alexametrics
Sabtu, 18 Sep 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Hardono, Dalang Wayang Kulit & Ketua Forkapi

Jual Gamelan dan Gadaikan Kendaraan

11 Juli 2021, 20: 06: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

RINDU PENTAS: Hardono memainkan wayang kulit di sanggar miliknya kemarin.

RINDU PENTAS: Hardono memainkan wayang kulit di sanggar miliknya kemarin. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Share this      

Dampak pandemi Covid-19 yang berlangsung satu tahun dirasakan dalang wayang kulit dan Ketua Forum Komunikasi Pegiat Seni Grobogan Hardono. Dia terpaksa jual gamelan dan gadaikan kendaraan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

SIROJUL MUNIR,Radar Kudus

HARDONO memakai baju beskap warna kuning lengkap dengan blangkon sebagai penutup kepala. Ia memainkan wayang kulit di depan wartawan koran ini. Hardono mementaskan wayang kulit di sanggar sebelah rumahnya. Dengan peralatan seadanya tanpa iringan gamelan. Pentas itu hanya lima menit. Walaupun sebentar tapi pentas itu mengobati rasa rindu pentasnya.

Baca juga: Nyamar Warga Biasa, Istri Bupati Blora Borong Dagangan PKL

(SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Dalam pentas sederhana ini dia menceritakan negara yang terkena pagebluk. Warga terkena virus Covid-19. Juga dampaknya. Banyak orang sakit dan kemudian meninggal. Masih ada warga tidak taat protokol kesehatan. Semisal tidak memakai masker.

Akibat tidak ada pentas, pria kelahiran Grobogan 24 Juni 1966 mengaku tidak ada pemasukan. Sehingga dirinya  terpaksa menjual satu set karawitan dan barang lainya untuk menyambung hidup. Selama pandemi mulai Maret 2020 lalu sudah tidak ada lagi pentas kesenian wayang kulit. Total hanya ada enam kali pentas. Lima dari undangan warga dan satu dari Disporabudpar Grobogan.

Dampak itu juga dirasakan seluruh seniman dan hiburan lainya. Mulai dari sewa tratak, sound system, karawitan, dan lainya. Banyak dari warga membatalkan undangan pentas. Karena ada kebijakan tidak boleh ada keramaian.

”Sejak awal sudah ada sepuluh warga yang pesan untuk pentas. Tapi batal karena pandemi. Maka kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar warga Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan, Grobogan ini.

Ketika ditanya tidak membuat chanel Youtube, ia mengaku tidak mempunyai dana. Saat membuat acara wayang kulit harus ada pengrawit dan melibatkan banyak orang. Sehingga belum bisa melaksanakannya. Pihaknya beberapa kali membuat tayangan di sosial media dengan merusak wayang kulit karena tidak ada perhatian dari pemerintah daerah.

”Kami ingin membuat siaran di sosmed. Tetapi belum ada sponsor. Dari Disporabudpar dan pemerintah daerah belum ada perhatian,” aku dia.

Selama pandemi para pelaku seniman prihatin. Banyak dari dalang dan seniman menjual wayang dan barang lainnya. Pihaknya juga menjual satu set gamelan dan menggadaikan mobil dan wayangnya. 

”Kami butuh makan untuk kehidupan sehari-hari. Jadi kami berusaha semampu kami. Jadi seniman sangat susah. Seniman gak bisa kerja yang lainya. Mau bisnis gak punya bakat. Akhirnya jadi pekerja serabutan,” paparnya.

Dari pandemi Covid-19 ini, pihaknya berharap bisa diberikan solusi. Kalangan seniman sendiri sudah siap jika harus mematuhi prtokol kesehatan. Asalkan bisa pentas kembali.

Dengan adanya kembali pentas seni, maka bisa memutar ekonomi. Saat ini, seniman hanya mendapatkan bantuan sosial dua kali selama pandemi Covid-19. Sebagian lagi juga tidak mendapatkan.

Hardono menceritakan, awal karir menjadi dalang karena suka. Sejak kecil sudah menyukai karawitan. Sebab, orang tuanya suka dengan kesenian Jawa. Kemudian dirinya belajar dalang kepada Ki Wahyoko dari Wirosari sejak duduk di bangku SMP Kristen Purwodadi. Bahkan, dirinya selalu mengikuti gurunya ketika pentas dibeberapa tempat. Ketika itu dirinya juga menjadi dalang kecil.Saat itu masih duduk di bangku SMA.

Ketika acara wisuda, dirinya menjadi dalang wayang kulit di sekolah. Setelah lulus dari SMA Kristen Purwodadi tahun 1985, dirinya meneruskan kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia sekarang Institut Seni Indonesia (ISI) Solo lulus 1991.

Saat lulus kuliah, dirinya menjadi Kepala Desa Sedadi mulai 1993-2002. Meski menjadi kepala desa dirinya banyak job untuk dalang dan pentas wayang kulit di berbagai daerah. Bahkan saat itu, mendapatkan tawaran menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Penerangan. Tapi tidak diambilnya.

”Saya pernah tampil di TMII Jakarta. Saya juga menjadi juara dalang remaja 1991 tingkat Provinsi Jateng,” tandasnya.

Menjadi dalang dirinya paling ramai saat menjadi kepala desa. Satu bulan bisa 15 pentas. Sedangkan saat bulan biasa satu bulan bisa mendapatkan lima sampai enam job dalang.

Hardono berharap adanya perhatian dari pemerintah menjaga seni budaya untuk mengizinkan acara seni budaya. Jika tidak diberi kesempatan buka, maka lama kelamaan akan ditinggalkan. Karena orang sudah terbiasa tidak menanggap wayang kulit. Padahal seni budaya jati diri bangsa. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP