alexametrics
Selasa, 27 Jul 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Tanggung Jawab dan Kerja Sama Pendidikan di Masa Pandemi

19 Juli 2021, 10: 33: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

Suprihati, S. Pd.; Guru Kelas SD 1 Jurang, Gebog, Kudus

Suprihati, S. Pd.; Guru Kelas SD 1 Jurang, Gebog, Kudus (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PANDEMI Covid-19 membawa perubahan bagi segala sektor termasuk dalam sektor pendidikan. Sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas pembelajaran menjadi sepi, karena diganti dengan platform pendidikan berbasis internet. Tidak semua sekolah siap dengan metode pembelajaran daring. Faktanya, proses pendidikan selama ini lebih banyak menggunakan mekanisme tatap muka.

Di media sosial, para orang tua dan murid mengeluh dengan mekanisme pembelajaran yang hanya tugas, tugas, dan tugas tanpa adanya feedback dari pendidik. Keluhan ini bisa jadi disebabkan karena pendidik tidak terbiasa dengan metode pembelajaran daring. Pendidik dituntut harus menguasai teknologi, bahkan jaringan internet yang memadai sebagai akses mengajar.

Para pendidik harus memodifikasi rencana pembelajaran sedemikian rupa, agar metode yang digunakan tepat dan dipahami peserta didik. Tantangan tersebut bukan hanya terletak pada bagaimana metode untuk transfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pembelajaran daring tetap fokus pada pendidikan karakter. Hal ini dikarenakan pendidikan bukan hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value yang mana peran guru sangat dibutuhkan dan tidak dapat digantikan dengan teknologi secanggih apapun.

Baca juga: Rajin Ngonten Demi Murid

Ada beberapa nilai pendidikan karakter yang beberapa di antaranya menjadi aktual di masa pandemi Covid-19 ini. Tanggung jawab dalam sistem tatap muka peserta didik biasanya ada aktivitas piket harian. Hal tersebut ditujukan untuk melatih peserta didik, agar bertanggung jawab terhadap tugasnya. Berbeda ketika sistem daring yang mana anak-anak cenderung tidak memikirkan lingkungan sekitar, karena merasa sudah menjadi tanggungjawab orang tua.

Tentu tidak mudah bagi seorang guru untuk mencari jalan keluar atas permasalahan pembelajaran daring ini. Namun, guru tetap dituntut untuk mencari solusi sebagai kosekuensi sebagai seorang pendidik.

Hal pertama yang dapat dilakukan guru adalah menjaga komunikasi dengan murid. Misalnya dengan teguran atau sapaan setiap pagi. Maksud dari aktivitas tersebut adalah untuk menjaga semangat dan mengingatkan kembali, bahwa guru selalu memantau dan menjadi teladan bahwa sikap ramah itu sangat penting. Kedua, meningkatkan rasa disiplin. Dapat diterapkan ketika guru melakukan pembelajaran, biasanya waktu pembelajaran sudah terjadwal, guru dapat melakukan pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan tanpa mengurangi ataupun menambah jam mata pelajaran.

Ketiga, tanggung jawab. Rasa tanggungjawab akan muncul apabila guru dan peserta didik paham akan tugasnya, guru mengajar, dan peserta didik mengikuti. Dengan demikian mereka mampu menyelasaikan tugas masing-masing dengan mandiri. Tanggung jawab ini bukan hanya sebatas penyelesaian tugas sekolah, peserta didik juga dituntut bertanggung jawab atas posisinya di rumah.

Keempat, bekerja sama dengan orang tua. Tentu antara guru dan orang tua harus menjadi model good character dalam pembentukan karakter anak. Karena rumah menjadi sekolahnya, maka di sini orang tua menjadi tokoh utamanya. Namun, banyak para orang tua mengeluh karena tidak sanggup berperan sebagai pendidik, seperti halnya seorang guru. Padahal, momen belajar di rumah ini dapat menjadi waktu yang baik untuk menjaga komunikasi antara orang tua dan anak. Di sinilah orang tua menunjukkan perannya sebagai pendidik yang andal. Hal ini sesuai dengan pendapat ahli. Menurut Slamet PH (2017:10), kerja sama merupakan suatu usaha atau kegiatan bersama yang dilakukan kedua belah pihak dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama.

Guru dan orang tua harus memiliki tujuan yang sama agar pendidikan yang diharapkan dapat tercapai. Guru memberi pengajaran dan orang tua memahamkan. Ibaratnya seorang guru memberi buah mangga dan orang tua mengupaskan. Tentu anak akan lebih semangat memakannya. Bukan hanya itu, pemantauan orang tua kepada anak dalam menggunakan teknologi juga sangat penting. Misalnya bagaimana mengatur waktu dalam penggunakan handphone ketika belajar dan bermain, agar anak tidak salah fokus terhadap fungsi handphone untuk kegiatan belajar.

Pembelajaran daring di masa pandemi ini, memang tidak mudah, perlu adanya kerja sama yang baik dari berbagai subjek pendidikan. Pendidikan yang baik adalah proses yang bukan sebatas memberi dan menerima pembelajaran. Namun di balik itu, ada sikap positif yang mampu tumbuh, yaitu karakter yang baik dan santun. Pembelajaran daring akan dirasa tidak menyulitkan apabila direspon dan dihadapi dengat sikap yang tepat, sehingga dapat menjadi metode pembelajaran yang bagus. Semoga pendemi ini segera berakhir. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP