alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Gus Mus: Pandemi Ini Wabah Kemanusiaan

27 Juli 2021, 10: 51: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

DAWUH: Gus Mus hadir secara virtual menjadi pembicara Ngaji Budaya Suluk Maleman, belum lama ini.

DAWUH: Gus Mus hadir secara virtual menjadi pembicara Ngaji Budaya Suluk Maleman, belum lama ini. (SULUK MALEMAN FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PATI - KH. Ahmad Mustofa Bisri hadir mengisi Suluk Maleman edisi ke-115, Sabtu (24/7) malam. Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini memberi pesan mendalam kepada jamaah yang hadir secara daring.

Gus Mus mengingatkan jika pandemi ini merupakan wabah kemanusiaan, bukan persoalan antar etnis, dan organisasi maupun keagamaan.

Gus Mus menjelaskan betapa Tuhan begitu memuliakan manusia yang bahkan diangkat dari hamba menjadi penguasa di bumi ini. Hanya saja seringkali manusia terlalu sadar sebagai penguasa sehingga membuat lupa pada kehambaannya.

Baca juga: Pembelajaran Google Meet di Masa Pandemi

”Hal itulah yang seringkali membuat kesalahan menumpuk-numpuk. Sehingga dengan semakin banyaknya kesalahan manusia kita akhirnya disetrap oleh Rab atau yang bisa disebut Sang Pendidik,” ujarnya.

Hubungan sosial yang dulu terjalin dengan baik, sekarang ini dirasakannya hampir sudah tidak ada lagi. Banyak yang melupakan persaudaraan antar manusia, bahkan melupakan bahwa semuanya bersaudara dari nabi Adam.

Dengan pandemi Covid-19 ini, lanjut Gus Mus, manusia tengah diperingatkan jika dunia yang dikuasainya memang enak tapi begitu menipu. Kalaupun senang dengan dunia diharapkan jangan terlalu akrab dan harus berjarak.

”Kita semua sibuk dengan urusan dunia. Tak berjarak dengan dunia ini. Tapi dengan keluarga, anak, bahkan dengan Allah justru berjarak sangat jauh. Tidak jarang salat justru jadi sambilan,” terangnya.

Oleh karena itu Gus Mus menyebut sudah seharusnya saat ini umat muslim seharusnya justru berterima kasih atas kondisi yang tengah terjadi. Ini menjadi bentuk teguran dari Allah.

”Kami harus berterima kasih karena Allah masih ngeman. Kita masih ditegur. Salah satu caranya ingatlah jika kita semua ini masih bersaudara,” imbuhnya.

Pengasuh pondok pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang itu juga berharap banyaknya kesalahan yang dilakukan umat manusia bisa terbebaskan dengan pandemi kali ini.

”Karena kalau dalam pemahaman Islam, sakit itu, ketidaknyamanan itu akan menjadi kafarat atau menjadi pembebasan dari kesalahan yang telah dilakukan,” harapnya.

Diapun meminta agar segala persoalan diserahkan pada ahlinya masing-masing. Persoalan kesehatan biarkan dokter dan ahli kesehatan. Sementara persoalan ekonomi harus diserahkan pada ekonom.

Sementara itu Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Ngaji NgAllah Suluk Maleman menyebut tema “Sembuh, Indonesia Sembuh” yang diangkat kali ini memang bukan sekadar judul, melainkan doa bersama agar bangsa ini bisa segera diberi kesembuhan. Tak hanya fisik tapi keseluruhan.

”Lewat pandemi mari tingkatkan gotong royong. Itulah kekuatan kita. Warga bantu warga,” ajaknya.

Dikatakannya, paling penting saat masa pandemi seperti sekarang ini adalah membangun kegotongroyongan. Yakni mulai di tingkat terkecil seperti RT maupun RW bahkan desa. Hal itulah yang nantinya akan membantu masyarakat untuk bangkit kembali.

“Saat ini ada pelajaran besar. Pandemi membuka betapa banyak kekurangan yang dimiliki manusia,” imbuhnya. 

(ks/aua/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya