alexametrics
Selasa, 27 Jul 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Urban Farming Solusi Cerdas Menjaga Ketahanan Pangan Keluarga

19 Juli 2021, 10: 38: 55 WIB | editor : Ali Mustofa

Setyanto Setyawan, S.P.; Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus

Setyanto Setyawan, S.P.; Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PANDEMI Covid-19 membawa dampak diberbagai lini kehidupan masyarakat, sehingga pemerintah membuat kebijakan untuk WFH (work from home) dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat. Akhirnya memaksa masyarakat memiliki banyak waktu luang di rumah.

Kebijakan ini berguna untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran Covid-19 dan membuat intensitas kehidupan sosial menjadi menurun, karena relasi sebagai dasar kehidupan berekonomi dibatasi. Penurunan atau bahkan kehilangan sumber pendapatan, pada akhirnya akan berujung pada perubahan struktur pengeluaran rumah tangga. Salah satunya penurunan kuantitas dan kualitas pangan yang dikonsumsi. Namun, kebijakan ini juga memiliki dampak positif. Salah satunya ide tetap produktif di rumah dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk bertani atau sering dikenal urban farming.

Urban farming adalah kegiatan membudidayakan tanaman atau memelihara hewan ternak didalam dan disekitar wilayah kota besar (metropolitan) atau kota kecil untuk memperoleh bahan pangan atau kebutuhan lain dan tambahan financial. Termasuk di dalamnya pemrosesan hasil panen, pemasaran, dan distribusi produk hasil kegiatan tersebut (Bareja, 2010).

Baca juga: Istri Mrucut, Demenan Luput

Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, salah satu strategi sektor pertanian Indonesia dalam menghadapi Covid-19 adalah optimalisasi lahan pekarangan dengan menanam tanaman. Pandemi Covid-19 yang mengakibatkan ancaman krisis pangan mengganggu rantai pasok pangan. Untuk mengantisipasinya, urban farming dapat dilakukan sebagai strategi kemandirian pangan.

Ada berbagai metode urban farming. Di antaranya, pemanfaatan permukaan tanah (cara konvensional) dan vertikultur dengan memanfaatkan ruang vertikal sebagai tempat bercocok tanam, baik digantung maupun merambat atau terpasang di dinding. Selain itu, penanaman dalam pot atau polybag sebagai media tanam, dalam ruangan atau di atap rumah, dan hidroponik.

Urban farming juga bisa dikombinasikan dengan beternak ikan, seperti membudidayakan ikan lele dengan sistem bioflok atau budikdamber (budi daya ikan dalam ember) yaitu dalam satu ember menanam tanaman yang cepat dipanen, seperti kangkung, bayam, sawi, dan pakchoy. Ini merupakan sistem akuaponik, sehingga terbentuk simbiosis mutualisme antara kangkung dengan lele. Ikan mengandung protein yang sangat baik untuk pertumbuhan anak-anak, sehingga dengan metode ini, diharapkan mampu mencukupi kebutuhan harian masyarakat dan mencegah stunting.

Urban farming juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan suboptimal, sampah organik atau sisa bahan makanan rumah tangga sebagai pupuk kompos, serta air limbah perkotaan untuk menyiram tanaman. Kombinasi manfaat urban farming memang tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga manfaat sosial dan lingkungan, karena sangat tepat untuk daerah yang berpolusi. Salah satunya Kabupaten Kudus yang dikenal sebagai kota kretek.

Dari aspek ekonomi, urban farming dapat berperan sebagai penyedia lapangan kerja, meningkatkan penghasilan masyarakat, serta dapat mengurangi kemiskinan. Juga dianggap lebih penting sebagai penyedia makanan tambahan bila dikelola secara maksimal. Termasuk berperan terhadap ekonomi melalui perluasan bisnis kota melalui produksi, pengemasan, pengemasan, dan pemasaran produk pertanian.

Masa pandemi Covid-19 mengharuskan masyarakat membatasi aktivitasnya di luar rumah, walaupun di rumah saja produktivitas dan ketahanan pangan keluarga tetap harus dijaga. Melibatkan anak-anak yang saat ini masih harus belajar dari rumah dengan pendampingan orang tua agar memiliki aktivitas yang produktif.

Urban farming sangat cocok dijadikan media pembelajaran bagi anak sambil mengisi waktunya. Sedari dini anak diajari untuk bekerja keras jika ingin mendapatkan sesuatu, diajarkan menanam benih, menyiram tanaman, memberi pupuk, bahkan sampai memanen hasil. Kecintaan anak terhadap pertanian akan semakin terasah.

Manfaat lain yang dirasakan dengan urban farming adalah memberikan kontribusi pengelolaan sampah reuse dan daur ulang, membantu menciptakan daerah yang bersih untuk pengelolaan sampah dengan 3R (reuse, recycle, reduce), menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan, meningkatkan estetika, serta menjadi penghasilan tambahan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP