alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Tri Handoko, Penggagas Gangsaring Ati

Miliki Tiga Ambulans untuk Penanganan Covid-19

20 Juli 2021, 16: 21: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

GARDA DEPAN: Panggilan hati menjadikan mobil pribadi sebagai ambulans jenazah, miliki sekitar 40 relawan.

GARDA DEPAN: Panggilan hati menjadikan mobil pribadi sebagai ambulans jenazah, miliki sekitar 40 relawan. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

Tri Handoko sejak 2013 bekerja sebagai sopir ambulans di RSUD dr R Soedjati Purwodadi. Berbagai pengalaman suka duka ia dapatkan. Bahkan, April tahun ini ia mendapatkan panggilan hati dengan mencetuskan ‘Gangsaring Ati Foundation’. Handoko membuat inovasi, dengan membeli mobil pribadi yang kemudian dipakai untuk gerakan sosial ambulans jenazah.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus

Menjadi sopir ambulans merupakan keputusan terberat yang dipilih Tri Handoko dalam hidupnya. Sebelumnya, Han –sapaan akrabnya- bekerja sebagai supervisor. Namun, karena merasa ingin dekat dengan keluarga akhirnya ia memutuskan mencari pekerjaan yang ada di sekitar tempat tinggalnya, yakni supir ambulans di RSUD dr R Soedjati.

Baca juga: Pedagang Pasar Tiban di Kudus Akhirnya Boleh Jualan Lagi

Baginya, berat untuk memutuskan menjadi sopir ambulans. Tiga bulan pertama bahkan ia selalu mengajak rekannya setiap mengambil jenazah. Sehingga ia tak pernah merasa sendiri saat di ambulans.

Berbagai kesan didapat, mulai pengalaman mengantar jenazah yang lokasinya harus melewati hutan. Hingga luar kota. ”Pernah kayak mau dibegal. Saat itu saya mengantar jenazah di Desa Karangasem sekitar pukul 12.30 dini hari. Saat itu melewati hutan, di tengah jalan ada batu besar, kayu dan botol yang disusun rapi memenuhi jalan. Saya memutuskan untuk berhenti,” ungkap pria kelahiran Grobogan, 23 Januari 1985 ini.

Ia bersama rekannya sempat mengobrol untuk memutuskan tetap jalan namun nerobos atau menyingkirkan. ”Saya sudah mau buka pintu mobil. Lalu, saya mengurungkan niatan itu dan kembali menutup pintu mobil. Saya terabas saja batu-batu tersebut,” ungkapnya.

Berbagai pengalaman baru juga pria yang tinggal di Lingkungan Kuripan RT 02 Kecamatan Purwodadi ini selama Covid-19 ini. ”Capek banget. Kebetulan saya di RS rujukan jadi pas awal pandemi saya kerap kirim pasien ke RS rujukan yang ada di Jateng. Kemudian transfer pasien dari IGD ke isolasi,” ujarnya.

Selama Covid-19 ia mendapatkan jadwal bekerja sepekan penuh. Ia terbagi dalam tim dan bergantian mengantar pasien Covid-19 untuk lima driver tersebut. ”Meski terjadwal seperti itu, namun capek karena sehari bisa mengantar 2-4 kali pasien ke RS rujukan saat itu,” paparnya.

Meski begitu, Handoko selalu senang dengan pekerjaannya. Bahkan, disela kesibukkan sebagai driver ambulans dan hasil jerih payahnya menjadi driver. Ia menyisihkan uangnya untuk dibelikan mobil ambulans pribadi.

Dengan dukungan dari istrinya, akhirnya Han membeli mobil baru kemudian dimodif sebagai mobil ambulans jenazah. Kini ia memiliki tiga mobil unit ambulans. Selama hampir setahun ini bisa menggandeng seluruh kolega dengan berbagai profesi yang ada di Kabupaten Grobogan.

Ketiga mobil ambulans itu memiliki fungsi berbeda, dua ambulans untuk membawa jenazah dan satu ambulans khusus untuk pasien.

Gangsar Ing Ati Foundation ini sudah memiliki sekitar 40-an relawan dengan berbagai profesi. Mulai dari profesi driver umum, perawat, ojek daring hingga pendamping ambulans ikut bergabung di sana.

”Saya malah jarang terjun langsung. Biasanya relawan itu yang bergantian menjemput pasien. Jika ada panggilan mereka langsung siap untuk layanan ini. Kami menerima panggilan 1x24 jam,” ujarnya.

Panggilan hati ini diterima baik masyarakat yang ada di Grobogan. Bahkan, terbilang menjadi gagasan pertama yang ada di Kabupaten Grobogan. ”Selain melayani antar-jemput pasien hingga jenazah. Relawan kami juga tergabung dalam tim pemakaman mandiri dan penyemprotan disinfektan,” ungkapnya.

Menurutnya, Gangsar Ing Ati Foundation ini menyatukan visi misi masyarakat Grobogan yang memiliki panggilan hati yang sama. Bahkan, Baznas hingga PMI turut bersinergis di dalamnya

”Mereka rela menolong orang lain yang membutuhkan. Bukan hanya menjemput jenazah, jika ada kecelakaan hingga kejadian di jalanan mereka juga siap menerima panggilan untuk mengantar ke rumah sakit terdekat,” katanya.

Ia menjelaskan jika selama pengoperasionalan tiga unit mobil ambulans itu tak mematok harga khusus. Karena merupakan aksi sosial, namun tetap menerima uang pengganti bensin dan driver. Nantinya, dana tersebut akan dimasukkan ke Yayasan Gangsaring Ati Fondation.

”Jika dikasih kami terima. Kalau luar kota memang biasanya mengganti BBM dan driver. Jika dalam kota free. Sehari kami bisa melayani empat kali pemakaman. Saat ini kami belum bisa menerima pasien positif Covid-19 karena harus sesuai protokol,” paparnya.

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya