama belajar di rumah akhirnya tidak bisa mengikuti proses pembelajaran secara online/daring. Sekalipun semua online, asyik dengan gawai, tetapi tetap harus berinteraksi dengan anak, sehingga dapat menstimulus dan memunculkan ide anak untuk bertanya serta bereksplorasi lebih jauh.

Jika siswa membaca, berarti ada aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dengan cara melihat, memahami pesan yang tertulis, dan mengambil informasinya. Kalau membahas manfaat membaca, maka ada banyak sekali seperti dapat menambah wawasan yang semula tidak tahu menjadi tahu. Jadi jika setelah membaca, tetapi kita tidak tahu atau tidak paham apa yang dibaca, berarti membacanya belum efektif. Dalam bahasa konkretnya berarti belum membaca. Membaca harus sekali membaca jadi semakin tahu dan semakin ingin baca lagi yang lainnya. Kebiasaan membaca dapat melatih diri untuk mengemukakan gagasan lewat tulisan.

Edukasi yang berkelanjutan terkait membaca (literasi) dapat memperkaya khazanah keilmuan siswa dalam pengetahuan dan keterampilan. Dengan penguatan literasi di masa pandemi ini, siswa dapat mencari informasi yang mendukung pembelajaran yang berprinsip berinternet sehat, misalnya mengakses soal-soal ujian, mengikuti webinar, dan menonton youtube edukasi. Siswa juga diberi latihan membaca selama 10-15 menit untuk membaca setiap hari secara konsisten, kemudian durasi waktu bisa ditambah sesuai dengan kemampuan siswa.

Semoga dengan minat baca siswa yang tinggi, maka akan tercipta budaya positif sehingga mewujudkan pembelajar cerdas sepanjang hayat. Semoga dengan gerakan membaca (literasi) bisa melahirkan siswa cerdas yang berkarakter.  (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya