alexametrics
Jumat, 06 Aug 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Tanggapi Permintaan Permbukaan Wisata, Hartopo: Sulit, Ada Intervensi

21 Juli 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

WISATA COLO: Sudah dua bulan wisata Colo ditutup. Pelaku wisata terdampak dan tak bisa berjualan.

WISATA COLO: Sudah dua bulan wisata Colo ditutup. Pelaku wisata terdampak dan tak bisa berjualan. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Bupati Kudus Hartopo mengaku sulit mengabulkan permintaan para pelaku wisata yang meminta dibukanya destinasi wisata. Sebab ada intervensi pusat dan provinsi Yang berencana memperpanjang PPKM.

Hartopo mengaku prihatin dengan penutupan tempat wisata. Akibatnya banyak warga terdampak. Terutama masyarakat desa di sekitaran pegunungan Muria. Misalnya tukang ojek, penjual asongan, dan pernak-pernik. Termasuk pelaku usaha penginapan hingga tukang angkot. Semua harus menganggur akibat ditutupnya tempat wisata selama hampir dua bulan belakangan.

“Saat ini modelnya memang tidak PPKM Darurat, tetapi dibagi per level. Kudus masih masuk level 3. Artinya pembatasan sosial masih agak ketat,” imbuhnya.

Baca juga: PO Bus Tak Rumahkan Karyawan

Pihaknya menyadari jika keluh kesah pelaku wisata sudah disampaikan secara langsung. Ada yang sampai menjual aset demi bisa bertahan hidup. Kendati demikian, pemkab tetap tak berani melonggarkan wisata dibuka.

“Mungkin bisa kami membuka, tetapi itu beresiko. Bisa kena marah dari pusat dan provinsi. Kudus bakal jadi sorotan lagi. Dan memungkinkan mereka terjun lagi ke sini seperti beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Untuk itu pihaknya meminta maaf belum bisa melonggarkan kebijakan pembukaan tempat wisata. Dan mengajak masyarakat untuk bersabar dan tetap disiplin menjaga prokes. Agar kasus Covid-19 terus menurun dan Kudus masuk zona hijau.

“Sekali lagi masyarakat harus memahami jika ada intervensi pusat. Sehingga kami tak bisa berbuat banyak. Tak bisa menentukan arah kebijakan tersendiri,” terangnya.

Dia hanya bisa menginstruksikan jajarannya agar fokus dengan penanganan Covid-19. Dengan harapan Kudus segera hijau. Sebab meski ada penurunan kasus, mobilitas masyarakat selama PPKM Darurat dinilainya masih tinggi.Di bawah angka 10 persen. Padahal target penurunan 30 persen. Karena masih di bawah 10 persen itu Kudus masuk ke zona hitam. “Jadi yang penurunannya di bawah 10 persen dikategorikan zona hitam oleh kementerian. Mereka memakai analisis melalui google, FB, NAZA,” jelasnya. (tos/iwn)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP