alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Mind Mapping, Trik Jitu Menulis Geguritan

21 Juli 2021, 12: 51: 11 WIB | editor : Ali Mustofa

Lailis .S. Ummah, S.Pd., M.Pd.; Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Gebog, Kudus

Lailis .S. Ummah, S.Pd., M.Pd.; Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Gebog, Kudus (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

GEGURITAN sering disebut sebagai puisi berbahasa Jawa. Geguritan sendiri berasal dari tembung lingga (kata dasar) gurit yang berarti tulisan, nyanyian (kidung), dan gambar. Hadiwijaya (2001) menyatakan, geguritan adalah golongan sastra Jawa model baru yang mengungkapkan perasaan senang. Ungkapan bahasa yang sesuai dengan keindahan rasa, tetapi tidak berpedoman pada aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu.

Dalam Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa SMA Provinsi Jawa Tengah, isinya lebih menekankan pada aspek menulis geguritan. Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan bahasa yang harus diajarkan kepada siswa. Setiap siswa dituntut agar memiliki keterampilan menulis, karena dengan menulis diharapkan siswa dapat mengomunikasikan gagasannya kepada orang lain. Pembelajaran menulis juga mampu mendorong siswa untuk melatih perpikir dengan cara-cara tertentu secara logis.

Kenyataan di sekolah menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam hal menulis, khususnya menulis geguritan. Kesulitan yang dialami siswa diantaranya siswa masih kesulitan dalam mengkomunikasikan ide/gagasan dalam bentuk kata, memilih diksi, menyusun bait, menyesuaiakan isi geguritan dengan tema, dan lain-lain. Ungkapan itu mengisyaratkan, keterampilan menulis siswa perlu ditingkatkan.

Baca juga: Jatuh, Bangkit Lagi

Model pembelajaran mind mapping hadir untuk memudahkan siswa dalam menulis geguritan. Yakni dengan mengonsep peta pikiran dengan menggali ide-ide kreatif dan menghubungkan konsep permasalahan tertentu dari cabang membentuk korelasi konsep menuju suatu pemahaman.

Menurut Tony Buzan, mind mapping dapat membantu kita untuk banyak hal, seperti merencanakan, berkomunikasi, menjadi lebih kreatif, menyelesaikan masalah, memusatkan perhatian, menyusun dan menjelaskan pikiran, megingat dengan baik, belajar lebih cepat dan efisien, serta melatih gambar keseluruhan.

Pembelajaran menulis geguritan dengan model mind mapping dapat dilakukan dengan cara, pertama, siswa dilatih untuk menentukan tema utama geguritan, kemudian menuliskan tema geguritan di tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar. Misalnya siswa menuliskan tema geguritan kaprawiran, pawiyatan, budi pekerti, dan lain-lain.

Kedua, siswa membuat tema turunan yang berupa cabang-cabang yang berkaitan dengan tema utama. Misalnya jika tema utamanya budi pekerti, tema turunannya bisa berbakti kepada orang tua, serta sopan dengan bapak/ibu guru.

Ketiga, tulis dan hubungkan seluruh tema turunan dengan garis, warna, atau simbol. Dari setiap tema turunan pertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga, dan seterusnya. Gunakan tinta berwarna untuk lebih mengaktifkan otak kita. Karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar.

Keempat, gunakan satu kata kunci untuk setiap garis yang telah dibuat. Setiap kata kunci  dapat menghasilkan sederet asosiasi, kebebasan, dan bisa memicu ide kreatif dan pikiran baru. Kelima setelah peta pikiran jadi, kita tinggal mengembangkannya kedalam baris dan bait geguritan. Dengan begitu kosa kata, majas, dan diksi akan mengalir dengan sendirinya.

Kelebihan dari model pembelajaran mind mapping di antaranya siswa bisa dengan kreatif menuangkan ide-idenya secara bebas dengan menggunakan bahasanya sendiri. Dengan pemetaan pikiran tersebut, siswa akan terinspirasi mendapatkan kata-kata yang diinginkan dalam menulis geguritan.

Jadi, mind mapping benar benar menjadi jurus ampuh bagi siswa yang kesulitan dalam menulis geguritan, sehingga pembelajarannya menjadi lebih menyenangkan. Siswa menjadi lebih terbantu dengan cara ini, sehingga lebih bertanggung jawab dalam mengerjakan tugasnya. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya