alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Yang Muda yang Melestarikan Budaya

23 Juni 2021, 14: 20: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

NUANSA VINTAGE: Pasar Ampiran di Kampung Budaya Piji Wetan juga jadi tempat bermain anak-anak.

NUANSA VINTAGE: Pasar Ampiran di Kampung Budaya Piji Wetan juga jadi tempat bermain anak-anak. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS Kampung Budaya Piji Wetan yang terletak Desa Lau dikenal dengan nguri-nguri  ajaran Kanjeng Sunan Muria. Seperti Tapa Ngeli dan Pager Mangkok. Menariknya, yang jadi penggerak untuk melestarikan budaya itu anak muda di desa setempat.

Penggagas Kampung Budaya Piji Wetan Muchamad Zaini menyatakan, pembentukan kampung budaya berawal dari keprihatinan terhadap kebudayaan masyarakat yang cenderung luntur. Terpaan zaman yang berdampak menghilangkan budaya leluhur itu dirasa tak pantas untuk diteruskan generasi muda.

”Kami tak serta merta meninggalkan kemajuan zaman, justru budaya kuno kami kemas dengan masa kini,” terangnya.

Baca juga: Yaqut Center Sebar Seribu Sembako ke 15 Desa

NYAM-NYAM: Kuliner tempo dulu disajikan di Kampung Budaya Piji Wetan saat ada Pasar Ampiran.

NYAM-NYAM: Kuliner tempo dulu disajikan di Kampung Budaya Piji Wetan saat ada Pasar Ampiran. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

Zaini menjelaskan, laku Tapa Ngeli mengandung makna, sengaja menghanyutkan diri tetapi tidak terbawa oleh arus gelombang yang ada. Kedua, ajaran Pagar Mangkuk. Ini untuk mendidik masyarakat agar ringan tangan dalam bersedekah dan membantu orang lain.

Pentingnya mengenal kearifan lokal di wilayah sendiri, bagi pemuda itu sebagai proses pencarian jati diri. Budaya desa atau warisan leluhur bisa dipegang erat dan dilestarikan.

Pengemasan dan cara pelestarian budaya tempo dulu dikemas dengan apik di sana. Sebelum lonjakan kasus pandemi Covid-19, tiap beberapa bulan sekali kampung tersebut membuat festival budaya.

Bentuknya berupa pasar ampiran yang menjajakan masakan dan makanan tempo dulu. Suguhan lainnya berupa taman mainan tradisional. Seperti gedrek, enggrang, dan dakon.

”Baru-baru ini, kami membuat game monopoli selat muria dan permainan werewolf emprit gantil,” katanya.

Di samping itu, untuk meningkatkan guyub rukun dan memunculkan ide terbaru, secara rutin ada perkumpulan dengan taruna dan tokoh setempat. Hal ini bertujuan sebagai regenerasi dan pencetus ide-ide kebudayaan yang dapat ditunjukkan kepada masyarakat luas.

Pihaknya menilai, setiap pemuda perlu memiliki wawasan tentang kebudayaan. Terlebih lagi menggali nilai leluhur di kampungnya sendiri. Zaini melihat desa-desa di Kudus juga memiliki potensi yang sama dengan Kampung Budaya Piji Wetan. Warisan leluhur yang belum tergali masih sangat relevan diterapkan di zaman sekarang.

”Pemuda itu sebagai pewaris. Maka dari itu kembali lagi mereka mau menggali nilai budaya yang ada di wilayahnya,” jelasnya.

Kasi Pembangunan Sumber Daya Pemuda pada Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Agus Subandi menyatakan, dalam meningkatan kepedulian terhadap budaya lokal, pihaknya turut mendampingi karang taruna.

”Kami memberi bekal muatan budaya lokal yang harus dilestarikan sesuai kearifan di wilayah itu,” katanya.

Pelastarian budaya lokal dinilai mampu membangkitkan dan memperkenalkan wilayah itu kepada masyarkat luas. Salah satunya melalui pementasan atau pergelaran budaya sekitar. 

(ks/gal/lid/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya