alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Membangun Karakter Anak lewat Kritikan dan Pujian

21 Juli 2021, 11: 54: 05 WIB | editor : Ali Mustofa

Kiswati, S. Pd.SD,; Guru SDN 1 Nglangitan, Kec. Tunjungan, Kab. Blora

Kiswati, S. Pd.SD,; Guru SDN 1 Nglangitan, Kec. Tunjungan, Kab. Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

TABURLAH satu pikiran positif, maka akan menuai tindakan. Taburlah satu tindakan, maka akan menuai kebiasaan. Taburlah satu kebiasaan, maka akan menuai karakter. Taburlah satu karakter, maka akan menuai nasib (anonim).

Membangun karakter ibarat mengukir. Sifat ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir, tidak mudah usang tertelan waktu atau aus karena gesekan . Menghilangkan ukiran sama saja dengan menghilangkan benda yang diukir itu, karena ukiran melekat dan menyatu dengan bendanya. Demikian juga dengan karakter yang merupakan sebuah pola, baik itu pikiran, perasaan, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan (Nana Prasetyo, 2011).

Proses membangun karakter pada anak juga ibarat mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa. Sehingga ”berbentuk” unik, menarik, dan berbeda antara satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki karakter berbeda-beda. Ada orang yang berperilaku sesuai dengan nilai-nilai. Ada juga yang berperilaku negatif atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam budaya setempat (tidak/belum berkarakter atau “berkarakter” tercela).

Baca juga: Rumah dan Sertifikat Dilalap Api akibat Korsleting Listrik

Karakteristik anak usia sekolah dasar adalah senang bermain, bergerak, bekerja dalam kelompok, serta merasakan  atau melakukan sesuatu secara  langsung (Sugiyanto, 2019). Anak usia sekolah dasar perlu untuk didengarkan, dengarkan, dengarkan. Jangan membentak mereka, berikan kalimat-kalimat motivasi, jangan sungkan meminta maaf, sabar, dan bijak.

Membangun karakter anak usia sekolah dasar bisa dengan cara memberikan kritikan dan pujian. Arti kata kritik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kecaman atau tanggapan. Kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan pujian  di dalam KBBI adalah pernyataan memuji, istimewa, pujian yang luar biasa (atas kepandaian, jasa, dan sebagainya) .

Memuji anak itu perlu sekali untuk anak. Jangan sampai anak memiliki pikiran, perasaan, sikap, maupun tindakan tidak percaya diri, tidak pantas berada di lingkungan  komunitasnya. Sebaliknya jangan sampai anak memiliki pikiran, perasaan, sikap, maupun tindakan yang merendahkan lingkungannya, merasa yang paling bagus, yang paling pintar yang paling hebat, yang paling cantik, yang paling tampan .

Jadi kita perlu membangun anak-anak kita supaya dia merasa equal. Sama dengan teman yang lainnya. Setiap anak memiliki karakternya tersendiri, waktu dia dipuji lebih banyak maka dia akan memiliki kepercayaan diri.

Adakalanya kita sebagai guru atau orang tua memarahi anak, mengkritik anak, menuntut anak. Tuntutan, kritikan, kemarahan dari kita sebagai guru atau orang tua diterima anak sebagai masukan yang negatif. Pada dasarnya kita lebih banyak mengkrtik anak, itu sebabnya perlu kita imbangi dengan hal yang positif dengan cara memuji anak.

Mrs. Lie Wei Tjen (2021) menyatakan, kalau kamu memarahi anak ,kalau kamu  mengkritik anak satu kali, maka kamu harus memuji anak lima kali. Jadi kesimpulannya  kamu boleh memarahi anak sekali-kali. Tetapi harus memuji anak lebih sering.

Anak tahu ada yang negatif pada dirinya tetapi pada dasarnya karakternya positif. Karakter seperti itu akan menjadi pijakan yang cukup kuat untuk dia berdiri di masyarakat, menjadikan dia berani dan tidak takut. Anak merasa setara,sama dengan yang lainnya,anak tidak merasa jelek,tidak merasa rendah,meskipun dia memang bukan yang lebih tinggi atau tidak lebih tinggi.

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya