alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Peran Guru dan Orang Tua di Masa Pandemi

21 Juli 2021, 12: 57: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

Agus Purwanto; Guru IPA SMP 5 Kudus

Agus Purwanto; Guru IPA SMP 5 Kudus (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PERAN sekolah sebagai tempat mencerdaskan kehidupan bangsa semakin berkurang sejak siswa diwajibkan belajar di rumah. Dalam UUD 1945 BAB XA tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 28C, Ayat 1 menyebutkan, setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan serta teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

SE Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 pada masa pandemi Covid-19 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid-19 tentang Belajar dari Rumah. Dalam aturan itu, disebutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa harus terbebani tuntutan menyelesaikan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Untuk mendukung PJJ, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi bantuan kuota gratis kepada siswa, mahasiswa, guru, dosen, tenaga kependidikan, dan lainnya, seperti ditulis Kompas.com, Kamis (31/12/2020).

Baca juga: Semen Gresik Salurkan 47 Hewan Kurban untuk Masyarakat

Tantangan besar sebagai seorang pendidik untuk menanamkan ilmu pengetahuan, melatih keterampilan siswa meningkatkan kemampuan seni dan budaya, sampai pembentukan karakter genersi muda sesuai kepribadian bangsa.

Pemerintah selalu turut aktif mengikuti revolusi industri 4.0 mendapat dukungan dari  kalangan akademisi dengan  menciptakan teknologi pendidikan berbagai macam model mulai berupa aplikasi, website, podcast, class room, dan lainnya demi menciptakan keadaan efisien untuk generasi muda/milennial saat belajar mandiri.

Namun, sisi lain bidang ilmu pengetahuan dan teknologi juga sangat pesat perkembangannya. Terutama di dunia game online dan berbasis mobile sudah terbukti memiliki jumlah pengguna hingga ratusan juta di seluruh dunia. Salah satu fenomena game Battle Royale mengajak pemain melakukan survival layaknya di dunia nyata dengan melawan pemain lain dan mencari perlengkapan untuk bertempur. Jenis permainan Battle Royale terlaris dapat dimainkan pencinta game mulai dari PUBG, Free Fire, Fortnite, dan lain-lain.

Kenyataan di lapangan, peserta didik dalam mengikuti PJJ mengalami kebosanan saat guru menyajikan materi ilmu pengetahuan dengan menggunakan aplikasi penunjang belajar.  Namun, anak didik sangat memahami dan menikmati saat  memainkan game online. Sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Bahkan, mereka rela mengeluarkan dana tidak sedikit untuk membayar salah satu aplikasi game demi memperoleh kepuasan.

Seni tradisional berbasis budaya dalam sajian manual atau tatap muka langsung sulit dilakukan pada masa pandemic. Akhirnya para ahli seni mulai menyajikan tutorial seni secara online. Benar, pelajaran seni dalam bentuk online dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam bidang seni. Tapi, untuk siswa pemula akan mengalami banyak kesulitan dalam mengikuti instruksi gerakan. Apalagi siswa tak dituntut mempelajari seni itu.

Youtube tak mau melewatkan peluang menciptakan seni baru yang  lebih mudah dan menyenangkan bagi semua anak. Muncul game bertema menari yang disukai anak muda, seperti Hip Hop Dance School, Stap Mania, Ballet Dancer, Dance On Mobile, atau Love Dance. Ternyata, anak lebih menyukai seni tari modern dalam bentuk game daripada seni tradisional online. Tidak dimungkiri lagi, kalau pembinaan seni tradisional akan tinggal kenangan, karena generasi muda tidak mengenal lagi seni tradisional warisan asli bangsa.

Pembinaan bidang karakter, anak didik dapat mencari dengan leluasa sesuai kelompok bermainnya. Karakter 3S (senyum, salam, sapa) yang biasa dilakukan di sekolah hampir habis terkikis karena berbagai sebab. di antaranya frekuensi guru bertemu anak semakin terbatas, masker memungkinkan senyum tak terlihat, dan tegur sapa jarang dilakukan karena wajah tidak terlihat jelas.

Lepas dari sekolah dengan kondisi ”tidak menyenangkan”, tetap masih banyak kelebihan sekolah dibanding rumah dalam membentuk kepribadian utuh anak. Dalam  menuntut ilmu di sekolah mereka akan memperoleh berbagai macam pengalaman. Baik pengalaman dalam pergaulan, bersosialisasi dengan teman, bahkan pembentukan karakter dari guru maupun teman yang tidak mereka jumpai di rumah.

Setelah memperhatikan kelebihan dan kekurangan tentang handphone (HP), selaku pendidik harus bijak dalam menyikapi tentang pemanfaatan HP secara optimal dalam proses pembelajaran daring. Pendidik tak boleh menyerah dengan keadaan. Tapi harus semangat dan selalu belajar memperluas ilmu pengetahuan sekaligus ilmu teknologi.

Dukungan dan pantauan orang tua sangat diperlukan untuk membimbing anak untuk mengoptimalkan fungsi HP. Orang tua juga harus selalu belajar dan tidak boleh ketinggalan dalam pengoperasian HP saat di rumah. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya