alexametrics
Minggu, 24 Oct 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
M Emil Hakim Aba, Peraih I-Talent

Awalnya Cuek, Malah Jadi Juara

28 Juli 2021, 11: 09: 42 WIB | editor : Ali Mustofa

Muhammad Emil Hakim Aba

Muhammad Emil Hakim Aba (DOK. PRIBADI)

Share this      

Prestasi internasional berhasil diraih Muhammad Emil Hakim Aba. Ia meraih juara III International Islamic Talent (I-Talent) cabang lomba Ikon Al-Fateh Discourse. Padahal awalnya sempat cuek tak berharap juara.

M. KHOIRUL ANWAR, Radar Kudus

JAS hijau berlogo Universitas Islam Nahdlatul Ulama jadi outfit  Muhammad Emil Hakim Aba saat ke kampus. Membalut kemeja berdasi yang ia pakai.

Baca juga: Rerie: Pelonggaran pada PPKM Level 4 Harus Diantisipasi dengan Baik

Dia berkenan berbagi cerita bersama Jawa Pos Radar Kudus tentang pengalamannya mengikuti ajang internasional. Saat mengikuti International Islamic Talent (I-Talent) cabang lomba Ikon Al-FatehDiscourse.

Ajang itu, diselenggarakan Academy Contemporary Islamic Studies, UiTM Malaysia. Itu merupakan semacam lomba pidato atau ceramah. Emil -sapaan akrabnya- bersaing dengan puluhan mahasiswa dari berbagai negara.

Awal mula dia tahu lomba itu, dari Grup Whatsapp Fakultas Syari'ah dan Hukum Unisnu Jepara yang di-share dosennya. Namun waktu itu tak digubris. Cuwek. Tidak minat mengikuti lomba.

Namun, dia kemudian dihubungi salah satu dosen untuk mengikuti salah satu cabang lomba kaligrafi di ajang itu. Dia pun menolak. Karena tidak punya basic di seni menulis indah itu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ia putuskan mengikuti cabang ikon Al-Fateh atau ceramah. ”Akhirnya saya pokoknya ikut saja. Juara urusan belakang," ujarnya.

Mahasiswa semester IV itu, butuh waktu dua hari menyusun materi. Pada ketentuan lomba, peserta diharuskan mengirim video maksimal 10 menit. Menggunakan bahasa Inggris atau Melayu dengan tema tentang pendidikan.

Dari 40 lomba yang ia ikuti selama setahun terakhir, lomba itu yang paling menantang. Sebab, harus mengalih bahasakan dari bahasa Indonesia ke Melayu. ”Hampir sama memang. Tapi sulitnya minta ampun. Belum lagi sambil disampaikan materinya secara lisan. Intonasi, mimik, dan artikulasi harus tepat. Biasanya bahasa Indonesia, lha ini bahasa Melayu," tuturnya.

Ia mengangkat materi tentang merefleksikan kembali makna pendidikan di tengah pandemi. Ternyata, videonya masuk 10 besar. Video itu diunggah penyelenggara di akun Facebook. ”Kaget juga. Lihat video pertama keren, milik peserta dari Malaysia. Video kedua dari Mesir, juga keren. Video saya yang ketiga. Loh. Alhamdulillah masuk," terangnya.

Setelah proses penilaian, tiba waktu pengumuman. Justru saat pengumuman melalui siaran langsung itu, ia melewatkan. Emil bersama teman-temannya sedang bersih-bersih gedung NU. Tiba-tiba ada pemberitahuan di Group WA. Ramai ucapan selamat kepadanya. ”Tak menyangka kalau dapat juara," katanya.

Raihannya itu, jadi prestasi ke-13 baginya selama setahun terkhir. Ia mengakui ingin mengasah kemampuannya di bidang public speaking. Saat ini, ia juga sedang menunggu hasil lomba orasi tingkat nasional. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP