alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Waspada Pembelajaran Daring pada Anak

26 Juli 2021, 11: 20: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

Hari Sulistiyani, S.Pd,SD.; Guru SDN 1 Tutup, Kec. Tunjungan, Blora

Hari Sulistiyani, S.Pd,SD.; Guru SDN 1 Tutup, Kec. Tunjungan, Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PEMERINTAH melalui kemendikbud memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh bagi sekitar 94 persen siswa di daerah zona merah,orange dan kuning. Kemudian 6 persen sisanya di zona hijau diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah dengan protokol kesehatan yang ketat. Tahun ajaran baru akan dimulai 12 Juli nanti dan menggunakan sistem daring (dalam jaringan) atau PJJ (pembelajaran jarak jauh). Pembelajaran daring seperti yang kita ketahui merupakan pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung dengan menggunakan perangkat  berupa telepon pintar, tablet dan laptop atau komputer yang sering kita sebut dengan istilah gawai yang terkoneksi dengan internet.

Pemerintah memproyeksikan pembelajaran daring akan berlangsung sampai akhir tahun 2021, berarti anak akan belajar dari rumah kurang lebih selama satu semester ke depan. Langkah ini bertujuan untuk memutus mata rantai Covid-19 khususnya anak-anak yang  rentan terhadap paparan virus. Pihak sekolah dan orang tua perlu menyiapkan inovasi dan strategi khusus untuk mencegah dampak negatif dalam hal tersebut.

Ketika proses pembelajaran daring artinya anak akan berinteraksi dengan gawai selama berjam-jam, yang berakibat anak menjadi kecanduan terhadap gawai. Tidak sedikit anak usia sekolah sudah dibekali gawai sendiri terlebih situasi saat ini.

Baca juga: Disdik Keluarkan SE Larang Sekolah Jualan Seragam

Banyak cara bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mencegah anak-anak kecanduan gawai di masa-masa pembelajaran daring/pjj antara lain yaitu: pertama,kenali gejala kecanduan. Jika anak tidak bisa lepas dari gawai dan cenderung gelisah artinya ada indikasi anak mulai kecanduan gawai. Apabila sudah menunjukkan dampak yang serius ajaklah anak anda konsultasi dengan psikolog anak. Namun apabila masih ringan cukup dengan stimulus positif dari orang tua.

Kedua, buatlah kesepakatan pengunaan gawai. Ketegasan orang tua sangat diperlukan, diskusikan dengan anak tentang waktu menggunaka gawai. Biasanya sekolah akan memberikan jadwal PJJ pada waktu tertentu. Segera komunikasikan ke pihak sekolah jika tidak ada tugas untuk membatasi penggunaan gawai pada anak. Terlebih jika pengawasan anak dirumah kurang maksimal karena kesibukan orang tua di tempat kerja.

Ketiga, berikan reward sistem pemberian reward bisa memberi solusi menarik bagi orang tua dan anak. Kita bisa memberikan reward sederhana misalkan dengan memberi makanan ringan kesukaan anak apabila berhasil mengontrol pemakaian gawainya dengan baik.

Keempat, melakukan kegiatan menarik dengan anak salah satu alasan anak bermain gawai adalah tidak adanya aktivitas lain yang dapat dilakukan. Luangkan waktu anda dengan anak melakukan kegiatan baru yang menyenangkan seperti bersepeda, membaca buku, kegiatan ringan lainnya yang sekiranya bisa mengalihkan perhatian anak pada gawai.

Kelima, berikan contoh yang baik cara ini sangatlah efektif dan anak akan mengalami proses meniru dari apa yang dia lihat. Sepatutnya orang tua bisa memberikan contoh positif pada anak dengan mengurangi pemakaian gawai ketika di rumah terkecuali untuk keperluan yang sangat penting seperti urusan pekerjaan.

Teknologi tidak selalu memberikan dampak negatif semua kembali lagi bagaimana kita mengendalikannya termasuk menggunakan gawai oleh anak pada masa pembelajaran daring sudah saatnya Indonesia melakukan transisi dibidang teknologi tak terkecuali dalam dunia pendidikan.Melalui pembelajaran daring diharapkan kita dapat mempersiapkan generasi muda yang paham teknologi dan siap untuk bersaing pada era industri 4.0 secara global melalui usaha integrasi berbagai pihak. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya