alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Mengenal Dewi Linusa, Pemersatu Wisata Desa

Jadi Finalis Lomba Desa Wisata Nasional

23 Juni 2021, 10: 25: 48 WIB | editor : Ali Mustofa

KOORDINASI: Jajaran BUMDES Karangturi mengunjungi tokoh masyarakat untuk membahas proyek Dewi Linusa.

KOORDINASI: Jajaran BUMDES Karangturi mengunjungi tokoh masyarakat untuk membahas proyek Dewi Linusa. (BUMDES KARANGTURI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Konsep Desa Wisata Literasi Nusantara (Dewi Linusa) berhasil menjadi finalis lomba desa wisata tingkat nasonal. Gagasan yang diprakarsai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karangturi, Lasem, Rembang, ini membuat destinasi lokal saling terintegrasi.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUD, Radar Kudus

DESA Karangturi, Lasem, Rembang, punya beragam destinasi wisata. Bukan sekadar tempat untuk melancong, namun juga memiliki nilai sejarah dan budaya. Tempat-tempat ikonik berbau Tiongkok, Islam, dan kearifan lain terkandung di sini.

Baca juga: Nikah Siri Ternyata Sudah Isi

UNIK: Museum Masjid Islam Nusantara di Desa Karangturi, Lasem, Rembang

UNIK: Museum Masjid Islam Nusantara di Desa Karangturi, Lasem, Rembang (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Di Masjid Jami Lasem misalnya. Tempat ini memiliki kandungan nilai sejarah penyebaran Islam. Bahkan, saat ini memiliki titik yang ikonik. Yakni Museum Islam Nusantara yang masih satu kompleks Masjid Jami Lasem. Arsitekturnya berbentuk rumah gadang. Dengan jendela ukiran ayat suci Alquran 30 Juz.

Di sudut lain Desa Karangturi ada Rumah Merah. Dengan corak arsitektur Tiongkok. Bangunannya memang didominasi warna merah. Di depan terdapat tempat nongkrong yang cocok untuk bersantai.

Lokasi-lokasi itulah yang nantinya akan diintegrasikan melalui konsep Dewi Linusa. Salah satu pengurus BUMDes Karangturi Nurohman menyampaikan, konsep ini mencoba untuk mengintegrasi seluruh destinasi yang ada di desa. Tak hanya di Museum Islam Nusantara dan Rumah Merah. Di Karangturi juga ada tempat-tempat menarik lain. Seperti di Pondok Pesantren (Ponpes) Kauman asuhan Gus Zaim.

Di pondok tersebut, juga memiliki nilai-nilai alkulturasi. Seperti musala yang dihiasi lampion Tiongkok hingga poskamping di sekitar pondok yang didesain seperti kelenteng mini. Melalui konsep Dewi Linusa, ke depan akan ada barcode yang bisa diakses oleh wisatawan ketika datang ke lokasi tersebut. ”Nanti muncul tentang sejarah-sejarah,” katanya.

Konsep Dewi Linusa juga diharapkan menjadi sarana edukasi. Seperti di area Museum Masjid Jami Lasem dengan ukiran ayat suci Alquran di setiap daun jendelanya. ”Apakah hanya untuk selfie?” tanyanya. ”Tidak,” tambahnya menegaskan.

Nurohman pun mulai memeragakan sebuah gerakan. Tentang trik dan cara mengajarkan huruf hijaiyah pada anak-anak. Wartawan koran ini mulai menangkap apa yang ingin ditunjukkan Nurrohman.

Ya, tentang konsep literasi yang ia usung. Jadi, Museum Masjid Islam Nusantara juga akan dijadikan wisata edukatif untuk anak-anak. ”Harapannya, dengan hanya dua jam berwisata bisa mengenal huruf hijaiyah,” ujarnya.

Kata dia, butuh waktu beberapa bulan untuk menyusun konsep ini, sebelum diikutkan lomba. Selain itu, ia bersama tim lain juga perlu berkoordinasi bersama tokoh masyarakat setempat. ”Mereka welcome,” katanya.

Konsep sudah tersusun. Mereka harus bersaing bersama ratusan desa-desa lain se-Indonesia. Saat ini, Desa Karangturi masuk sebagai finalis 20 besar. Finalis itu, terbagai beberapa kategori. Salah satunya wisata budaya. Desa Karangturi masuk di dalamnya.

Menurut Nurohman, konsep Dewi Linusa ini bisa lolos karena memenuhi indikator sebagai wisata budaya. Ada beragam tempat dengan corak khas yang menggambarkan nusantara. Selain itu, juga memiliki atraksi budaya seperti pertunjukan barongsai. Bahkan, di desa ini juga ada seorang seniman jaran kepang yang sudah mempunyai nama di luar daerah.

Setelah dinyatakan sebagai finalis, dalam setahun ke depan akan mendapatkan pendampingan. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya