alexametrics
Sabtu, 18 Sep 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Ahmad Setio Widodo, Pendiri Fastco Blora

Awal Berdiri Berbagi dengan Ruang Dapur Ibu

25 Juli 2021, 21: 29: 28 WIB | editor : Ali Mustofa

PIONIR: Ahmad Setio Widodo (kiri) bersama kawannya dari Prancis Mr. Jarome belum lama ini.

PIONIR: Ahmad Setio Widodo (kiri) bersama kawannya dari Prancis Mr. Jarome belum lama ini. (FASTCO FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Ahmad Setio Widodo berhasil membangun kursus bahasa Inggris Fastco di Blora. Bekal kursus bahasa di Pare, Kediri, Jatim dan University of Kansas membuatnya percaya diri. Dari ruang kursus yang berdekatan dengan dapur milik ibunya, sekarang lokasi kursusnya lebih representatif. Siswanya sudah mencapai ribuan.

SUBEKAN, Radar Kudus

Suara berbahasa Inggris terdengar dari dalam halaman Fastco. Para siswa yang belajar di kursus itu terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Jika kita berkomunikasi tidak dengan bahasa Inggris maka terasa asing.

Baca juga: Komitmen Kuat Pemerintah dan Masyarakat Prasyarat Pengendalian Covid

SEMANGAT: Ahmad Setio Widodo bersama guru dan siswa di tempat belajar Fastco, Blora, belum lama ini.

SEMANGAT: Ahmad Setio Widodo bersama guru dan siswa di tempat belajar Fastco, Blora, belum lama ini. (FASTCO FOR RADAR KUDUS)

Fastco adalah tempat belajar bahasa Inggris yang didirikan Ahmad Setio Widodo. Sudah tujuh tahun lokasi itu berdiri. Ribuan orang pernah mengenyam pendidikan bahasa Inggris di tempat yang beralamat Jalan Gunung Wilis, Nomor 41, Kelurahan Tempelan, Blora tersebut.

Siswanya mulai dari anak-anak sampai sampi orang dewasa. Dari kalangan wiraswasta sampai pegawai pemerintahan.

Kepada koran ini, Ahmad Setio Widodo mengaku, Fastco mulai dirintis 2013 silam. Namun bener-bener berjalan baik setahun kemudian atau 2014. Saat itu dirinya lulus kuliah dari IAIN Syech Nurjati Cirebon. Atau setelah ia kembali dari kampus University Of Kansas Amerika Tengah.

”Awal mula tertarik bahasa Inggris ketika saya mendapat kesempatan untuk kuliah gratis oleh paman saya di Cirebon. Saat itu ambil jurusan bahasa Inggris,” ucapnya.

Tak ingin mengecewakan sang paman, anak pertama dari tiga bersaudara ini terus mengasah kemampuannya berbaha asing tersebut. Caranya dengan getol belajar bahasa Inggris dengan berbagai metode.

“Selain itu, saya mengikuti nasehat temen-temen yang sudah bisa berbahasa Inggris. Kemudian saya mempraktikkan. Saat itu saya didampingi teman yang pintar bahasa Inggris. Alhamdulillah bisa saya rasakan sampai saat ini,” tambahnya.

Jebolan SMA 1 Tunjungan Blora ini mengaku, awal mula belajar bahasa Inggris tidak mudah. Butuh keseriusan dan kedisiplinan. Setelah beberapa bulan belajar bahasa Inggris secara intensif. Akhirnya mulai mampu berbicara bahasa Inggris. Meski jauh dari kata sempurna.

”Beranjak semester tiga atau saat liburan kuliah, saya pergi ke Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jatim. Hijrah untuk belajar pada empunya. Di sana saya bertemu Mr. Faruq.  Kemudian saya belajar dengan beliau sekitar 2-3 bulan,” ucap anak dari pasangan Sunaryo dan Sri Sulistyowati.

Setelah selesai liburan dan kembali masuk kuliah, dia memutuskan bergabung dengan temannya. Menjadi mentor bahas Inggris. Ini semata-mata untuk mengembangkan ilmu dan metode yang didapatkan dari kampung Inggris.

“Alhamdulillah, dengan niat untuk berbagi ilmu, kemampuan bahasa Inggris saya semakin meningkat. Karena saya selalu mempraktikkan bahasa Inggris itu saat mengajar,” tegasnya.

Selain itu, dia juga ikut dalam organisasi kampus Inggris. Sehingga dia lebih mudah mencari teman dan berlatih bahasa Inggris. “Saat liburan, saya selalu pergi ke Kampung Inggris (Pare, Kediri, Jatim, Red) lagi. Namun bukan lagi belajar. Melainkan jadi pengajar. Di situlah saya bisa mendapatkan metode bahasa Inggris yang cepat, tepat, menyenangkan dan berkualitas,” tambahnya.

Tahun 2011, ayah satu anak ini mendapat informasi beasiswa untuk pertukaran pelajar ke Amerika dari internet. “Kemudian saya menanyakan kepada senior dan dosen untuk ikut beasiswa tersebut. Setelah mempersiapan segala sesuatunya, akhirnya saya bisa ikut. Waktu itu pesertanya sekitar tiga ribu orang. Lolos 20 orang. Salah satunya saya,” ucapnya.

Saat hendak mengikuti tes, dia tidak memiliki uang. Dia juga kehilangan sepeda motor dan helm. Sehingga dia terpaksa nebeng teman-temannya ikut tes seleksi. Teman-temannya tereliminasi. Hanya dia yang lolos.

“Saat itu tidak langsung dikabari siapa yang lulus. Setelah tiga bulan berlalu, saya ditelpon pihak Jakarta untuk memberi selamat. Awalnya saya pikir itu penipuan. Ternyata beneran. Saya lolos dan bisa ikut beasiswa. Seminggu berikutnya saya pergi ke Jakarta dan membuat paspor dan cek kesehatan. Satu bulan kemudian berangkat ke Amerika,” imbuhnya.

Selama enam bulan di University of Kansas Amerika Tengah, dia mendapat banyak pelajaran. Mulai kedisiplinan waktu, metode belajar bahasa Inggris, mengasah kemampaun, dan lainnya.

“Di sana kami belajar dengan para guru besar di Amerika. Selain itu mempelajari budaya dan keyakinan mereka,” tambahnya.

Menurutnya, di Amerika, metode mengajarnya beda dengan di Indonesia. Di sana, membuat bagaimana siswa lebih antusias belajar. Sehingga belajar bisa dari kemauan diri sendiri. Sebab belajar tidak bisa dari paksaan orang lain. Selain itu karakter itu terbentuk oleh metode yang diajarkan dan peraturan di kampus sangat ketat. “Mereka juga sangat disiplin soal waktu. Tidak ada kata telat dan terlambat. Sekamar satu dengan orang Jepang. Di sana juga memanfaatkan teknologi. Seperti belajar dengan internet, medsos, dan proyetor setiap waktu,” tambahnya.

Setelah pulang dari Amerika, ayah dari Ahmad Tsaqif Rayyan Athariz ini fokus menyelesaikan sekripsi dan wisuda. Sempat ingin melanjutkan kuliah S2 di Australia. Namun saat tiba di Blora, hati kecilnya terpanggil untuk ikut mencerdaskan anak-anak Blora soal bahasa inggris.

“Sejak saat itu, saya mulai mengajar bahasa Inggris di rumah. Menggunakan fasilitas seadanya. Saya harus berbagi ruangan degan dapur milik ibu saya. Siswa pertama adalah adik-adik saya dan teman-temannya. Sehinga jadi seperti ini,” bebernya.

Suami dari Siti Mardhiyah ini mengaku, saat itu terbesit nama Fastco. Yang artinya, Fastabiqul Khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan lambang garis 9 dan Bintang 9. “Tahun 2014 siswa mulai banyak. Sudah 50-an. Mulai dari sekolah dan umum. Sampai sekarang sudah ribuan,” jelasnya.

Ahmad Setio Widodo mengaku, saat ini lulusan dari Fastco kebanyakan masuk di polisi, kapal pesiar, ikatan dinas, dan kerja di berbagai bidang. Ada juga yang di luar negeri. “Semua kalangan. Mulai dari playgroup, pelajar, ASN, Polisi, pembisnis, dan lainnya. Mulai dari anak petani hingga ASN. ”Kasat Lantas Polres Blora juga pernah belajar di Fastco. Serta Staf ahli bupati,” bebernya.

Selama Tujuh tahun berdiri, sudah ribuan yang pernah belajar dari Fastco. ”Pengajar saat ini ada lima orang. Sehari ada 15 kali pertemuan. Sekali pertemuan 15 orang. Sekarang maksimal 8-10 orang. Mulai jam 08.30-20.00. Pelajaran selama 01.30 menit,” tambahnya.

Selama tujuh tahun ini dia merasa senang bisa mendidik dan membantu mencerdaskan anak bangsa. Sebab pendidikan bahasa Inggris di Blora itu kurang. Dia ingin mendorong orang Blora bisa memiliki daya saing dan posisi tawar saat bekerja di tempat sendiri. Sehingga mereka ikut berpartisipasi dalam mengelola SDA yang ada. Sekarang bahasa Inggris jadi kebutuhan bahasa sehari-hari.

”Mengajar bahasa inggris itu menyenangkan dan bermanfaat. Untuk para pelajar, belajar bahasa Inggris itu mudah. Namun tergantung metodenya. Semakin menyenangkan akan semakin mudah dan menarik untuk dipelajari. Harapannya, semakin banyak orang yang bisa berbahasa Inggris, sehingga akan semakin mudah Blora menjadi kota berkembang,” ucapnya. (*/)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya