alexametrics
Jumat, 06 Aug 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Asep Siswanto, Duta Tari Nasional 2021

Luwes, Kenes, dan Kewes saat Persembahkan Zapin Betawi

17 Juli 2021, 10: 55: 50 WIB | editor : Ali Mustofa

Luwes, Kenes, dan Kewes saat Persembahkan Zapin Betawi

“Saya jatuh cinta pada tari,” begitu Asep Siswanto. Hal itu dibuktikan dengan keluwesan Asep menarikan Zapin Betawi. Tarian itu pula yang  yang mengantarkannya meraih gelar Duta Tari Nasional 2021.

Pemuda asal Desa Dorang, Kecamatan Nalumsari, Jepara ini menceritakan proses saat mengikuti lomba tari tingkat nasional Putra Putri Tari Indonesia 2021.

Awalnya, dia mengikuti seleksi awal tingkat Jawa Tengah, pada Maret 2021. Ada seleksi administrasi seperti identitas, curriculum vitae (CV) dan lainnya. Kemudian pembuatan video tari durasi tiga menit dan seleksi wawancara.

Baca juga: Dapat Bantuan untuk Buka Usaha, Kini Jadi Sukses

Beberapa minggu kemudian, dia masuk grandfinal yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 10-17 Juni 2021.

Asep mengatakan, lombanya memang offline. Jadi sebelum berangkat, peserta wajib swab PCR.

“Baru nunggu hasil swab PCR saja, saya sudah deg degan. Belum lomba sudah waswas, takut hasilnya positif sehingga gagal semua. Tetapi, alhammdulillah, negatif jadi bisa berangkat ke NTT,” terangnya saat mendaftar kuliah di Universitas Muhammadiyah Kudus.

Meski Asep dari Jawa Tengah, tapi dia mewakil DKI Jakarta 2. Ketentuan tersebut diatur panitia, tapi syaratnya ada silsilah yang menunjukkan dari daerah tersebut. Asep menggunakan akte kelahiran Jakarta dari kakaknya.

“Saya diberitahu saat wawancara, kalau saya lolos tidak bisa mewakili Jawa Tengah, karena sudah ada perwakilannya,” terangnya.

Menurut keterangannya, selain DKI Jakarta, hanya satu pasang putra dan putri. Kalau Jakarta ada enam pasang. Total peserta yang lolos grand final ada 54 orang. “Itu ada beberapa wilayah yang tidak mengirim perwakilan,” katanya.

Dia mengaku, banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya karantina, khusus yang masuk grand final. Lalu menyiapkan foto perkenalan, foto voting, dan menyiapkan video berdurasi tiga menit tentang tari dan kegiatan yang menginspirasi. Video itu diambil dari  tiga lokasi yakni Taman Krida, City Walk dan Air Terjun Rahtawu.  “Saya mengangkat tema tari Senyum Penari Muda,” katanya.

Dia mengaku, konsep tari itu, tidak hanya sekadar menari. Tetapi juga kegiatan sosial.

Kebetulan video itu berisi kegiatan bagi-bagi takjil ke pesantren. “Waktu itu kerja sama Duta Genre Kudus,” paparnya.

Persyaratan lainnya, kata dia,  menyiapkan kostum yang menceritakan Syeh Bandar jawara Batavia. Semua persiapan dia selesaikan dalam waktu dua bulan.

Saat malam penganugrahan di NTT, dihadapan dewan juri, dia memamerkan kostum Syeh Banda desain baju tersebut dari Afri, desainer baju.

Dia juga menarikan tarian Zapin Betawi. Dari tarian itu, Asep masuk 10 besar dan dinobatkan sebagai Duta Tari Nasional 2021. Selain itu Asep juga mendapatkan Best Costume.

“Yang paling berkesan saat mengikuti lomba yakni mengkreasikan kain tenun. Kain itu saya jadikan baju dan beskap. Asal saya lilit-lilitkan. Hasilnya ternyata bagus,” kata Asep.

Saat ini Asep menguasai beberapa tarian. Ada tari Zapin Betawi, Lenggang, Kretek, Jaranan, dan  Baladewa. Dia mengaku lebih menyukai tari kreasi modern tapi tidak meninggalkan unsur tradisional. Saat ini Asep kuliah mengambil jurusan Sastra Inggris Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) semester II dan berencana daftar jurusan PGSD Universitas Muyhammadiyah Kudus (UMKU).

(ks/mal/top/JPR)

 TOP