alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Drg. Edlyn Nathania, Wakil Sementara Karumkit

Tertarik Jadi TNI setelah Tugas Dokter di Papua

22 Juli 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Tertarik Jadi TNI setelah Tugas Dokter di Papua

Tak layaknya direktur rumah sakit pada umumnya yang dinas dengan pakaian dokter, Lettu Ckm (k) drg. Edlyn Nathania berdinas dengan seragam militer. Dia menjadi Wakil Sementara Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Kartika Husada Kudus.

EKO SANTOSA, Radar Kudus

PEREMPUAN kelahiran Jakarta, 15 Desember 1987 ini, mulai mengisi jabatan Wakil Sementara Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Kartika Husada Kudus sejak April 2021. Baru sekitar tiga bulan. Semula dia menjadi kepala Klinik Pratama Hestiwirasakti Salatiga.

Baca juga: Sama-Sama Punya ”Simpanan”

Perjalanan karir dokter gigi yang juga merangkap menjadi anggota TNI itu unik. Sebab, bermula dari ketidaksengajaan. Sejak kecil tak pernah terbersit keinginan menjadi aparat. Tetapi pengalamannya selama bertugas dua tahun di Papua sebagai dokter, membuatnya kagum dan ingin mengabdi pula sebagai anggota TNI.

Semula dia mendaftar di dua wilayah. Di Bangka dan Papua. Akhirnya diterima untuk penempatan di Papua. Di wilayah Arso Barat. Hampir perbatasan dengan Papua Nugini. Selama dua tahun bertugas, Edlyn dihadapkan pada kondisi sulit. Bencana dan perang antarsuku sering terjadi. Bahkan, tiap Minggu dia harus pindah tempat dari rumah-rumah warga. Agar tidak sendirian dan menetap. Karena kondisinya tidak kondusif.

Dalam kondisi sulit itulah, dia banyak dibantu TNI. Dia diselamatkan dari situasi banjir bandang hingga dijaga keamanannya dari konflik. Dia juga melihat betul aparat berjibaku saat menyelamatkan warga. Tidak pandang bulu.

Karena ditolong dan banyak menyaksikan pengorbanan aparat itulah, Edlyn tertarik dan berkeinginan menjadi TNI. Akhirnya tugasnya sebagai PTT Kemenkes pada Desember 2015.  Edlyn benar-benar ingin mewujudkan keinginannya itu. Dia mencoba mendaftar TNI.

Benar saja, pada 2016 Edlyn segera menunaikan niat itu dengan mendaftar bersama temannya. Pada Maret 2017, dia diterima di akademi militer (akmil). Dan menjalani pendidikan hampir setahun. Setelah itu, ada pendidikan tiga matra. Matra darat, laut, dan udara. ”Saya di angkatan darat,” terang lulusan dokter gigi Universitas Tri Sakti pada 2013 ini.

Sesudah pendidikan di Matra itu, pada 2018 dia mulai ditempatkan pada masing-masing matra. Edlyn ditempatkan di Jakarta masuk di corps kesehatan militer (ckm).

Meski menjadi militer lewat jalur dokter, Edlyn mengaku latihannya sama saja dengan TNI pada umumnya. ”Orang mikirnya dokter militer pendidikan biasa. Padahal juga sama kayak yang militer lain. Berat. Ada belajar intel, fisik, dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, mendapat tugas menjadi wakil sementara kepala Rumah Sakit (Karumkit) Kartika Husada Kudus, justru membuat orang tua Lettu Ckm (k) drg. Edlyn Nathania khawatir. Sebab, dia mengemban tanggung jawab saat Kota Kretek berada pada zona hitam Covid-19.

Orang tuanya khawatir hingga sempat shock. Takut bila anak perempuannya itu ikut terpapar Covid-19. Sebab, setiap hari harus bersinggungan dengan pasien Covid-19. Orang tuanya juga kerap memintanya segera kembali ke Salatiga, tempat dinasnya semula. Yakni sebagai kepala Klinik Pratama Hestiwirasakti Salatiga.

”Saking khawatirnya, mama sempat telepon lima kali sehari. Selalu tanya kabar gimana kondisi saya, sakit apa tidak, dan lain-lain. Terlebih saat itu Kudus menjadi isu nasional,” ujarnya.

Terlebih bapaknya, Henry Siringoringo dan ibunya, Ellen Hutabarat bukan dari kalangan medis atau aparat. Jadi tak memahami jika Edlyn hanya bisa menerima tugas itu. Tanpa tahu sampai kapan akan berakhir. ”Dikira saya hanya tugas beberapa hari. Jadi, saat telepon selalu disuruh balik ke Salatiga. Padahal kan nggak semudah itu. Saya justru berpikir dalam kondisi sulit ini, bagaimana kami bisa berkontribusi bagi masyarakat,” terangnya.

Untuk membuat orang tuanya tenang, Edlyn bercerita jika dia selalu menjaga kondisi. Termasuk mengonsumsi vitamin dan selalu waspada.

Edlyn mengakui jika kondisi di rumah sakit yang dipimpinnya memang sempat kewalahan. Tatkala ada 16 dari total 98 tenaga kesehatan (nakes) terpapar Covid-19. Biasanya ada tiga sif nakes, menjadi hanya dua.

Dia juga merasakan bagaimana terkurasnya waktu dan tenaga saat masa sulit itu. Dia berangkat sejak pukul 07.00 dan baru bisa pulang pukul 21.00. Bahkan sampai rumah dinasnya, dia belum beristirahat. ”Pukul 01.00 juga masih dihubungi. Ada yang pinjam ambulans dan lain-lain,” terangnya.

Bahkan dia juga pernah dihadapkan pada kondisi sulit ketika stok oksigen terbatas dan pengiriman dari distributor terkendala. Jadi, membuatnya berputar otak. ”Stok di Samator oksigen ada, tapi tidak bisa mengantar, karena armada terbatas. Akhirnya kami ambil sendiri ke Samator dengan mobil ambulans. Sebab, menyewa truk akan menambah biaya. Kami aambil dua hari sekali. Tiap ambil 10 tabung. Kami khawatir kalau terlambat, karena bisa bahaya,” jelasnya. (*/ury)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya